
---NELANGSA---
page 27
Kediaman Amara
Hari ini merupakan makan malam terburuk dalam hidup Amara.Dia tidak bisa menikmati makan malamnya karena Bagas secara tidak langsung seperti membenturkannya dengan Meylan yang seharusnya tidak perlu tau kalau Amaralah yang membuat Bagas tau dengan rumah makan seafood itu, dan tetap menjadi tempat favoritnya untuk makan malam walaupun tidak lagi bersama Amara.
Amara meletakkan kardus yang berisi pakaiannya diluar kamar dan meletakan kardus yang berisi barang pribadinya diatas tempat tidur. Dia berusaha keras untuk tidak membuka kardus itu dan harus membuangnya segera ketempat sampah. Namun lagi-lagi rasa penasaran membuatnya harus membuka isi kardus itu.
Sebuah buku tentang membuat konsep ruangan untuk pemula, beberapa cd lagu yang berisi lagu-lagu favoritnya dengan Bagas pada masa itu, dan dua buah kartu ucapan tahun baru dan ulang tahun. Amara menjadi penasaran karena tidak mengingat ada kartu ucapan tahun baru atau ulang tahun dari Bagas yang dia simpan.
Amara membuka kartu ucapan ulang tahun dan membacanya
"Selamat ulang tahun sayang doa yang terbaik untukmu dan jaga kesehatan, kapan balik ke Bandung? Nanti kita bisa jalan-jalan bareng lagi"
Salam kangen Bandung 2019
Mama
Ternyata kartu ucapan itu berasal dari Ibu Bagas, tiba-tiba dia merasakan kangen untuk menemui ibu Bagas. Dia lalu mengambil telfon genggamnya dan menelfon Bagas.
"Halo, Gas..apakah mamamu sering berkunjung kerumah mu?"
"Amy...sebenarnya mama..."
"Ada apa sih Gas? Nada bicaramu jadi sedih begitu?"
__ADS_1
"Mamaku sudah meninggal setahun lalu"
"Apa? Mama Sudah meninggal?" Amara merasa shock mendengar kabar duka itu.
"Besok kamu harus membawaku ketempatnya dimakamkan".pinta Amara
"Baik besok aku akan mengantarmu kesana".
"TPU" (tempat pemakaman umum) tanah merah
Nyonya Nita Pratama
Lahir 26 Juni 1956
Meninggal 21 April 2020
"### Ceritakan hari-hari terakhirnya" pinta Amara
"Ceritakan saja" jawab Amara dengan suara sedih
"Baiklah, aku sudah punya firasat akan kepergian mama. Aku menemaninya dirumah sakit sejak pagi. Aku membelikan semua makanan yang ingin dia makan bersama denganku.Menjelang hari terakhirnya dia ingin makan sup ayam makaroni buatanmu".
Amara terlihat kaget dan semakin merasa sedih
Dia meninggal menjelang dini hari disaat aku terlelap diruang tunggu pasien".
"Lalu mengapa kamu tidak menghubungiku?"
__ADS_1
Bagas menatap Amara dengan dingin
"Aku harus Move on Amara!, aku harus menghadapinya sendiri dan tidak harus menghubungimu. Ketika aku mempunyai kabar baik aku sangat ingin menelfonmu tapi aku tidak bisa. Ketika aku punya kabar buruk aku tetap tidak bisa untuk menghubungimu. Aku merasa sangat sendiri, kartu ulang tahun dan tahun baru itu dititip mama kepadaku untuk mengirimkannya padamu, walaupun aku tidak mengirimnya aku tidak bisa untuk membuangnya. Jadi aku hanya menyimpannya di laci meja kerjaku, Didalam kesendirianku yang aku fikirkan adalah bahwa aku harus melupakanmu dan melanjutkan hidupku".
Amara tidak bisa berkata-kata mendengar cerita dan ungkapan isi hati Bagas yang dia rasakan selama ini sejak dia memutuskan untuk meninggalkan Bagas.
Dia lalu memegang pergelangan tangan Bagas paling tidak sentuhan tulus darinya bisa meredakan rasa sedih yang bangkit kembali dari Bagas karena permintaannya untuk bercerita.
"Aku tidak tau lagi harus bagaimana Amy, semua jalan terasa buntu untukku" ujar Bagas.
"Aku sangat menyesal Gas, mulai saat ini kalau kamu butuh bantuan apapun dariku.kamu bisa menghubungiku kapan saja, lagipula aku sekarang sudah menetap di Bandung". Amara berkata dengan tulus.
Emosi Bagas menjadi menurun nafasnya tampak mulai teratur walaupun tatapannya masih tertuju ke batu nisan ibunya.
Tanpa sengaja Amara melihat kearah samping kiri Bagas dan baru memyadari kalau Meylan memperhatikan dan mendengarkan percakapan mereka. Meylan segera menghindar dari tatapan Amara dan menjauh.
"Kamu tunggu sebentar disini, aku ingin membeli minum" ujar Amara. Dia lalu menyusul Meylan yang berjalan menuju luar gerbang pemakaman.
Meylan menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya dengan cepat. Amara mendekatinya perlahan.
"Mey..aku minta kamu jangan salah faham denganku, aku tidak ada maksud apa-apa dengan Bagas".
"Aku mengerti Am, jangan khawatir. Tapi setelah mendengar percakapan kalian aku merasa seperti tidak mengenal Bagas ketika dia berkata kalau dia merasa sendirian. Itu membuatku merasa kalau aku tidak membantunya sama sekali dengan kesendiriannya"
Amara tersenyum kecut mendengarkan perkataan Meylan.
"Aku juga mengerti, setiap orang punya masa lalu. Dia punya masa lalu,kamu punya masa lalu aku juga begitu".
__ADS_1
Amara hanya tersenyum dia tidak ingin salah dalam berkata-kata yang malah bisa membuat situasi menjadi runyam.
Meylan kembali menikmati rokoknya dengan tatapan kosong.