Bitter Sweet Symphony

Bitter Sweet Symphony
--Bitter Sweet Symphony-- Fifth Chapter (Lara Hati)


__ADS_3

CHAPTER "Cantik"


Page: 32


--Hari pengambilan Ijazah SMA (1997)--


Wulan menunggu dengan perasaan yang bercampur aduk digerbang sekolah, hampir dua minggu dia tidak bisa bertemu dengan Deven.Terakhir kali dia melihat Deven pada saat pengumuman kelulusan. Ketika dia hendak menemui Deven, dia sudah tidak terlihat lagi diantara kerumunan murid-murid lain. Deven mulai sangat berubah sikap dengannya beberapa hari sebelum pengumuman kelulusan. Hati Wulan sangat penasaran dengan perubahan Deven yang sangat drastis tersebut. Rasa penasaran dan kangen yang menyelimutinya membuatnya memberanikan diri untuk menemui Deven.


Sekolah mulai tampak sepi dengan murid-murid yang pulang satu persatu setelah mengambil ijazah mereka. Hingga akhirnya sosok Deven yang dia tunggu-tunggu terlihat olehnya. Deven tanpa sengaja melihat kearah Wulan yang menunggunya, dengan langkah yang kelihatan berat dan setengah hati Deven menghampiri Wulan.


Keheningan menyelimuti pertemuan mereka hingga akhirnya.


"Kamu akhir-akhir ini seperti menghindar dariku dan sulit dihubungi". Wulan membuka percakapan dengan suara lirih.


Deven hanya diam dan mengambil sesuatu dari tas ranselnya dan menyerahkannya kepada Wulan. Sebuah Cd lagu favorit Wulan yang diberikannya ke Deven. "Aku tidak punya pemutar Cd dirumah, jadi aku tidak bisa mendengarnya". Ujar Deven.


Wulan menerimanya dengan berat hati dan mulai merasakan sesuatu yang menyedihkan dihatinya. "Dan juga, kamu tidak perlu mencariku lagi" Deven melanjutkan perkataannya dengan dingin.


"Tapi..Dev..Kenapa begitu?" Tanya Wulan dengan suara yang bertambah lirih. Matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata.

__ADS_1


"Itu karena..." Deven tidak melanjutkan kalimatnya, sebenarnya dia juga tidak tega untuk berkata seperti itu terhadap Wulan. Namun rasa sakit hati mengalahkan rasa tidak teganya. "Maksud kamu apa Dev?"Wulan berusaha meminta penjelasan atas perkataan dan perubahan sikap Deven.


Deven menundukkan pandangannya dari Wulan dan menegaskan dirinya untuk lebih tega dengan berkata. "Mulai sekarang bisakah kamu menghilang dariku?"


Tanpa basa-basi Deven lalu meninggalkan Wulan yang terdiam terpaku tanpa bisa menjawab permintaan Deven yang sangat menyakitkan hatinya.


"Alta Moda Wedding Organizer" (Present day)


Sudah 3 kali Nadya mengganti gaun pengantin agar terlihat modis dengan tubuhnya yang akan dikenakannya pada saat pernikahannya dengan Deven. "Bagaimana menurutmu?,lebih baik dari yang dua tadi kan?" Tanya Nadya kepada Deven. "Menurutku juga begitu Nad, gaun yang ini lebih bagus". Jawab Deven.


"Tapi sepertinya berat badan ku bertambah ya?, dari tadi perasaan gaunnya ketat semua" ujar Nadya sambil melihat cermin besar dihadapannya. Deven kembali sibuk dengan fikirannya sendiri, dia tampak tidak bersemangat dengan acara pemilihan baju pernikahannya. Hal yang sangat berbeda sebelum dia bertemu kembali dengan Wulan.


"Shangrilla Dining" (Keesokan harinya)


"Kenapa harus ada hadiahnya juga?" Tanya Deven cuek.


"Karena aku ...mmmm...Cinta pertamamu" goda Wulan. Deven tetap santai dan tidak menggubris candaan Wulan, dia tetap dengan lahap menikmati makanannya.


"Baiklah, kalau begitu sebagai pengganti hadiahnya. Kamu harus mau menemaniku ke Hokaido untuk melihat Snow Festival" pinta Wulan. "Kamu itu ngomong apa Ulan?Kontrak terbangku denganmu sudah berakhir dari Korea kemarin".Jawab Deven

__ADS_1


"Aku sudah mengajukan kontrak baru agar kamu bisa menemaniku ke Hokaido".


"Kamu sudah gila ya?, kenapa harus aku lagi?. Banyak pilot lain". Deven menolak permintaan Wulan. "Ini permintaan terakhirku, karena setelah hal ini aku akan benar-benar menghilang dari kehidupanmu. Seperti permintaanmu,lagi pula kamu pernah berjanji bila sudah menjadi pilot akan bersedia menerbangkanku kemanapun aku suka". Ujar Wulan dengan suara lirih.


Deven menatap Wulan dengan dalam, dia akhirnya mengangguk dan menyetujui permintaan Wulan.


"Kenapa kamu begitu baik padaku pada masa SMA?" Tanya Wulan.


"Itu karena aku menyukaimu" Jawab Deven. Dia memandang Wulan tanpa berkedip ketika menjawab pertanyaan Wulan.


"Akhirnya kamu mengaku ya?"


"Tidak terasa sudah lama sekali berlalu". Ujar Wulan


"Kamu tidak menyadari hal itu?" Tanya Deven


"Apa aku ini terlihat bodoh, hingga tidak menyadari hal itu.., aku juga tau ketika kamu menciumku pada saat aku tertidur dipundakmu. Itu ciuman pertamaku". Ujar Wulan menjadi tersipu mengingat kenangannya dengan Deven.


Deven tampak terdiam sesaat dan menghabiskan minumannya. Dia juga ikut terbawa suasana dengan mengingat kembali kenangan dimana dia dengan takut-takut berani mencium bibir Wulan yang tertidur dipundaknya.

__ADS_1


#Wulan Character



__ADS_2