Bianca

Bianca
Bianca -> Lima Belas


__ADS_3

“Tapi Bianca takut Mommy marah, apalagi pulang dalam kondisi seperti ini. Yang ada Mommy semakin murka.”


“Sekarang Bianca habiskan makana dulu saja,” ujar Reagan.


Bianca mengangguk, meskipun kesal melihat perhatian Reagan yang telaten menyuapi membuat amarah Bianca hilang begitu saja. Ia menikmati momen kebersamaannya dengan Reagan sebelum akhirnya pulang.


Makanan Bianca sudah habis kini mereka tak banyak memiliki waktu. “Reagan baju Bianca basah.”


Reagan berpikir sejenak, ia teringat akan Coat dress milik Nasya yang tertinggal. Reagan mengambilnya lalu memberikannya pada Bianca.


Bianca melipat kedua tangannya di dada. “Reagan itu milik siapa kenapa ada di sini?” ucap Bianca kesal.


“Milik Nasya.”


Hati Bianca rapuh seketika mendengar jawaban Reagan yang tanpa sungkan mengatakan milik wanita lain. Bianca mengambil bantal dan memukulkannya pada tubuh Reagan. “Reagan kenapa suka sekali membawa Nasya ke apartemen, Bianca kesal. Reagan harusnya tahu kalau Bianca pacar Reagan. Tapi kenapa membawa wanita lain!” ucap Bianca dengan tangan yang terus bergerak memukulkan bantal ke arah Reagan.


Dada Bianca naik turun, amarahnya naik ke ubun-ubun. “Reagan selingkuh ya,” tuduh Bianca di akhir pukulannya.


“Iya.”


Plak! Bianca menampar pipi Reagan dengan tangannya.


Suara gelak tawa mengundang tatapan Bianca dan Reagan. Mereka bersamaan menatap ke arah pintu.


Areliano menghentikan tawanya saat di tatap oleh Reagan dan Bianca. “Cepat selesaikan urusan kalian, aku tidak punya banyak waktu.” Areliano pergi begitu saja dari ambang pintu.

__ADS_1


Bianca melihat pipi Reagan yang memerah akibat tamparannya. “Sakit tidak?” tanya Bianca.


“Tidak apa-apa, cepat pakai. Areliano akan mengantarmu.”


Saat hendak pergi meninggalkan Bianca tangannya di tarik dari belakang. Reagan membalikkan tubuhnya kembali menatap Bianca. “Ada apa?”


“Reagan selingkuh tidak?”


Reagan mencubit pipi Bianca pelan. “Ini balasan karena berani menamparku.”


Cubitan Reagan tidak sakit, namun Bianca menampilkan wajah sedihnya. Ia merasa terharu karena Reagan tidak berselingkuh, meskipun Bianca tidak dapat menghilangkan rasa cemburunya pada Nasya tapi ia percaya pada Reagan.


“Aku tunggu di luar.”


Bianca mengangguk dan membiarkan Reagan keluar dari kamar. Ia mengambil kaus polos berwarna hitam yang tampak besar, sepertinya milik Reagan. Bianca menggunakan kausnya sebagai dalaman, dengan sangat terpaksa ia memakai mantel milik Nasya untuk menutupi tubuhnya.


Bianca ke luar dari dalam kamar dan bertatapan langsung dengan Reagan. “Bianca tidak suka memakai pakaian milik Nasya,” ungkap Bianca.


Reagan mengacak puncak kepalanya Bianca. “Jika memakai jaket milikku yang ada tante Fiona marah.”


Bianca mengangguk setuju. Ia mengikuti langkah Reagan menuju ruang depan.


“Sudah siap?” tanya Areliano.


“Sudah,” jawab Bianca ia menatap Reagan sejenak, Sebetulnya ia enggan untuk terpisah.

__ADS_1


“Jaga Bianca, antarkan sampai rumah tanpa kurang satu hal pun.”


Areliano menyipitkan matanya Menatap kesal ke arah Reagan. “Merepotkan dan sangat tidak tahu diri,” sindir Areliano. Sudah baik ia meluangkan waktu untuk membantu masih saja banyak bicara.


“Paman jangan bertengkar, ayo,” ajak Bianca untuk melerai kerusuhan.


Selama di perjalanan Bianca tak banyak bicara dengan Areliano. Sesampainya di kediaman Ignazio, Areliano turun dari mobil bersamaan dengan Bianca. Ia ikut masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Fiona.


“Loh Bianca main sama Areliano?” tanya Fiona.


“Kebetulan tadi ketemu di jalan,” jawab Areliano.


Fiona memandang wajah Bianca yang tampak pucat. “Kamu pakai baju siapa itu?”


“Punya temannya ka Areliano. Baju Bianca basah soalnya.”


“Kan sudah mommy bilang jangan main hujan, kamu itu enggak bisa kena air hujan. Pasti langsung sakit.”


Bianca menghembuskan nafasnya mendengar omelan Fiona. “Iya Mom maaf.”


Areliano tidak bisa berlama-lama, ia hanya perlu memastikan Bianca pulang dengan selamat. “Kalau begitu Areliano pamit ya.”


“Iya Areliano hati-hati, terima kasih sudah mengantar pulang Bianca.” Fiona tersenyum tulus pada Areliano.


"Sama-sama."

__ADS_1


Setelah kepergian Areliano tubuh Fiona mendekat ke arah Bianca. “Kamu habis bertemu Reagan ya?”


__ADS_2