Bitter Sweet Symphony

Bitter Sweet Symphony
Chapter 4 "Bukan Rahasia"


__ADS_3

Amara merasa kalau Arya seperti tidak memperdulikan kehadirannya beserta ketiga teman lainnya yang dengan tulus menjenguk Arya yang harus opname selama beberapa hari karena sakit (Cedera), segera menyusul Arya yang keluar dari ruangan untuk pembesuk pasien.Dengan perasaan heran dan kesal Amara menegur Arya yang malah terlihat asyik duduk berdua dengan seorang cewek yang sebaya dengannya.


"Aryaa?? Kami udah mau pulang nih...kamu malah duduk disini dengan orang lain" Amara terlihat cemberut.


"Oohh..Maaf..maaf..., ya udah kalian hati-hati". Jawab Arya dengan santai tanpa merasa kalau hal yang dilakukannya itu kurang pantas. Paling tidak dia seharusnya berdiri menghampiri Amara dan masuk kembali keruang pembesuk dimana ketiga temannya yang lain berada.


Arya tetap duduk dan melambaikan tangannya.


"Pakaian ganti dan makanan untukmu sudah aku siapin" Ujar Amara yang walaupun dengan nada kesal namun tetap berusaha menunjukkan kepeduliannya kepada Arya.


"Ok..ok..aku mengerti, ya sudah pergi sana". Sahut Arya


"Pergi sana???, kamu itu memang nyebelin!!" Amara semakin kesal dan langsung pergi meninggalkan Arya dengan melengos kesal.


Arya malah lebih terfokus dengan cewek disebelahnya yang sedari tadi menarik lengan baju Arya mencegah Arya untuk berdiri dan menghampiri Amara. Cewek itu adalah Sherly.

__ADS_1


Malam harinya


Arya menuruti kemauan Sherly untuk keluar secara diam-diam dari rumah sakit menuju sebuah taman didekat rumah sakit. Setelah melihat keadaan yang sepi dan memungkinkan mereka untuk bisa keluar tanpa ketahuan. Mereka pun lalu menyebrang jalan utama dengan tergesa-gesa. Arya menggandeng tangan Sherly dengan erat ketika menyebrang jalan. Sherly menanggapi hal itu dengan sangat senang dan kagum. Baru kali ini dia merasakan perhatian dari seorang cowok. Setelah sampai ditaman itu, mereka lalu duduk dibangku kayu yang diperuntukkan hanya untuk dua orang saja. Disamping bangku-bangku kayu tersebut yang jumlahnya ada sembilan buah dan mengelilingi taman tersebut sebenarnya terdapat lampu taman yang menerangi,Namun bangku tempat Arya dan Sherly duduk lampu taman didekatnya tidak menyala dan belum diganti.Sehingga pencahayaan disekitar mereka hanya berasal dari lampu taman dari bangku lain, Temaram dan tidak terlalu terang.Hanya beberapa bangku yang terlihat diduduki, Untuk beberapa saat mereka tampak terlihat kaku, ketika Sherly mendekat dan tampak fokus melihat keatas, Arya yang penasaran dan bingung ikut melihat keatas yang saat itu terlihat gelap tanpa bintang. Hanya Bulan Sabit yang terlihat menerangi langit yang gelap. ("Alamak..Mau lihat bulan rupanya") guman Arya dalam hati.Setelah menyadari alasan Sherly mengajaknya keluar jalan-jalan ke taman ini.


Tanpa sengaja ketika dia melihat kearah Sherly, Wajah mereka hampir bersentuhan karena saking dekatnya. Mata mereka saling beradu pandang, Sherly bahkan menatap Arya tanpa berkedip. Jantung Arya terasa berdegup kencang ditatap sedemikian rupa oleh Sherly. Dia merasa seperti seorang kekasih yang ingin mencium bibir Sherly. Arya menyadari fikiran nakalnya, menjadi gugup dan menjauhkan wajahnya dari Sherly.


Sherly terlihat bingung dengan sikap Arya.Dia lalu mengeluarkan buku dan pulpen dari tas kecilnya, Menulis sesuatu dan memperlihatkannya ke Arya.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Aku ingin segera keluar dari rumah sakit, Kalau Kamu ingin Apa Sher?"


"Rahasia" Tulis Sherly, Dia lalu meletakkan jari telunjuk dibibirnya dengan tersenyum.


"Ra-ha-sia?" Tanya Arya

__ADS_1


Sherly mengangguk dan tersenyum kembali. "Kenapa harus rahasia sih??" gerutu Arya.


Sherly hanya tertawa kecil melihat Arya yang terlihat bingung dan penasaran.


"Ma-u ba-lik?" tanya Arya, dia merasa tidak enak karena hari sudah menjelang larut malam.


Sherly yang mengerti ucapan Arya menggeleng dengan keras menolak ajakan Arya untuk kembali kerumah sakit.


"Eh..Tapi kan..?" Arya tampak bingung dan melihat kesekeliling taman. Tidak tampak orang lain lagi ditaman itu selain mereka berdua. Sherly mendekatkan posisi duduknya ke Arya dan menatap Arya tanpa berkedip. Arya menjadi sedikit gugup ketika melihat Sherly menatapnya, dia sedikit memalingkan wajahnya. Namun Sherly tidak sedikitpun mengalihkan tatapannya yang tajam namun teduh. Arya memberanikan diri untuk mengelus rambut Sherly, dan mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Sherly. Namun sorotan cahaya dari lampu senter dan sebuah teguran keras mengagetkan Arya.


"Kalian sedang Apa???".


To Be Continue


__ADS_1


"Amara Tungga Dewi Appearance"


__ADS_2