
"Indah...kulihat senyummu saat ini, Walau itu bukanlah untukku. Lama tak kurasa bahagia dirimu, sejak kita tak lagi bersama. Biarkanlah ku sendiri...Teruskanlah bahagiamu".
-------------------------------------------------------------
"Kampung Halaman Pramudya
enam tahun yang lalu"
Andari mengamati sekeliling ruang tamu dirumah Pramudya, Terdapat foto mendiang ayahnya dan beberapa foto pramudya semasa kecil. Yang menarik perhatiannya adalah secarik kertas dengan tulisan tangan berbingkai kaca terpajang diatas meja kayu berukir khas daerah itu.Dia lalu mendekati benda itu dan membaca isi tulisan yang terdapat dikertas itu secara perlahan.
"Tulisan perpisahan ku"
Aku mungkin sebentar lagi akan meninggalkan mu, ke tanah yang asing. Setiap kali kesepian, Aku akan mengingat wajahmu yang kukenal. Pada saat terakhir dari awal perpisahanku.
"itu adalah tulisan dari mendiang ayahnya". Terdengar suara lembut seorang wanita dibelakang Andari. Wanita itu adalah ibu Pramudya, Usianya mungkin mendekati setengah abad namun Ibunya masih terlihat seperti wanita berusia tiga puluhan. Rambut panjangnya yang hitam disanggul kebelakang seperti layaknya Ibu-ibu di desa. Sederhana namun tetap anggun bersahaja. Andari melihat dengan kagum dengan kesahajaan ibu Pramudya.
__ADS_1
"Tulisan itu merupakan bagian dari keluarga ini, kenangan yang sangat berharga dari Ayah Pramudya". ujar ibu pramudya dengan suara lirih.
"Ayah pramudya meninggal pada saat, Pramudya baru berumur 4 Bulan, Apa dia tidak pernah bercerita tentang hal itu?"
"Tidak pernah Bu" jawab Andari
Ibu Pramudya tersenyum dan mempersilahkan Andari untuk duduk.
Andari mengangguk dan duduk didepan Ibu Pramudya.
"Maaf telah membuat Ibu menjadi sedih" Andari mencoba menetralkan suasana.
"Ayah Pramudya, selalu menuliskan kata-kata yang indah dan menenangkan untuk saya. Walaupun tulisan-tulisan itu sekarang menusuk kedalam hati saya yang paling dalam bila teringat padanya. Namun tulisan-tulisan itu juga menjadi penyemangat saya juga". Mata Ibu Pramudya mulai berkaca-kaca, Kenangan-kenangan bersama Ayah Pramudya membuatnya menjadi bersedih.
Andari meletakkan tangannya diatas kedua tangan Ibu Pramudya, Dia seperti ikut merasakan kesedihan yang Ibu Pramudya rasakan. Hubungannya dengan Pramudya juga mempunyai hal yang sana dengan kisah Orang tua Pramudya. Sama-sama ditentang oleh kedua orang tuanya, karena Pramudya bukan dari kalangan orang kaya dan berpendidikan.
__ADS_1
"Saya tidak menyangka, benda yang terlihat tidak begitu berharga. Bisa berpengaruh besar dalam hidup seseorang" Ujar Andari.
Ibu Pramudya tersenyum dan menggenggam tangan Andari dengan lembut.
------------------------------------------------------------
Jakarta,Present day
Setelah selesai menelfon Damian, Andari melanjutkan bersih-bersih dilemari tempat dia menyimpan tas-tas berukuran besar untuk berpergian yang sudah lama tidak dia bersihkan. Biasanya Bibi Sumiati pembantu rumah tangga mereka yang membersihkan untuknya. Dia melihat kearah tas berwarna ungu yang berukuran agak lebih kecil dari tas-tas lainnya. Tas yang terlupakan olehnya, karena dia tidak pernah menggunakan tas itu bila berpergian. Dia membuka tas itu dan iseng mengecek kantung-kantung kecil yang terdapat didalamnya. Tangannya terasa menyentuh sesuatu yang kecil di kantung ketiga, Dia mengambil benda kecil itu yang ternyata sebuah flashdish berwarna putih dengan list ungu. Andari mengeryitkan keningnya berusaha mengingat-ngingat isi dari flashdish itu, karena tidak ada petunjuk ataupun tulisan di flashdish itu. Dengan penasaran di menghidupkan Laptopnya lalu mengecek isi dari flashdish itu yang ternyata hanya menyimpan dua buah video pendek.
"Pantai Anyer" & "Memory" Judul itu terdapat di kedua video tersebut. Andari semakin penasaran karena dia tidak pernah merasa membuat video itu bersama Damian, pacarnya. Ada perasaan tidak nyaman dan takut untuk membuka kedua video pendek tersebut karena Sekilas terlihat wajah Pria yang baru dia kenal beberapa hari yang lalu. Wajahnya tertutup tanda play. Rasa penasaran membuatnya memberanikan diri untuk menonton Isi dari video tersebut. Dia mulai menekan tanda play di Video yang bertuliskan Pantai Anyer. Terlihat seseorang mengambil video dirinya yang berjalan kearah sebuah meja yang diduduki seorang pria, Dia berjalan pelan sambil membawa sebuah kue kecil dengan lilin diatasnya. Jantungnya terasa berhenti ketika wajah pria itu terlihat dengan jelas. Karena dia sangat mengenali pria itu.
To Be Continue
__ADS_1
(Andari Memoir)