Bianca

Bianca
Bianca -> Empat Puluh


__ADS_3

Sudah hari kedua Bianca dirawat. Namun Fiona merasakan hal yang lain dari Bianca, putrinya itu terlihat banyak melamun dan tak banyak berbicara.


Fiona duduk di samping Bianca, ia mengelus puncak kepala Bianca dengan penuh kasih sayang. “Hari ini Bianca sudah boleh pulang, kita pergi ke rumah Oma ya,” ucap Fiona dengan nada lembut berusaha membujuk Bianca.


Bianca terdiam, namun mengerti dengan betul ucapan Fiona. Bukan untuk mengunjungi Oma dan Opa, tapi Bianca di paksa untuk tinggal di sana agar menjauh dari Reagan. Namun Bianca tak banyak bicara, dia berpikir untuk jalan selanjutnya yang akan ia ambil.


Fiona dan Bianca menengok ke arah pintu yang terbuka, wajah khawatir Filio dan istrinya Sahira cukup kentara. Namun mereka memasang senyuman dan menghampiri Bianca.


“Bagaimana kabar keponakan om?”


Bianca menampilkan senyuman tipis pada Filio.


“Keadaannya sudah membaik, bahkan Bianca boleh pulang,” jawab Fiona mewakili Bianca yang tak kunjung bicara.


“Syukurlah kalau sudah membaik.” Ada perasaan gelisah dalam diri Filio. Dia tak bisa banyak membantu Reagan, terlebih Fiona tak memberikan restu. Andai saja kandungan Bianca masih ada, mungkin Filio yang akan maju paling depan untuk menentang sikap Fiona, namun Reagan terlambat. Ia memberitahu setelah Bianca keguguran.


Sahira mendekati tempat tidur Bianca, ia menggenggam erat tangan Bianca. Memberikan kekuatan lewat pegangan tangannya serta tatapannya.


Merasakan hal itu Bianca rasanya ingin menangis, namun ia berusaha menahannya untuk terlihat baik-baik saja di depan semua orang.

__ADS_1


Fiona, Ignazio dan Filio tampak berbincang mengenai perusahaan sementara Sahira duduk menemani keponakannya.


“Reagan ke mana Tante?”


Sahira tersenyum dengan tatapan penuh selidik, ia mencubit pipi Bianca dengan gemas. “Reagan ada di rumah, sedang uring-uringan karena Bianca tidak mau bertemu dengannya.”


Bibir Bianca tersenyum mendengar penuturan Sahira. “Jadi Reagan tidak mau ikut?” tanya Bianca.


Sahira mengangguk. “Iya waktu Tante sama om ajak jenguk Bianca jawabnya begini. Reagan enggak ikut, percuma ikut juga. Bianca nya tidak mau bertemu Reagan,” ucap Sahira mempraktikkan ucapan ketus Reagan.


Bianca merasa terhibur, bibirnya mengembang melihat ekspresi Tante Sahira.


Bianca menggerakkan tangannya memberi kode agar Sahira mendekat.


“Bianca enggak boleh pegang ponsel sama Mommy, Tante Sahira suruh Reagan ke sini ya,” pinta Bianca dengan suara berbisik.


Wajah memohon Bianca membuat Sahira tersentuh, ia pikir Bianca benar-benar marah pada Reagan. Tapi ternyata tidak. Ada perasaan tenang yang menyelimutinya, ia sudah sangat khawatir melihat Reagan uring-uringan dalam mode galau.


Reagan duduk sendirian di kamarnya, memandangi jendela dengan tatapan kosong. Pemandangan luar tampak samar-samar, karena pikirannya tenggelam dalam kegelisahan yang mendalam.

__ADS_1


Dia merasa tak berdaya, tidak mampu melindungi Bianca dari penderitaan. Setiap detik terasa seperti beban berat di pundaknya, mengingatkannya pada saat-saat mereka berdua bersama. Belum lagi ia teringat akan gumpalan darah kecil yang di tunjukkan ayahnya, darah dagingnya yang kini telah hilang sesuai keinginannya. Namun rasanya sangat berat, dan begitu menyakitkan.


Reagan menghela nafasnya dalam-dalam, mencoba mengendalikan rasa kecewanya. Ia terkejut ketika menerima pesan dari ibunya yang meminta dia segera datang ke rumah sakit atas permintaan Bianca. Tanpa ragu, Reagan segera bersiap-siap dan memacu mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi.


Reagan melintasi lampu merah dengan hati-hati, tapi kecepatan mobilnya tetap tinggi. Setiap sudut dan tikungan jalanan diambilnya dengan percaya diri.


Saat akhirnya ia tiba di rumah sakit, Reagan meninggalkan mobilnya dengan tergesa-gesa dan berlari menuju pintu masuk. Ia tak sabar untuk bertemu dengan Bianca dan memastikan bahwa semua akan baik-baik saja.


Sampai di depan ruangan Bianca, tangan Reagan merogoh ponselnya yang ada di dalam saku untuk menghubungi Ibunya. “Reagan sudah di depan Bu.”


Sahira yang sedang menemani Bianca segera berjalan menuju pintu. “Ayo masuk,” ucap Sahira. “Ibu tunggu di luar ya.”


Reagan memberanikan diri melangkahkan kakinya masuk ke dalam, ia bisa bernafas lega saat tak melihat siapa pun di dalam selain Bianca.


Bianca duduk di tempat tidurnya menghadap ke arah pintu dan langsung bertemu pandang dengan Reagan.


Reagan masuk dan berdiri di samping tempat tidur Bianca. Mereka saling pandang beberapa saat.


“Reagan, bayi kita...” suara Bianca terdengar bergetar, dan ia tidak mampu melanjutkan ucapannya. Air mata mengalir dengan deras di pipinya, mengisyaratkan kepedihan yang tak terucapkan.

__ADS_1


Reagan merasakan kehancuran yang melanda hatinya saat mendengar kata-kata Bianca yang terputus. Dia segera menggapai tubuh Bianca dan memeluknya erat-erat, mencoba memberikan dukungan dan kehangatan yang ia mampu.


Tangis mereka menyatu dalam pelukan itu, sebagai penanda dari luka yang mereka rasakan bersama. Reagan bisa merasakan kerapuhan Bianca dalam genggaman tangannya, dan ia berusaha menguatkan dirinya sendiri untuk memberikan kekuatan kepada Bianca.


__ADS_2