Bitter Sweet Symphony

Bitter Sweet Symphony
--Bitter Sweet Symphony-- Fourth Chapter (Nelangsa)


__ADS_3

---NELANGSA---


Page 24


Prolog


"Yang putih cintaku


Tak seputih mengasihimu


Mengapa memberat


Dalam menemukan sikapmu?"


Sudah sangat lama ,7 tahun semenjak Amara memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan hubungannya dengan Bagaskara, akan tetapi jalan hidup harus membuatnya bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu. Karena sebuah kamera pocket usang pemberian Bagaskara yang kemungkinan tidak lagi berfungsi karena tidak pernah dipakai sejak Amara meninggalkan kota Bandung 7 tahun yang lalu. Kamera yang seharusnya ikut terbuang pada saat Ibunya membersihkan kamarnya dari barang-barang tak terpakai sesuai permintaannya sebelum kembali lagi le Bandung.


Amara sudah berusaha keras untuk tidak mempedulikan kamera usang itu, namun ada rasa aneh dan bersalah yang menghampirinya


"Sial" gumannya dalam hati, dengan setengah hati dia harus mengembalikan kamera itu ke Bagaskara yang Amara tau dari temannya tidak pindah dari alamatnya terdahulu. Dia tidak harus menemuinya, melalui jasa pengiriman cepat pasti lebih baik. Kamera itu terkirim dan dia tidak perlu merasa bersalah lagi, semudah itu.


Keesokan siangnya

__ADS_1


Jasa Pengiriman CXC


Amara menarik nafas panjang lalu menuliskan nama Bagaskara dan alamat rumahnya dikotak paket yang disediakan jasa pengiriman tersebut


Untuk : Bagaskara


Alamat : Perumahan Saint Regis Blok I 21


Setelah menuliskan segala sesuatunya di kotak paket dia menyerahkannya ke staff yang bertugas. Staff itu melihat alamat dikotak itu dan terlihat ragu, "maaf mbak".


"Alamat pengirimannya cuma dua ratus meter dari tempat ini, mbak bisa mengantarkannya kesana sendiri. Sangat dekat sekali dari sini".


"Kirimkan saja pak" jawab Amara datar


"Mbak yakin?" Tanya staff itu lagi


"Kirimkan saja" Jawaban Amara masih sama


"Yakin mbak?"


Kali ini Amara hanya diam dan menatap bapak itu tanpa berkedip sambil menahan kesal, "sekali lagi dia bertanya yakin atau tidak. Bapak ini yang akan aku kirim ke rumah Bagas" (gerutu Amara dalam hati.

__ADS_1


Dan akhirnya bapak itu tidak bertanya lagi dan memasukkan semua data dikomputer dan membungkus kotak itu dengan plastik logo perusahaan pengiriman.


Bapak itu selamat dari rencana Amara dan yang lebih penting lagi kamera itu telah terkirim tanpa dia harus bertemu Bagas. Masalah selesai!!!


 


2 hari kemudian


Amara menjadi kehilangan moodnya hari ini, karena melihat paket yang dikirimnya untuk Bagas berada diatas meja rias dikamarnya.


Alasan paket itu kembali kepadanya karena ditolak oleh penerima. "Kapan kamu terakhir berkomunikasi dengannya Amara?" Tanya Lina teman dekat Amara yang kebetulan sedang main kerumahnya.


" 7 tahun yang lalu setelah aku pergi ke Hokaido, dan memutuskan hubungan dengannya. Sejak saat itu aku tidak pernah menghubunginya lagi Lin. Lagipula aku tidak punya alasan untuk bertemu dengannya"


"Paling tidak sekarang kamu ada alasan untuk bertemu dengannya dan meminta maaf" jawab Lina.


"Aku tidak mau mencari masalah Lin dan tidak peduli dengan apapun tentangnya"


"Ya sudah terserah kamu deh, kalau kamu tidak peduli kamu tidak perlu uring-uringan begitu Amara" Lina berkata dengan tersenyum.


Amara menutup wajah dengan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa galaunya. Dia harusnya mencuekkan saja kamera usang itu dan membuangnya, Tetapi satu asa mengusik relung hatinya yang terdalam. Tentang perbuatannya dimasa lalu yang meninggalkan Bagas tanpa alasan yang jelas. Rasa bersalah dari masa lalu yang malah bangkit kembali? " entahlah "

__ADS_1


__ADS_2