Bitter Sweet Symphony

Bitter Sweet Symphony
--Bitter Sweet Symphony-- Fifth Chapter (Lara Hati)


__ADS_3

CHAPTER "Cantik"


Page: 33


"Satu bulan sebelumnya"


Kantor Aviation Flight Charter


"### Kalau dalam waktu 3 bulan kedepan kita belum juga mendapatkan client, tampaknya aku harus merumahkan beberapa karyawan Dev". Ujar Direktur Han curhat.


"Kan sales powernya masih bisa diandalkan, Nadya pasti bisa mendapatkan client dalam waktu dekat, kamu jangan khawatir Han"jawab Deven.


"Semoga saja begitu, persaingan dibisnis ini akhir-akhir ini sangat ketat sekali".


"Jangan terlalu pesimis begitu Han, pasti ada jalan". Deven berkata dengan santai. Direktur Han selain atasannya juga merupakan sahabat dekat Deven,itu karena mereka berdua yang merintis usaha penyewaan pesawat jet pribadi. Han punya modal dan Deven mempunyai skill dalam menerbangkan pesawat dan administrasi.


Direktur Han baru saja hendak menyalakan rokoknya dan mengurungkan niatnya untuk merokok, ketika tiba-tiba Nadya datang dan mengerutu melihat Deven merokok dengan santainya didalam ruangan yang ber-Ac tersebut. "Sudah dibilang jangan merokok didalam ruangan ber-Ac, menjadi perokok pasif seperti aku ini lebih berbahaya daripada perokok aktif!".


"Berarti aku memilih pilihan yang tepat menjadi perokok aktif" jawab Deven cuek dan tetap merokok. Direktur Han hanya diam dan buru-buru memasukkan kotak rokok kedalam saku bajunya. Dia tidak mau juga kena semprot dengan gerutuan Nadya yang notabene karyawannya.Karena hal yang diprotes Nadya memang hal yang wajar dan benar. "Ada tamu untuk Kapten Deven" ujar Nadya.


"Tamu??".tanya Deven memastikan perkataan Nadya. "Iya, dia bilang temannya kapten Dev".


"Temanku??, temanku yang mana??" Tanya Deven yang bingung dan penasaran.


"Mana aku tau kapten Dev?" Nadya menjawab sewot.


Nadya menoleh kearah ruangan Deven dimana tamu yang dimaksud olehnya menunggu. Direktur Han dan Deven ikut melihat kearah ruangan tersebut dengan wajah penasaran.


Deven segera menemui tamu yang menunggu diruangannya, Seorang wanita berparas cantik yang sebaya dengannya. Parfum yang dipakai wanita itu sangat lembut dan menyegarkan.


"Sudah lama kita tidak bertemu ya, sangat sulit untuk menemukanmu, aku sempat meragukan informasi yang kudapat. Tapi syukurnya informasi itu memang benar adanya". Ujar Wanita itu ketika melihat Deven.

__ADS_1


"Apa kabarmu Dev?" Tanya wanita itu.


Deven tertegun sesaat, dan terus mengingat siapa sebenarnya wanita cantik dihadapannya.


"Maaf nyonya, tapi anda siapa ya?" Tanya Deven. "Eeee...Kamu benar-benar nggak tau siapa aku?" Ada nada yang kaget dan tidak enak tersirat dari wanita itu karena sok akrab dengan Deven. Padahal Deven tidak mengenalinya lagi setelah sekian lama tidak bertemu.


Deven menggaruk kepalanya dengan wajah bingung, karena dia benar-benar tidak mengetahui wanita dihadapannya.


"Aku...Teman sekolah SMA mu, anak kelas Bahasa. Wulan Felisha".


Reaksi Deven menjadi serba salah kaget bercampur bingung dan malu.


"Ahh...hahahaha, benar..benar...aku ingat sekarang, Wulan ..kelas Bahasa angkatan pertama, ini benaran Wulan kan ya? Ehh...


Tapi ada keperluan apa menemuiku?" Deven berkata dengan grogi sehingga membuat kalimatnya tidak beraturan.


Deven mempersilahkan Wulan duduk dan mereka melanjutkan obrolan mereka.


"Kamu benar-benar tidak mengenaliku ya Dev?"


"Aku sudah banyak berubah ya?"


"Umur kita sudah bertambah jadi banyak berubah".


"Kamu tinggal dimana sekarang?"


"Singapura"


"Wah...keren, sudah menikah?"


"Tiga tahun lalu".

__ADS_1


"Apa pekerjaannya?"


"Dia pengusaha".


"Pengusaha?, dibidang apa?"


"Kamu mau sensus ya?, mendetail sekali pertanyaannya".


Deven menjadi terdiam dan terpaksa meminum tehnya untuk menghilangkan rasa canggungnya.


Wulan mengeluarkan satu booklet tipis dari tasnya dan menyerahkannya ke Deven.


Berisi Jadwal Perjalanannya dalam satu bulan kebeberapa negara.


"Oh, jadi kamu mau melakukan perjalanan bisnis kebeberapa negara". Ujar Deven yang baru faham dengan maksud kedatangan Wulan untuk menemuinya.


"Apa kamu bersedia menjadi pilotnya?"


"Hah??, maaf Wulan tapi aku tidak bisa memutuskan untuk hal itu".


"Lho?, mengapa begitu?"


"Didalam perusahaan ini ada aturannya, posisi tertinggi direktur, Manajer, Marketing, dan terakhir Staff biasa seperti aku, yang menentukan siapa yang akan ditugaskan menjadi pilotnya adalah keputusan Direktur".


"Baiklah kalau begitu, antarkan aku menemui Direktur perusahaan ini, aku akan berbicara langsung kepadanya agar kamu yang menjadi pilotnya".


"Tapi Wulan, kamu bisa dikenakan biaya tambahan dengan permintaan khusus seperti itu" Deven mengingatkan


"Soal biaya tidak menjadi masalah" Wulan menjawab dengan santai.


Eehh...?? Deven menjadi bingung menemukan alasan untuk menolak permintaan Wulan.

__ADS_1



Wulan Character (present day)


__ADS_2