
Seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan,
"Bagaimana keadaannya Dok?"
"Maaf saya berbicara dengan siapa ya?"
"Saya Pramudya"
"Pak Pramudya, Saya Dokter Vio. Keadaan Nona Andari belum begitu baik".
"Maksudnya bagaimana Dok ya?"
"Untuk kasus penyakit nona Andari, dia butuh segera transfusi darah, apa dia baru mengalami semacam trauma atau peristiwa yang besar sehingga memicu penyakitnya?".
Prmudya terdiam, dia hanya menggeleng. Dia tidak mau menceritakan hal yang dilihatnya tadi. Bagaimana pasangan Andari memperlakukannya dengan sangat kasar.
"Maaf Pak Pramudya, apa anda mendengar yang saya katakan?" Pertanyaan Dokter Vio membuat Pramudya kembali fokus.
"Maaf Dok saya tadi sedikit kurang fokus, anda mengatakan apa ya?"
"Golongan Darah yang dibutuhkan nona Andari adalah golongan darah B, dan mesti segera dicarikan pendonor. Karena stok darah dengan golongan itu di PMI tidak ada ketersediaan".
"Golongan darah B?"
"Iya pak"
Pramudya tampak berfikir sejenak, golongan darahnya kebetulan sama dengan golongan darah yang dibutuhkan Andari.
"Apa saya bisa mendonorkan darah saya Dok?"
"Golongan darah bapak B juga?"
__ADS_1
Pramudya mengangguk.
"Baiklah, tapi sebelumnya kami harus memeriksanya dulu. Mari ikut saya keruangan pemeriksaan disebelah".
Hasil pemeriksaan menunjukkan kalau Pramudya bisa mendonorkan darahnya. Dia merasa lega, dan senang dengan hasil pemeriksaan itu. Dokter Vio meminta seorang suster untuk segera mengambil darah dari Pramudya.
"Jangan terlalu cemas pak ya, yang rileks aja" ujar suster yang bertugas mengambil darah dari Pramudya.
Pramudya hanya tersenyum dan merilekskan dirinya, Pendonoran darah darinya pun berjalan dengan lancar.
"Dua hari kemudian"
"### Hari ini anda sudah diperbolehkan pulang, karena kondisi anda sudah normal kembali". Ujar Dokter Vio kepada Andari.
"Terimakasih Dok, untuk administrasinya bagaimana?".
"Untuk administrasinya sudah ada yang menyelesaikannya, anda boleh langsung pulang".
"Iya, orang yang mengurus semuanya adalah orang yang membawa anda kesini".
"Siapa Dok?" Andari semakin penasaran.
"Bapak Pramudya". Jawab Dokter Vio
"Pramudya??".
"Dia bilang, kalau dia bekerja di apartemen tempat anda tinggal".
Andari terdiam dan berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum dia pingsan, ingatannya terfokus kepada pegawai kebersihan yang berusaha membujuknya untuk tidak bunuh diri. ("Apa dia Pramudya?") Tanyanya dalam hati.
"Dia bahkan bersedia mendonorkan darahnya untuk anda".ujar Dokter Vio.
__ADS_1
"Mendonorkan darahnya?" Andari menjadi terkejut dengan perkataan Dokter Vio.
"Iya, kebetulan juga golongan darahnya sama dengan golongan darah anda".
Andari tertegun, dia menjadi teringat sikapnya yang selama ini memandang sebelah mata ke Pramudya. Bahkan dia tidak pernah sekalipun membalas keramahan darinya, dan sekarang takdir membuatnya tersadar atas segala keangkuhan yang dilakukannya.
"Terimakasih atas informasinya Dok". Hanya itu jawaban yang bisa keluar dari Andari.
Dokter Vio mengangguk,
"Tiga hari lagi anda kembali kesini untuk check-up".Dokter Vio mengingatkan.
"Baik Dok".
Setelah menandatangani surat untuk kepulangannya dari Rumah sakit, Andari bergegas pergi menuju apartemen untuk menemui Pramudya.
Andari mencari informasi tentang keberadaan Pramudya yang tidak bisa dia temukan disetiap lantai. Tinggal lantai paling atas yang belum dia cek, dia berharap Pramudya berada di lantai itu. Dari informasi dikantor dasar apatemen, Hari ini Pramudya masuk kerja.
Andari membuka pintu yang menuju lantai paling atas. Dia melihat Pramudya yang duduk sendiri dan melamun, kehadiran Andari sama sekali tidak disadarinya.
Pramudya sebenarnya tau kalau hari ini adalah hari dimana Andari diperbolehkan untuk keluar dari Rumah sakit. Namun dia tidak berani untuk menemui wanita yang ditolongnya tersebut. Baginya,mengetahui keadaan Andari yang membaik membuatnya sudah sangat senang. Lagipula dia tidak mau membuat Andari malu dengan kehadirannya di rumah sakit.
Setelah jarak Andari semakin dekat dengan Pramudya, dia memegang pundak kiri Pramudya. Hal itu sebagai tanda awal perkenalannya dengan Pramudya. Merasa ada seseorang yang memegang pundaknya,Pramudya melihat kearah belakang. Seraut Wajah cantik dan senyuman yang tulus dari Andari menyapanya.
Pramudya membalas senyuman Andari dengan mengangguk dan tersenyum pula.
End of Chapter 1 (Andari)
(Lovely Andari)
__ADS_1