Bitter Sweet Symphony

Bitter Sweet Symphony
--Bitter Sweet Symphony-- Fifth Chapter (Lara Hati)


__ADS_3

CHAPTER "Cantik"


Page : 34


"Ruangan Direktur Han"


Dengan berat hati Deven mengantarkan Wulan menemui Direktur Han diruangannya. Tanggapan dari Direktur Han tentu saja menerima semua permintaan dari Wulan, karena tidak ada proses tawar dari Wulan mengenai harga yang diberikan kepadanya. Apalagi Direktur Han menyetujui kalau Deven yang harus menjadi pilot dipesawat yang Wulan sewa,Tanpa biaya tambahan.


"Saya sangat-sangat tidak keberatan dengan permintaan Ibu Wulan, agar Kapten Deven menjadi pilot anda". Ujar direktur Han dengan senyum yang mengembang. Nilai kontrak dari Wulan cukup untuk membuat perusahaannya berjalan stabil. Setidaknya untuk enam bulan kedepan. "Terimakasih Pak Han, atas persetujuannya". Wulan menanggapi dengan senang."untuk selanjutnya nanti silahkan anda berhubungan dengan kepala pemasaran kami, Nadya. Kapten Deven akan menemani anda, lagipula anda pasti ingin berbincang dengan Kapten Deven setelah lama tidak bertemu". Direktur Han tampaknya memahami situasi antara Deven dan Wulan sebagai sahabat lama yang tentunya sangat ingin menghangatkan suasana dengan berbincang secara pribadi.


"Ah...anda memang pimpinan yang baik dan pengertian pak Han". Wulan sangat senang dengan perkataan direktur Han.


Deven yang sedari tadi lebih banyak diam, tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat hal yang sudah dia prediksi bakal terjadi. Padahal hal itu diluar keinginannya, harus menjadi pilot diperjalanan Wulan selama satu bulan.

__ADS_1


"Lounge VVIP"


Deven kembali harus ikut menemani Wulan yang akan mengecek surat kontrak dan klausa-klausa yang dibuat Nadya untuk ditanda tangani.


Sambil menunggu Nadya, Deven dan Wulan kembali berbincang. "Bisnis apa yang kamu jalani sekarang?" Tanya Deven.


"Kamu pingin tau aja, atau pingin tau banget?" Wulan balik bertanya.


"Sebagai istri dari seorang pengusaha yang sangat kaya, bukankah seharusnya suamimu mengizinkanmu untuk bepergian dengan pesawat jet pribadi yang dimilikinya?".


"Kalau kamu tidak mau menjadi pilot di penerbanganku tinggal bilang saja. Aku juga tidak akan memohon dan membuang-buang uangku disini, lagi pula aku belum menandatangani apapun!".


Deven menjadi terdiam dan merasa kikuk sendiri melihat perubahan sikap Wulan yang terlihat marah dan kesal.

__ADS_1


"Kamu itu dari dulu memang menyebalkan!!!" Wulan lalu berdiri dan meninggalkan Deven dengan kesal.


"Parkiran mobil"


Wulan sudah berada disamping mobil Sedan Audynya, dia mencari-cari kunci mobil didalam tasnya. Namun tidak berhasil dia temukan, hingga akhirnya terdengar suara kunci alarm mobilnya dihidupkan oleh seseorang. Orang itu adalah Deven, dia lalu memberikan kunci mobil Wulan yang tertinggal di Lounge. Wulan mengambil kunci mobilnya dengan reaksi yang masih kesal dari Deven. "Ini Hand phone mu" Ujar Deven yang menjadi melunak melihat Wulan yang kesal padanya.Rupanya ponsel Wulan ikut tertinggal dengan kunci mobilnya.


"Apa kamu masih ingin tau mengenaiku? atau kamu takut aku akan menggoda mu?" Tanya Wulan. " Bukan begitu Wulan,aku masih terbawa suasana kaget karena bertemu denganmu setelah sekian lama, jadi maafin aku kalau perkataanku membuatmu menjadi tidak nyaman" ujar Deven.


"Mmmm...jadi dengan kata lain. Kamu grogi ya melihat ku?" Ujar Wulan yang mulai turun kesensiannya.


"Kamu pasti penasarankan dengan ku?? Ayo ngaku". Tanya Wulan dengan tersenyum.


Deven hanya tersenyum dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

__ADS_1



Wulan Character (present day)


__ADS_2