
---NELANGSA---
page 25
Perumahan Saint Regis blok I
Amara merasakan langkahnya teramat berat, dia seperti memakan buah simala kama. Pilihan yang sulit, seperti seorang pencuri yang bergelut dengan hati nurani
Keringat dingin membasahi tengkuknya, namun dengan keberanian yang tersisa dia menekan bell didepan rumah Bagas. Bunyi bell mengeluarkan suara nyaring, keberanian yang tersisa tiba-tiba lenyap darinya. Amara memutuskan untuk pergi dengan cepat sebelum Bagaskara keluar dari rumah.
Langkahnya untuk pergi masih kalah cepat dengan Bagas yang sudah lebih dahulu keluar rumah dan melihatnya.
"Amara" ujar Bagas memanggilnya
Amara menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kearah Bagas yang menatapnya.
Dia lalu melangkah perlahan menghampiri Bagas. Setelah keduanya saling berhadapan Amara berusaha untuk tetap terlihat tenang dan membuka percakapan
"Aku kebetulan lewat dan ingin mengembalikan kameramu".
__ADS_1
Ekspresi Bagas terlihat datar tanpa berkata apapun dengan perkataan Amara, dia melihat kearah hand bag kain yang dibawa Amara.
Amara menyerahkan hand bag kain itu dan Bagas melihat isi dari hand bag itu, kamera pocket pemberiannya untuk Amara 7 tahun yang lalu. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu Gas, aku meminta maaf karena sudah pergi".
"Kamu tidak perlu berkata seperti itu Amy" (Amy adalah panggilan Bagas untuk Amara)
"Tolong biarkan aku menyelesaikan kata-kataku Gas"
"Sungguh Amy kamu tidak perlu mengatakan apapun".
"Aku sudah menunggu begitu lama untuk kesempatan ini jadi biarkan aku menyelesaikannya" jawab Amara.
Bagas mengalah dan diam untuk mendengarkan perkataan dari mantan kekasihnya.
Bagas masih tetap diam dan hanya tersenyum datar, dia menjadi pendengar yang baik untuk Amara dan membiarkannya terus berbicara tanpa menyela sampai Amara selesai berkata-kata.Dengan suara tercekat Amara kembali melanjutkan perkataannya "Aku datang kesini sebenarnya untuk memberitaumu Maafkan aku karena meninggalkanmu tanpa mengucapkan selamat tinggal, aku minta maaf karena tidak bisa melanjutkan hubungan ku denganmu,aku juga minta maaf karena tidak pernah menanyakan kabarmu,Maaf karena aku menjadi seperti ini.Aku minta maaf karena tidak pernah minta maaf padamu". Amara menghentikan ucapannya karena merasa bersalah dan menundukkan pandangannya dari Bagas yang kali ini tersenyum tanpa ekspresi datar."Bisakah kamu mencaci atau memarahiku sekarang?aku merasa lebih buruk kalau kamu malah diam".
Bagas tersenyum dan berkata " Aku senang bertemu denganmu, bagaimana aku bisa marah denganmu Amy?".
Amara tidak menyangka dengan sikap Bagas yang terlihat normal dan tidak memarahinya, tidak ada dendam di matanya semua terlihat normal tanpa terjadi apa-apa. Padahal kalau dia berada di posisi Bagas dia pasti akan mencaci maki Bagas habis-habisan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu membuatkanku sup ayam makaroni andalanmu. Aku sudah lama dan rindu untuk mencicipinya".Ujar Bagas. Amara mengangguk dengan perasaan haru ternyata sampai detik ini masakan andalannya itu masih dirindukan oleh bagas.
Amara masuk kedalam rumah Bagas tidak banyak yang berubah, hanya beberapa furniture yang sudah berganti dan cat dinding berwarna abu-abu yang dulunya putih dan dapur yang terlihat modern
"kamu tunggu diruang tengah, aku akan menyiapkan bahan-bahannya" ujar Bagas.
Amara memperhatikan sebuah sofa yang masih terlihat habis ditiduri seseorang karena terdapat selimut dan bantal yang masih belum dirapikan. "Apakah ibumu tinggal denganmu Gas?"
"Tidak dia tidak tinggal denganku".
Amara baru saja duduk dan menyalakan Tv ketika seseorang yang baru keluar dari kamar Bagas menegurnya dengan ramah.
"Amara ya?"
Amara menjadi terkejut dan segera berdiri melihat seorang wanita cantik yang menegurnya.
"Amy aku lupa mengenalkan Meylan' Ujar Bagas yang baru keluar dari dapur.
"Senang bertemu denganmu'Bagas selalu menceritakan tentang mu Amara. Akhirnya aku bisa bertemu dengan tokoh sejarah" ujar Meylan
__ADS_1
"Astaga! aku pasti dari zaman kegelapannya Bagas" jawab Amara yang mendadak menjadi canggung.
Meylan hanya tertawa kecil mendengar jawaban Amara.