
Hari berganti hari, Minggu pun berganti Minggu, sebulan sudah berlalu. Qaisya sedang sibuk dengan ujian nasionalnya. Lelah sekali rasanya saat ini, hari ini hari terakhir Qaisya melaksanakan ujian akhirnya.
Semenjak sebulan juga Alva tak pernah lagi menghubunginya, qaisya merasa sedih karena ponsel Alva tidak aktif selama sebulan kebelakang ini.
Qaisya tak tau apa yang membuat Alva menjauhi dirinya, padahal Qaisya sudah mulai jatuh cinta pada Alva, mungkin berbeda dengan Alva yang hanya menganggap dirinya sebagai pacar kontrak. Walaupun terkadang moodnya tidak baik, Qaisya selalu berusaha untuk fokus ke ujian nasional.
"Akhirnya ujiannya selesai juga." Ucap Qaisya menghempaskan nafas kasarnya.
Setelah ujian selesai Qaisya pun langsung bergegas untuk pulang saat itu, hari yang cukup panas membuat Qaisya semakin tak berdaya, padahal ia ingin sekali di semangati oleh Alva, tapi apalah daya Alva telah menghilang begitu saja. Rindu pun sudah mulai ia rasakan semenjak tak bertemu pria tampan itu.
Qaisya pulang sekolah berjalan kaki, langkahnya pun sudah tak beraturan, ia pulang dengan sisa tenaga dan semangat yang ada.
Tin. . . tin. . . tin. . .
Suara klakson mobil itu pun membuat Qaisya melihat ke arah belakang, sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di belakangnya, Qaisya hanya diam saja ia tak tau itu mobil siapa.
Tiba-tiba keluar seorang lelaki dari dalam mobil itu, Qaisya masih diam terpaku di sana, ia merasa ini bagaikan mimpi, ia melihat seorang pangeran yang ia rindukan datang menghampirinya, sungguh itu mimpi yang indah pikirnya.
"Qaisya." Panggil seseorang.
"Iya." Ucap Qaisya singkat.
"Kamu kenapa?" tanya Alva heran.
"Tidak apa-apa. Kamu pangeran dari mana?" tanya Qaisya yang terus menatap Alva.
"Pangeran? pangeran apa?" tanya Alva lagi.
"Ini kak Alva?" tanya Qaisya memastikan.
"Iya Qaisya ini aku Alva." Ucap Alva sambil tersenyum.
"Haaaaaa. . . kak Alva." Spontan Qaisya langsung memeluk Alva. Sontak Alva terkejut dengan tindakan Qaisya tapi ia tak menolak sama sekali, ia juga membalas pelukan gadis cantik itu.
"Kakak dari mana saja? kenapa ponsel kakak tak dapat di hubungi?" tanya Qaisya melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Yuk masuk dulu ke dalam mobil, nanti kakak akan cerita semuanya." Ajak Alva, Qaisya pun langsung mengangguk setuju, ia pun masuk ke dalam mobil.
"Oh ya, sebelumnya selamat ya sudah menyelesaikan ujian akhir mu, dan ini ada kado untuk mu." Ucap Alva memberikan sebuah bingkisan untuk Qaisya.
"Haduh kak, ngapain repot-repot kasih kado." Ucap Qaisya sedikit sungkan.
"Kakak sangat senang bisa memberikan mu kado ini, tolong di terima ya." Ucap Alva sambil tersenyum.
"Hmm. . . terima kasih kak." Ucap Qaisya akhirnya menerima kado itu. Alva pun hanya tersenyum, ia menghidupkan mesin mobilnya.
"Kita mau kemana kak?" tanya Qaisya.
"Ke taman, aku ingin mengajak mu bersantai di sana." Ucap Alva sambil tersenyum. Qaisya pun hanya mengangguk saja.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah taman yang paling indah di kota itu, Qaisya sangat senang bisa bermain ke sana. Mereka duduk bersantai di sana, di temani makanan dan minuman yang baru saja Alva belikan.
"Oh ya, selama ini kakak kemana saja?" tanya Qaisya memulai pembicaraan.
" Nah, itu yang mau saya ceritakan." Ucapnya
"Trus kakak tau dari mana aku terakhir ujian hari ini?" tanya Qaisya menyelidik.
