
Usaha keras Andari selama seminggu untuk mendapatkan alamat Pramudya, akhirnya membuahkan hasil. Walaupun itu merupakan alamat kantornya saja. Seharian dia tidak bisa tidur karena harus memantapkan hatinya untuk bertemu Pramudya. Kali ini bukan sebagai orang asing yang baru kenal didalam penerbangan dari Jakarta menuju Palembang. Tetapi sebagai mantan kekasih yang meminta penjelasan, mengapa Pramudya tidak mau berusaha untuk menemuinya lagi setelah dia kehilangan ingatan jangka panjangnya dan lupa dengan semua hal yang dilalui bersama Pramudya.
Dua video pendek yang tersimpan di flashdish yang ditemukan ditas kecil berwarna ungu itu telah membuka semua tabir yang tersimpan rapat.
Video terakhir dirumah sakit sebelum dia menjalani operasi mempertegas semua hal yang ada. Namun dia masih belum bisa menerima keputusan sepihak dari Pramudya yang langsung menghilang begitu saja tanpa berusaha untuk memberinya penjelasan ataupun mencoba untuk membuatnya teringat kembali dengan hubungan yang mereka punya.
Diseberang Jalan, Tepat dihadapan Andari."Emerald Tower" Gedung dimana Pramudya bekerja, entah karena sedih atau bahagia karena dia akhirnya bisa mengetahui sebuah kebenaran yang tertutupi selama hampir Enam tahun. Ada rasa ragu menghinggapinya, Bahkan dia tidak menyadari tetap berjalan menyebrang jalan dan sudah berada didepan pintu masuk gedung tersebut.
("Akhirnya kamu dan aku...") Andari berkata dalam hati ketika menunduk.
Langkahnya terhenti menuju ke arah lift didalam gedung karena ketika pintu lift terbuka, sosok Pramudya ternyata yang keluar dari lift tersebut.
"Mbak Andari...??"
"Eeeh...Mas Pramudya"
"Mbak ngapain disini?"
"Saya..sa.."
__ADS_1
Pramudya terlihat penasaran dengan jawaban Andari.
"Saya mau ketemu teman saya untuk makan siang.."
"Oh ya..? di kantor lantai berapa?"
"Lantai sembilan "
"Lantai sembilan?, siapa nama teman mbak Andari? berarti satu kantor dengan saya?".
"eeh..maaf maksud saya, Lantai sembilan belas". jawab Andari yang tiba-tiba bingung menjawab semua pertanyaan Pramudya. Keberaniannya tiba-tiba hilang untuk mengatakan maksud sesungguhnya dia datang ke gedung ini.
Pramudya mengangguk dan merasa heran dengan sikap Andari, namun dia hanya menyimpan rasa herannya didalam hati dan membiarkan Andari berjalan meninggalkannya.
Udara diluar semakin dingin dengan mendung tebal, Namun Andari tidak terlalu merasakannya. Rasa bimbang dihatinya membuat fikirannya tidak menjadi fokus. Air hujan mulai turun dengan derasnya, tetapi tidak membuat Andari berhenti berjalan ataupun mencari tempat untuk berteduh. Dia membiarkan dirinya menjadi basah karena air hujan yang turun semakin deras. Dia seperti memasrahkan dirinya dengan alam.
Tiba-tiba air hujan yang turun deras tersebut tidak lagi terasa menyentuhnya.
Andari membalikkan badannya kearah belakang dan melihat Pramudya memayunginya.
__ADS_1
"Maaf, tapi saya... tidak bisa membiarkan mbaknya kehujanan...jadi saya..."
"Iya..." jawab Andari yang mulai berkaca-kaca karena perasaan sedihnya yang mulai memuncak, melihat Pramudya yang menyusul dan memayunginya menembus hujan yang cukup deras dan lebat mengguyur daerah sekitar.
"Kalau saya ada salah kata-kata tempo hari saya..."
"Iya" hanya kata itu yang bisa keluar dari Andari, karena perasaan yang bercampur aduk antara senang dan sedih.
"Minta maaf" ujar Pramudya melanjutkan kata-katanya.
Air mata Andari semakin deras mengalir, dan tanpa ragu dia lalu memeluk Pramudya dan memanggil namanya dengan sedih bercampur senang.
"Pramudyaaa!!"
Pramudya yang terkejut dipeluk Andari melepaskan payung yang dibawanya karena balas memeluk Andari dengan erat. Air Hujan kini membasahi keduanya seperti anugrah dari Alam yang menyambut lembaran baru dari perjalanan kisah mereka.
To Be Continue
__ADS_1
(Andari )