Bianca

Bianca
Bianca -> Empat Puluh Enam


__ADS_3

Bianca terbangun dari tidurnya, bibirnya tersenyum saat melihat di depan wajahnya ada Reagan yang tengah memperhatikan. “Maaf aku ketiduran,” ucap Bianca dengan nada penyesalan.


“Ah aku lupa. Apa demamnya masih?” Bianca segera menempelkan punggung tangannya di kening Reagan. “Tidak terlalu panas, tapi masih terasa hangat,” ujar Bianca menjawab pertanyaan dirinya sendiri.


Reagan hanya terdiam memperhatikan setiap gerakan dan ucapan Bianca. Setelah tujuh tahun lamanya tidak bertemu dengan Bianca, rasanya seperti mimpi yang nyata.


Merasa di perhatikan Bianca menatap Reagan serius. “Kenapa memandangiku seperti itu?”


“Kamu terlihat lebih cantik sekarang.”


Pujian Reagan berhasil membuat pipi Bianca memanas, menimbulkan rona merah. Ia merasa jadi salah tingkah mendapat pujian dari Reagan. “Sejak kapan kamu jadi pintar memuji seperti itu?” tanya Bianca berusaha menormalkan suaranya, meskipun ia sangat girang namun rasanya memalukan.


Reagan mengelus pipi Bianca yang tampak merona. “Aku mandi duluan ya.”


Jantung Bianca berdebar cukup kencang dan tak bisa kembali normal meskipun tubuh Reagan sudah hilang di balik pintu. ‘Aaaa kenapa Reagan semakin mempesona,’ batin Bianca menjerit. Saking senangnya Bianca mengambil bantal guling dan memeluknya sangat erat. Ia tidak pernah menyangka akan sedekat ini dengan Reagan.


Reagan membersihkan tubuhnya dengan perasaan campur aduk, ada beberapa hal yang mengganjal di hatinya. Namun ia mencoba menepisnya lebih dulu, waktu bersama Bianca tidak akan pernah terulang berkali-kali, dan ia sangat ingin menikmati momen langka ini.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya dan berpakaian Reagan keluar dan melihat Bianca yang masih berada di atas tempat tidur tertutup selimut. Tampaknya sangat fokus pada ponselnya. “Aku tunggu di ruang makan.”


Bianca mengalihkan perhatiannya dari ponsel, ia melihat ke arah Reagan. “Iya aku mandi dulu,” jawab Bianca. Setelah memastikan Reagan keluar dan menutup pintu kali ini Bianca yang berjalan ke kamar mandi dengan tubuh polosnya tanpa tertutup kain sehelai pun.


Dalam beberapa menit, Bianca keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Dia memakai pakaian yang sederhana tapi elegan, menunjukkan kecantikan alaminya. Bianca keluar dari kamarnya, ia berjalan ke belakang. Ia bisa melihat Reagan yang tampak duduk.

__ADS_1


Bianca ikut duduk di samping Reagan, menu makan malam Reagan sangat simpel. “Kita hanya makan ini?”


“Mau yang lain?” tanya Reagan. Ia memang sedang mengatur pola hidup sehat. Makan malamnya hanya salad dan dada ayam panggang tanpa kulit.


“Pizza,” ucap Bianca dengan wajah berbinar.


“Itu tidak bagus,” tolak Reagan. Ia memilih menikmati makan malamnya yang sedikit terlambat akibat tidur terlalu lama.


Wajah Bianca tampak muram, ia memandang menu makan malam tanpa berselera.


Melihat wajah murung Bianca membuat Reagan sedikit iba, namun ia tak ingin Bianca makan makanan yang tidak sehat di malam hari. Reagan memotong dada ayam panggang dan menusuknya dengan garpu lalu menyuapi Bianca.


Awalnya Bianca ingin menolak namun karena rasa lapar di perutnya, ia memilih untuk membuka mulut mencoba menikmati suapan dari Reagan. Rasanya tidak begitu buruk namun bukan makanan kesukaan Bianca.


Bianca mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Reagan.


“Kalau begitu habiskan,” ujar Reagan ia kembali menikmati makan malamnya. Namun sampai makanannya hampir habis Bianca masih berdiam di posisinya makanan di atas piring milik Bianca masih utuh.


“Kenapa tidak di makan?”


Bianca menampilkan senyuman malu-malunya, “Mau di suapi,” pinta Bianca dengan mata penuh harapan.


“Kamu kan punya tangan dan bisa makan sendiri,” tolak Reagan secara halus.

__ADS_1


“Iya tapi tanganku pegal sekali setelah seharian menyetir,” Bianca memberikan alasan agar dapat makan di suapi oleh Reagan.


Reagan memilih mengalah dan menyuapi Bianca. Sejujurnya ia sedikit merasa risi di tatap terus menerus oleh Bianca. Rasanya sangat aneh.


Bianca menerima suapan demi suapan yang di berikan Reagan dengan hati gembira tak menyangka Reagan akan menurut dengan mudah seperti ini.


“Aku mau minum,” rengek Bianca.


“Kamu-“


Dengan cepat Bianca memotong ucapan Reagan. “Tanganku pegal sekali aduuh,” keluh Bianca dengan wajah penuh penderitaannya.


Reagan menghela nafasnya, dan membantu Bianca untuk minum. “Sikap manjamu tidak hilang ternyata, padahal kamu bukan anak kecil lagi,” sindir Reagan.


Bianca mengerucutkan bibirnya. “Reagan jangan mulai deh,” ketus Bianca kesal.


“Tapi kan ini sebuah fakta yang nyata,” jawab Reagan dengan entengnya.


Bianca memalingkan wajahnya menunjukkan kekesalannya. Ia berharap mendapat permintaan maaf atau bujuk rayu dari Reagan. Tapi yang Bianca dengar malah derap langkah yang menjauh dari ruang makan.


Bianca merasa sulit, ia tak pernah berpikir Reagan akan sangat dingin seperti ini dan begitu menyebalkan. Namun menyerah bukan solusi. Bianca berlari menyusul ke kamar, namun saat masuk ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Reagan. ‘Reagan ke mana ya?’


Bianca keluar dari kamar mencari keberadaan Reagan sembari meneliti rumah yang di tempati Reagan. Terasa sangat sepi, bahkan tak ada asisten rumah tangganya yang berlalu lalang. Bahkan makan malam pun tersaji di atas meja tanpa ada seorang pun yang melayani mereka. Bianca berpikir jika Reagan sangat menjaga privasi dirinya, seketika pikiran buruk Bianca muncul begitu saja. Membayangkan Reagan sering membawa wanita ke dalam rumah dan bercinta di mana saja.

__ADS_1


Hati Bianca sakit oleh pikiran negatif dirinya sendiri. Desas desus bahwa Reagan sering bergonta-ganti wanita saja sudah membuat hati Bianca memanas, apalagi kegiatan malamnya tadi Reagan bersikap agresif dan Bianca membayangkan hal itu terjadi pada wanita lain juga. Rasanya Bianca ingin menangis, menahan rasa cemburu yang begitu menyakitkan hatinya.


__ADS_2