
---NELANGSA---
Page 26
"### Aku diminta untuk membuat sup ayam, nanti kamu ikut cicipin ya". Pinta Amara
Meylan tersenyum dan mengangguk
25 menit kemudian
Meylan mendapat giliran pertama menyicipi sup ayam buatan Amara.
"Wah..memang bener-bener enak" ujar Meylan setelah mencicipi.
"Kamu tidak bisa menemukannya ditempat lain Mey" Bagas menimpali.
Amara tersenyum mendapat pujian dari keduanya. Rasa dari sup ayamnya memang konsisten tetap enak dan gurih karena dia mendapatkan resep rahasia dari mendiang neneknya. Selain untuk pendamping makan nasi juga bisa buat obat untuk meredakan flu.
Amara memperhatikan sekeliling ruangan makan, dimana dia melihat sebuah foto konsep ruangan yang pertama kali dia buat. Bagas masih menyimpan foto itu bahkan sampai saat ini. Amara tersenyum dan merasa senang.
Sudah waktunya Amara untuk pamit pulang, dan Bagas mengantarnya sampai didepan halaman rumah. "Terimakasih ya Gas, masih menyimpan foto jadul itu".
"Oh, itu konsep yang bagus dan bukan untuk mengingatmu" jawab Bagas
"Bagaimanapun juga, aku tetap berterimakasih"
"Kamu sudah lega sekarang?" Tanya Bagas
"Dihh..kamu sok tau banget"
"Jaga dirimu baik-baik, kapan-kapan kita makan bersama".
Amara tersenyum dan mengangguk
"Aku pamit ya"
"Iya"
Amara lalu berjalan pergi dan Bagas segera masuk kedalam rumah. Beberapa langkah setelah Bagas masuk kedalam rumah, Amara menghentikan langkahnya dan menunduk untuk meluapkan rasa sedih dan bersalahnya.
"Jadi bagaimana kabarnya ?" Tanya Lina
"Aku merasa lega karena ini sudah berakhir, Bagas juga sudah menemukan pasangan baru. Sudah Move on dariku, tapi sebenarnya saat melihatnya aku sangat ingin memukuli diriku sendiri, mungkin karena aku wanita yang tidak punya perasaan jadi merasa seperti itu". Amara menjadi curhat ke Lina.
"Semua perasaan dan emosi ini sungguh melelahkan Lin".
__ADS_1
"Sudahlah Am, kamu sudah mengembalikan kamera itu dan akhirnya semua berakhir dan kamu tidak perlu galau lagi".
"Kamu benar Lin, tapi aku tidak pernah berfikir jadi bisa berhubungan lagi dengannya walaupun hanya sebatas teman".
"Kan bagus Am, menambah teman daripada menjadi musuh"
"Masalahnya aku baru menyadari kalau hal-hal yang aku suka itu kebanyakan berasal dari Bagas" jawab Amara dengan nada memelas.
"Kamu alihkan saja fikiranmu dengan pekerjaan mu Am, eee...tapi sekarang jadinya melupakan dia menjadi pekerjaan yang paling sulit ya?".
" Ini seharusnya menjadi hal yang mudah Lin, menjadi lega dan langsung melupakannya". Ujar Amara seperti menyesali keputusannya untuk bertemu Bagas.
3 hari kemudian
Bunyi dari telfon genggamnya membuat konsentrasi Amara yang fokus mengerjakan pekerjaan kantornya menjadi teralihkan, dan yang membuatnya lebih kaget. Yang menelfon adalah Bagas, dia agak ragu untuk mengangkat telfon dari mantannya tersebut. Namun keraguannya dikalahkan rasa penasaran bila tidak mengangkat telfon.
Dia memutuskan untuk mengangkat telfon itu dan menunggu Bagas yang menyapanya lebih dulu. "Halo, Amy ?"
"Iya halo"
"Kamu besok ada acara? Kita makan malam bersama"
"Meylan juga akan ikut"
"Eee...iya, iya besok aku kebetulan nggak ada acara keluar"
"Jadi bisa kan besok?"
"Baiklah aku akan makan malam bersama kalian"
"Di seafood sari mulia jam 7"
"Baik, sampai bertemu besok malam"
"Oke, bye"
"Bye"
Seafood Sari Mulya 18.41 Wib
Rumah makan seafood Sari mulya sudah dipenuhi para pelanggan tetapnya, bahkan mereka rela antri untuk bisa makan ditempat itu, selain enak dan bersih harga menunya juga sangat terjangkau bagi semua kalangan.
__ADS_1
Sudah 25 tahun berdiri dan tidak berkeinginan untuk membuka cabang dimanapun agar menjaga citarasa dari masakan mereka.
Amara langsung mendatangi meja 15 dimana Bagas dan Meylan sudah menunggunya.
"Sudah lama seperempat abad berdiri, tempat ini tidak ada perubahan berarti" ujar Amara membuka percakapan.
Bagas hanya tersenyum mendengar perkataan Amara.
"Eh..itu kardus untuk apa??" Tanya Amara yang penasaran dengan dua kardus berukuran sedang ditengah tempat duduk Bagas dan Meylan.
"Oh..ini barang-barang kepunyaanmu yang masih tersimpan dirumahku. Aku ingin mengembalikan semuanya padamu"
"Yang ini adalah pakaian-pakaian mu, yang satu lagi barang pribadimu. Aku sudah pisahin" ujar Meylan sambil mengambil kedua kardus tersebut dan memberikan ke Amara.
"Busyet banyak juga barang-barangku yang tertinggal dirumah Bagas" guman Amara dalam hati, dia seperti memenangkan hadiah utama yang diserahkan langsung oleh panitia.
"Terimakasih" jawab Amara sambil memindahkan kardus-kardus tersebut di tempat duduknya.
"Kamu nggak marahkan Amy?" Tanya Bagas
"Nggak kok, aku mengerti, santai aja Gas, kita memang harus membuang hal yang tidak penting dan hanya menyimpan hal yang penting dan berarti untuk kita" Amara berdiplomasi
Bagas hanya tersenyum penuh arti mendengar jawaban Amara.
"Kamu ngapain nggak ngajak makan dtempat yang kekinian dengan Meylan? Malah ketempat makan jadul dan penyajiannya yang lama". Ujar Amara yang mulai merasa lapar dan pesanan mereka belum juga datang hampir setengah jam dari waktu mereka memesan.
"Memang seperti ini, paling cepat setengah jam pesanan kita baru jadi".
"Masakannya memang patut untuk ditunggu Am, sangat enak" ujar Meylan.
"Aku tidak tau berapa lama lagi aku bisa menunggu" jawab Amara
"Aku juga memikirkan hal yang sama ketika pertama kali kamu mengajakku kesini Amy" ujar Bagas.
Wajah Meylan yang tadinya tersenyum mendengar gerutuan Amara menjadi berubah datar dengan perkataan Bagas yang dingin dan spontan.
Amara yang melihat hal itu menjadi berubah tegang dan kikuk, perubahan ekspresi Meylan membuatnya merasa sangat tidak enak hati.
"Memang pantas untuk ditunggu kok" ujar Meylan yang mencoba tersenyum walaupun dipaksakan.
"Bagas sering mengajakku untuk makan malam disini" ujar Meylan lagi.
Rasa lapar Amara menjadi hilang seketika dengan perubahan situasi ditempat ini, rasanya dia ingin segera pergi saja saat ini tanpa harus makan.
__ADS_1