Bianca

Bianca
Bianca - Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Bianca sudah puasnya menangis sendirian di dalam kamar mandi milik Adnan, ia memeluk lututnya sendiri. Air matanya sudah mengering sempurna, ia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa melupakan Reagan.


Bianca memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Ia mengendap-endap keluar dari dalam kamar mandi, setelah memastikan tidak ada tanda-tanda keberadaan Adnan ia baru berani melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.


Tangan Bianca memungut bajunya yang berserakan ia segera memakainya lalu melarikan diri. Ia berlari menuju tempat mobilnya terparkir dengan perasaan bersalah.


Bianca melajukan mobilnya dengan perasaan campur aduk, matanya melirik ke arah ponselnya. Berharap Adnan menelepon dan Bianca ingin meminta maaf telah membuatnya kecewa. Namun setengah jam berlalu hingga mobil Bianca sampai di rumah Dwi.


Bianca turun dari mobil dengan perasaan hampa, kakinya melangkah pelan menuju pintu utama rumah Dwi. Ia menekan bel tanpa rasa semangat.


Dwi yang sedang bersantai segera membukakan pintu untuk tamu yang tak di undang, begitu pintu terbuka wajah lesu Bianca menyambut pemilik rumah. “Melarikan diri lagi?” tanya Dwi. Tangannya membuka lebar-lebar pintu mempersilahkan Bianca masuk.


Kaki Bianca masuk ke dalam, ia segera menuju dapur Dwi. Mengambil minuman beral’kohol lalu menenggaknya.


Dwi menghembuskan nafas melihat Bianca yang kembali melarikan dari masalah yang di hadapinya. “Sekarang apa lagi?” tanya Dwi mencoba memancing Bianca agar berbicara.


Bianca duduk di hadapan Dwi, tangannya masih memegang botol minuman yang baru satu perempatnya ia tenggak. “Gue bikin Adnan sakit hati lagi Dwi.”


Dwi merebut botol minuman yang ada di tangan Bianca, dan ikut menenggak isinya. “Ya sudah lah putus saja, percuma juga. Kasihan Adnannya pacaran sama cewek bego kayak Lo!”


Ucapan ketus Dwi membuat bibir Bianca mengerucut, ia melipat kedua tangannya di atas meja lalu menelungkupkan kepala.

__ADS_1


“Jangan begini terus dong Bianca, Lo tuh jadi cewe begonya kebangetan. Reagan juga enggak peduli tuh sama Lo, mana buktinya kalau dia cinta sama Lo. Bukannya Lo bilang Reagan baik-baik saja, bahkan bergonta-ganti cewek demi memuaskan dirinya. Sekarang apa yang lo lakuin di sini, mikirin orang yang sama sekali gak mikirin Lo!” ucap Dwi dengan nada berapi-api, sebagai sahabat yang menjadi tempat keluh kesah Bianca membuat Dwi semakin kesal, sahabatnya yang satu ini sudah sekali di beritahu. Terlalu egois dan sibuk sama jalan pikirannya


Bianca tak mau menjawab ucapan Dwi, entah ke berapa kalinya ia mendengar makian Dwi namun hingga kini hati dan pikirannya tidak pernah menuruti ucapan Dwi.


Bianca termenung beberapa saat, ia tak bisa berada di titik ini selamanya. Ingin keluar dari bayangan Reagan namun tak pernah berhasil.


Kepala Bianca terangkat dan menatap Dwi dengan serius. “Gue mau kejar Reagan lagi saja ya, Dwi. Boleh?”


Bibir Dwi terangkat membentuk sebuah senyuman. “Ayo kita cari baju bagus buat goda Reagan, Lo harus tampil lebih seksi dan lebih cantik dari pada cewe yang sering dia sewa,” ujar Dewi memberikan usul.


Bianca mengangguk, ia bersyukur memiliki teman yang selalu berada di sampingnya apa pun keputusan yang di pilih Dwi tidak pernah meninggalkannya begitu saja.


Detik itu juga Dwi dan Bianca pergi ke pusat perbelanjaan, mereka memilih beberapa baju dengan model terbuka yang mengekspos keindahan tubuh wanita.


Dwi sudah merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang, sementara Bianca berselonjor kaki di lantai meneliti tumpukan paper bag berisi baju-baju yang di belinya.


Dering telepon milik Bianca menggema di ruangan ia melihat kontak milik Oma yang muncul di layar ponselnya. Bianca segera menekan tombol hijau menerima panggilan tersebut, “Iya Oma.”


[Sedang apa Bianca? Ini sudah malam kamu tidak pulang?]


Rentetan kalimat dengan nada khawatir membuat Bianca merasa sedikit bersalah telah membuat Averyl cemas. “Bianca habis berbelanja Oma, ini baru pulang. Lagi di rumah Dwi,” jawab Bianca dengan nada lesunya karena terlalu kelelahan.

__ADS_1


[Kalau begitu Bianca menginap saja di rumah Dwi, jaga kepercayaan Oma ya. Jaga diri baik-baik.]


Bianca merasa Averyl dan Fiona berbanding terbalik. Bianca bisa mendapatkan kebebasan yang di berikan Averyl, selama ia tidak pernah berbohong dan menjaga dirinya Bianca bebas melakukan apa pun yang ia inginkan.


“Iya Oma terima kasih, good night,” ucap Bianca dengan nada lembut.


[Good night.]


Sambungan teleponnya terputus, Bianca bernafas dengan lega. Ia menaruh ponselnya. Memperhatikan layar ponselnya yang tidak mendapatkan satu pesan atau panggilan dari Adnan.


Dwi yang memperhatikan wajah raut Bianca berubah mengajukan pertanyaan untuk menyingkirkan rasa penasarannya. “Mikirin Adnan ya?”


Bianca mengangguk lalu mengalihkan perhatiannya pada Dwi. “Adnan marah banget deh kayaknya,” Ucap Bianca mencoba menebak.


“Melakukan apa memangnya sampai Adnan marah?”


“Tadi tuh kan gue mau coba buat ehem, tapi pas sudah menuju pembukaan gue tinggalin ke kamar mandi,” jujur Bianca dengan wajah bersalahnya.


Dwi melemparkan bantal sofa ke arah Bianca. Dengan sigap Bianca menerima lemparan Dwi. “Salah ya?”


“Ya salah lah, pake nanya! Tu anak udah setegak harapan orang tua terus Lo tinggal begitu aja. Begaimana nasibnya coba, main sendiri?”

__ADS_1


Dengan polosnya Bianca menimpali ucapan Dwi. “Enggak kok, Adnan pergi ke supermarket. Enggak mungkin solo,” sanggah Bianca tak setuju dengan pemikiran Dwi.


Raut wajah Dwi semakin kesal mendengar ocehan Bianca. “Untung Adnan, coba kalau cowo lain. Abis Lo di per ko sa,” ketus Dwi.


__ADS_2