Bianca

Bianca
Bianca -> Empat Puluh Lima


__ADS_3

Bermodalkan tekad dan restu dari Averyl dan Eduard kini Bianca memacu kecepatan mobilnya membelah jalanan. Sampai di kota tempat tinggalnya Bianca memarkirkan mobilnya di pusat perbelanjaan. Bianca ingin membeli ponsel baru. Selesai membeli ponsel baru Bianca menghubungi Luisa. “Halo, ka,” sapa Bianca begitu teleponnya tersambung.


[Ada apa Bianca?]


“Reagan masih di kantor?” tanya Bianca tanpa basa-basi.


[Tidak, Reagan pulang. Sepertinya tidak enak badan.]


Rasa khawatir itu muncul begitu saja. “Kirim alamat rumah Reagan sekarang ya ka.”


[Oke]


Bianca menutup teleponnya, beruntung Luisa menjadi sekretaris Reagan. Bianca jadi tidak perlu repot-repot mencari informasi.


Setelah mendapatkan pesan berisikan alamat Reagan Bianca kembali melanjutkan perjalanannya. Sampai di rumah Reagan Bianca cukup takjub, ia keluar dari dalam mobilnya. Mengeluarkan koper berwarna merah muda yang ia bawa lalu berjalan menuju pintu utama. Saat hendak menekan pintu bel perhatian Bianca teralihkan saat mendengar suara mobil.


Tubuh Bianca berbalik ia senang bukan main melihat Reagan yang turun dari mobil, Bianca berjalan mendekati Reagan. Dengan lancangnya Bianca mengecup bibir Reagan lalu memeluknya dengan erat. “Aku sangat merindukanmu,” ucap Bianca kegirangan hingga suaranya terdengar seperti teriakan.


“Lepaskan Bianca.”


Ucapan tegas milik Reagan tak di indahkan sedikit pun oleh Bianca. Ia tetap memeluk tubuh Reagan sangat erat, setelah sekian lamanya menahan rindu Bianca merasa bisa melepaskan dengan bebas dan mencium aroma Reagan yang terasa menyegarkan.

__ADS_1


Reagan menjauhkan tubuh Bianca. “Jangan membuatku jengkel Bianca!”


Mendengar nada keras dari Reagan akhirnya Bianca memilih melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak sedih dan berlinang air mata. “Aku adukan pada Daddy,” ucap Bianca dengan nada merajuk.


“Aku tidak peduli, malah itu lebih bagus.” Reagan berjalan masuk ke dalam rumah.


Bianca memandang kepergian Reagan, namun matanya menangkap seorang perempuan yang ternyata sedari tadi berada di antara dirinya dan Reagan. Bianca menatap ke arah wanita yang tidak ia kenal dengan tatapan penuh selidik dan menunjukkan rasa tidak sukanya.


Bianca memperhatikan wanita itu yang berjalan pergi mengikuti Reagan. Bianca menarik koper yang ia bawa untuk menyusul, namun ia kembali berpapasan dengan wanita itu. Dari penampilan wanita itu Bianca mencoba menebak. “Kau asistennya Reagan?”


“Iya.”


Jawaban wanita tersebut terdengar sangat singkat dan dingin.


“Kau boleh pergi, titip salam pada kakakku Luisa. Informasinya sangat akurat,” ucap Bianca.


Melihat anggukan dari wanita itu Bianca berjalan mencari keberadaan Reagan.


Bibir Bianca tersenyum saat melihat pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Bianca masuk ke dalam dan mendapati Reagan.


Bianca melemparkan tas selempang miliknya ke lantai, seolah membuang barang yang tidak berharga yang berisi ponsel keluaran terbaru yang ia beli.

__ADS_1


Dari yang Bianca dengan kalau Reagan suka perempuan, dan ia harus menjadi wanita yang agresif demi memuaskan Reagan. Bianca berjalan mendekati Reagan yang berbaring di tempat tidur, tangan lentik Bianca meraba rahang Reagan bergerak ke lehernya.


“Bisakah kau pergi Bianca, aku sedang ingin beristirahat.”


Bianca meraba dahi Reagan yang sedikit panas, namun bau keringat yang ada di tubuh Reagan membuatnya tidak bisa menahan diri. Bianca sangat merindukan Reagan. Bianca naik ke atas tubuh Reagan yang tengah berbaring. Matanya menatap manik milik Reagan. Ia melihat sorot mata yang lain dari biasanya, terlebih lagi Bianca melihat wajah datar Reagan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Namun Bianca sangat ingin mendapatkan Reagan kembali. Dengan cara apa pun akan Bianca lakukan.


“Kau bisa beristirahat setelah melakukan kegiatan panas kita,” ujar Bianca. Tangannya membuka satu persatu kancing Reagan.


Reagan menahan tangan Bianca. “Berhenti Bianca.”


Bianca menghentikan gerakan tangannya. “Kenapa?” tanya Bianca dengan suara pelan.


“Aku bukan Reagan yang kamu kenal seperti dulu,” jujur Reagan. Ia sangat senang melihat kehadiran Bianca namun ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.


“Aku tidak peduli,” jawab Bianca. Ia lebih dulu menc’ium bibir Reagan melepaskan kerinduannya. Apa yang tidak bisa ia lakukan dengan Adnan terasa sangat mudah jika di lakukan dengan Reagan.


***


Reagan terbangun dengan kepalanya yang terasa sedikit berdenyut, ia melihat tubuh polos Bianca di sampingnya. Tangan Reagan menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi asistennya. “Batalkan acara ke luar kota, atur ulang jadwalnya.”


[Baik Tuan.]

__ADS_1


Reagan segera menutup teleponnya dan kembali menyimpan ponselnya. Pandangannya tertuju pada wajah damai Bianca. Rasa senang itu terasa sangat jelas dalam wajah Reagan. Jemari tangannya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Bianca. “Maafkan aku,” suara Reagan terdengar seperti bisikan.


__ADS_2