"Aku menugaskan anak buah ku untuk menjaga mu, aku mendapatkan semua informasi tentang mu darinya." Ucap Alva.
"Hah?" Qaisya kaget. Jantungnya berdebar saat mendengar perkataan Alva barusan, Alva menyuruh anak buahnya untuk menjaganya? sebegitu peduli kah Alva kepada Qaisya? Qaisya merasa sangat berharga sekali dengan tindakan Alva itu.
"Kenapa?" tanya Alva. Qaisya pun langsung menggeleng seketika.
"Oh ya, setelah ini kamu ingin lanjut kuliah?" tanya Alva.
"Tidak tau kak, kemungkinan nenek tak sanggup untuk melanjutkan pendidikan ku." Ucap Qaisya merasa sedih.
"Orang tua mu?" tanya Alva.
"Aku tak punya orang tua." Ucap Qaisya menatap ke arah Alva.
__ADS_1
"Eh mohon maaf, aku gak tau." Ucap Alva merasa bersalah.
"Tidak apa kak." Ucapnya.
"Kalau aku boleh tau, apa kamu ingin bercerita dengan ku?" tanya Alva sangat penasaran. Qaisya pun langsung mengangguk antusias.
"Aku anak pungut, kata nenek dulu aku anak yang tak di inginkan, kedua orang ku berbuat hal yang di larang, mereka masih berpacaran saat itu, tak ada yang mau bertanggung jawab atas perbuatan mereka, akhirnya aku di buang di jalanan, untungnya ada seorang nenek jalanan yang memungut ku, dia membesarkan ku sendirian. Jujur aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan nenek, dia sangat baik, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai ayah dan ibu ku. Dia tak pernah menyesal membesarkan ku." Ucap Qaisya, air matanya pun mulai menetes, jika mengingat tentang kedua orang tua, Qaisya selalu hanya mengingat nenek, hanya nenek lah permata berharganya di dunia ini, tanpa seorang nenek dia bukan lah siapa-siapa.
Alva terdiam, ternyata masih ada orang yang lebih sedih darinya, hidup tanpa kasih sayang dari kedua orang tua, bahkan bisa di bilang Qaisya benar-benar tak di inginkan di dunia. Alva mengusap air mata Qaisya, ia merasa kasian pada gadis cantik di hadapannya itu.
"Kamu hebat, jangan menangis. Aku tau kau orang yang sangat hebat." Ucap Alva tak tega melihat Qaisya menangis.
"Iya kak, aku hanya terharu saja dengan perjuangan nenek." Ucap Qaisya menghapus air matanya. Menit berikutnya mereka hanya diam, Qaisya masih menghapus air matanya, tak ingin berlarut-larut menangis di hadapan Alva.
"Apa kak Alva memiliki adik?" tanya Qaisya, entah kenapa Qaisya ingin tau latar belakang Alva sedikit saja.
"Aku anak tunggal, ibu ku sudah lama meninggal. Sekarang aku tinggal bersama ayah ku. Aku anak yang sangat kesepian, tak ada seorang kakak atau pun seorang adik." Ucap Alva merasa kesepian selama ini.
"Kakak kesepian? kan ada aku." Ucap Qaisya tersenyum ke arah Alva.
"Ya kamu kan bukan saudara kandung ku." Ucap Alva.
"Bisa-bisa saja kakak menganggap ku sebagai adik kan?" Qaisya tersenyum.
"Bukan kah kau pacar kontrak ku? " tanya Alva menatap Qaisya.
"Itu hanya tiga bulan saja, setelah itu aku bukan siapa-siapa kakak lagi." Ucap Qaisya.
"Siapa suruh pecahkan ponsel ku, itu kan sudah menjadi tanggung jawab mu." Ucap Alva yang terus menatap Qaisya.
"Tidak sengaja, yang terpenting aku sudah mengikuti kemauan kakak." Ucap Qaisya. Jujur saja sebenarnya Qaisya tak ingin kontrak itu berakhir, Qaisya sudah mulai mencintai Alva, ia tak ingin jauh dari pria itu.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
__ADS_1
Happy Reading