Bitter Sweet Symphony

Bitter Sweet Symphony
--Bitter Sweet Symphony-- Third Chapter ("Teman (Cinta) Masa kecilku")


__ADS_3

***(Betapa ingin kukatakan engkaulah Cinta pertamaku)***


Lampu merah didepan sudah berubah menjadi hijau, Mobil Praya kembali melaju perlahan. Jalanan pagi itu masih terlihat lengang.


Arka masih berlari dibelakang sambil berteriak memanggil Praya. Namun usahanya itu tetap tidak membuahkan hasil, bahkan dia kembali tertinggal jauh dibelakang. Adegan larinya mengingatkan pada film "Forest Gump" dimana Forest Gump berlari sangat kencang ketika hendak dibully teman-temannya. Kecepatan lari Arka dan Forest terlihat sama, namun tidak ada yang menyemangatinya seperti Forest Gump.


"Run Forest...Run.." teriakan dari Jenny.


Malahan Arka yang berteriak sambil berlari


"Ayaaaa...Tungguuuuu".


Sedangkan Pak Ramzi bukannya menyemangati melainkan meratapi motornya yang diberi nama "Go..Go".


Mobil Praya tetap melaju semakin menjauh dari Arka, nafasnya sudah tidak beraturan. Berlari sambil berteriak sungguh menguras tenaganya.


Dia berhenti berlari, dengan nafas yang tersengal-sengal. Tangan kecilnya meraih sesuatu dari kantong celananya. Sebuah jam tangan yang bentuknya sama persis dengan jam tangan kesayangan Praya. Dimana dengan tidak sengaja menjadi rusak karena dia mendorong Praya.Jam tangan itu dibelinya semalam dengan mengajak Violette untuk menemaninya.Uang yang dia punya untuk membeli jam itu berasal Dari hasil tidak jajannya selama satu minggu.Arka merasakan kesedihan yang sangat mendalam, yang baru pertama kali dia rasakan. Rasa penyesalan dan kehilangan. Seorang anak kecil berusia 9 tahun seperti dirinya masih terlalu dini untuk merasakan hal-hal tersebut.


("Aya..Maafin Arka") Dia berkata dalam hati dan menunduk. Mobil Praya sudah tidak tampak lagi didepannya. Hanya dirinya sendiri dijalan itu.


16 tahun kemudian


Umur Arka sudah hampir 25 tahun, namun dia belum juga menemukan wanita yang tepat untuk diajaknya menikah.

__ADS_1


"Dirga ini kami sangka akan menikah paling akhir dari geng kami,malahan dia yang lebih dulu menikah dari kami".ujar Arka sambil memperlihatkan foto Dirga dan gengnya pada saat SMA diponselnya.


"Jadi ini mempelai Prianya?" Tanya teman kerja wanita Arka.


"Iya, kebetulan dia teman SMA ku".


"Terus..terus?? Kapan Lu mau nyusul?".


"Gue masih..nyari-nyari sih...tapi paling nggak cantiknya harus seperti Elu Citra". Jawab Arka sedikit menggoda.


"Gaya lu Ar.., pasti lu bisa dapet yang jauh lebih cantik". Ujar Citra dengan tertawa mendengar Candaan dari Arka.


"Kalau begitu Lu sama Gue aja". Arka membalas candaan Citra.


Sebuah telfon masuk diponselnya, telfon dari Dirga yang memastikan kehadiran Arka di acara pernikahannya dua hari lagi.


"Halo?, Iya Ga tenang aja.Gue bakalan dateng ke acara Nikahan Elu. Ntar sore gue ambil Jas pesenan gue untuk acara nikahan elu. Gue pingin tampil beda, siapa tau ketemu jodoh gue diacara elu". Arka berkata dengan antusias.


Terdengar suara Dirga yang tertawa keras mendengar perkataan Arka.


Arka sedang beristirahat makan di rest area jalan Tol ketika telfon dari Bundanya masuk.


"Halo? Iya Bun?"

__ADS_1


"Kamu masih ingat dengan Praya?".


"Masihlah Bun".


"Kamu bisa menghadiri acara pernikahannya?"


"Kapan acaranya Bun?


"Lusa"


"Sepertinya nggak bisa Bun, Lusa teman dekatku menikah juga, memangnya Ayah dan Bunda nggak bisa dateng?".


"Kebetulan Bunda dan Ayahmu ada acara menghadiri pernikahan anak teman Ayahmu Ka".


"Disempatin aja Bun, kan bisa ke acara "Aya" dulu baru keacara nikahan teman Ayah, titip salam ya buat "Aya".


"Ya sudah kalau begitu, padahal dia ingin sekali kamu datang. Dia sendiri yang datang nganterin undangannya".


Arka terdiam sesaat mendengar perkataan Ibunya. ada rasa rindu yang sempat hilang dan muncul kembali terhadap sahabat masa kecilnya itu. Kenangan akan dirinya yang tidak akan dia lupa dan tersimpan entah dibagian mana diingatannya.


Bersambung


__ADS_1


("Praya/Aya"...5 years Old)


__ADS_2