Bitter Sweet Symphony

Bitter Sweet Symphony
--Bitter Sweet Symphony-- Third Chapter ("Teman (Cinta)masa kecilku")


__ADS_3

***(Betapa ingin kukatakan engkaulah Cinta pertamaku)***.


Jam 08.17


Suara mesin mobil yang melaju pelan didepan rumah, langsung membangunkan Arka. Dia bergegas melihat melalui jendela kamarnya dilantai atas. Apa yang dikhawatirkannya ternyata memang benar. Itu adalah suara dari mobil milik keluarga Praya, dengan cepat dia berlari menuju keluar rumah. Ayah dan Bundanya masih berdiri didepan pagar melihat kearah mobil Praya yang melaju pergi. Arka terlambat bangun dan kehilangan kesempatan bertemu Praya. "Bunda kok nggak ngebangunin Arka sih??". Arka menggerutu dengan kesal.


Tanpa menunggu jawaban dari Bundanya. Dia langsung mengambil sepedanya digarasi, tanpa minta izin terlebih dahulu seperti biasanya dia langsung mengayuh sepedanya sekuat tenaga untuk menyusul Mobil Praya. "Sedih juga ya Ka, mereka harus pindah".Ujar Xiao Yu yang belum menyadari Putranya mengayuh sepeda dengan kencang dan lewat didepannya.


"Arka pergi dulu".


"Lho? Heh..Arka kamu jangan ngebut-ngebut begitu!!". Xiao Yu yang kaget melihat Arka yang tumben bersepeda dengan sangat kencang mengingatkannya.


Raka hanya tersenyum melihat putranya bertingkah seperti itu. "Sudah biarin aja Yu, jangan terlalu cemas. Anak Laki-laki memang begitu". Ujar Raka menenangkan Xiao Yu.


"Kamu malah ngebelain dia ngebut begitu...nanti kalau Arka kenapa-napa siapa yang susah?? (Bla..bla..bla), Xiao Yu malah berbalik kesal dengan Raka.


Mobil Praya sudah melewati pos Security di komplek perumahan. Pak Ramzi yang kebetulan hendak pulang setelah tugas malamnya, terlihat heran melihat Arka yang tiba-tiba berhenti dengan sepedanya. Dia hampir saja terjatuh.


"Den Arka kenapa sepedaan ngebut begitu?" Tanya Pak Ramzi.


"Tolong bantu saya Pak Ramzi" ujar Arka

__ADS_1


"Bantu Apa Den?"


"Boncengin saya ngejar mobilnya Aya!".


"Tapi Den, motor bapak larinya nggak bisa ngebut".


"Saya tau jalan pintas pak, jadi bisa lebih cepat". Arka tetap bersikeras agar Pak Ramzi mau membantunya.


"Baik..Den, kalau begitu ayo kita susul Non Aya".


Akhirnya Pak Ramzi mau membantu Arka.


Tanpa memanasi motornya terlebih dahulu, dia langsung menggas motornya dengan maksimal.


"Iya Pak".


Ketika memasuki jalan pintas yang belum diaspal, dan hanya berupa jalan tanah. Motor Pak Ramzi tiba-tiba mogok.


"Aduh bagaimana ini Den Arka?".


"Nggak apa-apa pak, ikutin aja jalannya. Jalannya bakalan menurun,tanpa hidup mesin juga laju motor bapak pasti kencang". Ujar Arka

__ADS_1


Pak Ramzi menuruti perkataan Arka. Dan benar saja jalanan yang sangat menurun itu membuat laju motornya tetap kencang walaupun tanpa hidup mesin.


Setelah beberapa saat jalanan kembali akan menjadi datar. Raka meminta Ramzi menyetater motornya, "coba stater motornya pak".


Ramzi kembali menuruti perkataan Arka, mesin motornya bisa hidup kembali.


Dari samping kanan, dijalan yang beraspal Arka bisa melihat Mobil Praya. Perkiraannya sungguh tepat, dengan mengambil jalan pintas mereka bisa menyusul disamping mobil tersebut. Namun jarak mereka terpisah oleh sungai kecil yang berada ditengah antara jalan beraspal dan jalan tanah yang mereka lalui.


Ada sebuah jembatan yang menghubungkan antara kedua jalan tersebut. Sialnya ketika sudah berada dijalan beraspal, laju dari motor Pak Ramzi seperti tersendat-sendat. Motornya memang tidak bisa dipakai ngebut, karena usia kendaraannya yang lumayan sudah tua.


"Ayaaaaaaa!!" Arka berteriak memanggil Praya, dia berharap Praya atau kedua orang tuanya mendengar teriakannya dan menghentikan mobilnya. Namun usahanya itu tidak kunjung berhasil.Mobil praya tetap melaju dengan kencang. Praya yang duduk didepan sempat melihat kearah kaca spion disampingnya, tapi yang telihat dikaca spion itu hanya Mobil sedan .Arka dan Pak Ramzi yang berusaha menyusulnya dengan motor tertutupi dengan mobil sedan tersebut. Ketika mobil sedan itu tidak lagi terlihat dikaca spion karena menyalip mobil mereka, Praya sudah tidak lagi melihat kearah spion dan menatap kedepan. Padahal kalau dia masih melihat kekaca spion, dia akan melihat Pak Ramzi dan Arka yang terus berteriak memanggilnya agar berhenti.


Mobil Praya melaju perlahan dan berhenti karena lampu merah. Arka merasa sangat senang karena dia merasa bisa menyusul mobil tersebut. Ketika jarak mereka tinggal tiga ratus meter lagi, Motor Pak Ramzi mendadak mati total. Mesinnya terlalu panas karena digeber dengan maksimal.


"Den Arka, motornya nggak bisa hidup sama sekali". Ujar Ramzi


Arka tidak mau menyia-nyiakan waktu, dia segera turun dari motor dan berlari sekencang-kencangnya menuju Mobil Praya.


"Ayaaaaa!!, tungguuuu!!". Teriaknya sambil berlari.


Bersambung

__ADS_1



("Praya/Aya"...5 years Old)


__ADS_2