Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 41 : Hati yang sakit


__ADS_3

Alva menceritakan sekilas kejadian 2 tahun silam, qaisya menangis mendengarnya, bagaimana bisa ia tak ada di samping Alva ketika Alva membutuhkannya.


"Kenapa tidak beri tahu aku? mana mungkin aku pergi begitu saja kak." Ucap Qaisya tampak kesal.


"Aku takut jika kamu tidak menerima aku lagi." Ucap Alva.


"Mana mungkin. . . "


"Alva." Perkataan Qaisya terhenti saat Arjana memanggil Alva, keduanya pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang paruh baya yang sedang berusaha mengayuh kursi rodanya mendekat ke arah Alva dan juga Qaisya.


Tatapan tajam dari Arjana membuat Qaisya takut, biasanya Arjana tak pernah menatap seperti itu kepada siapa pun.


"Kak Qaisya balik dulu ya." Ucap Qaisya ingin pamit.


"Eh jangan dulu, kamu ke sini kan mau minta di kembalikan lukisan kan?" ucap Alva yang sebenarnya masih merindukan Qaisya.


"Sudah biarkan dia pergi." Ucap Arjana dingin, alva menatap ayahnya dengan heran.


"Dan satu lagi, jangan pernah temui Alva lagi!!" ucap Arjana dengan tegas. Jelas hal itu membuat Qaisya dan Alva terkejut, kenapa Arjana malah bersikap seperti itu kepada Qaisya.


"Ayah apa-apa sih." Ucap Alva kesal.


"Pergi dari sini, aku tak ingin melihat wanita miskin seperti mu dan aku tidak mau memiliki menantu haram seperti mu, bahkan kedua orang tua mu pun tak tau di mana. Kami orang yang sangat terkenal karena kekayaan kami, mana mungkin aku biarkan anak ku menikahi orang seperti mu!!" Ucap Arjana.


Deg. . .


"Ayah!!" Ucap Alva marah.


Kata-kata itu bagaikan petir yang langsung menyambar ke dalam hati, qaisya kaget mendengar hal itu, ternyata Arjana tak menyukainya sama sekali, bahkan kata-kata itu sangat menyayat hati Qaisya.


"Baik om, maaf jika aku mempermalukan Alva, aku pamit." Ucap Qaisya yang langsung pergi.


"Jangan pergi." Ucap Alva ingin mengejar Qaisya, tapi tangannya di tahan oleh Arjana.

__ADS_1


"Ayah apa-apaan sih, kenapa mulut ayah begitu kasar?" Ucap Alva yang masih kesal.


"Ayah tidak setuju lagi kamu bersama Qaisya, tinggalkan dia, lagian yang ayah katakan benar adanya kan?" Ucap Arjana.


"Tidak seharusnya ayah mengatakan hal itu padanya, itu sangat kasar ayah, dan tidak mungkin aku meninggalkan dia, aku sangat mencintainya." Ucap Alva tidak mungkin melakukan hal itu.


"Ayah tidak mau tau, kamu harus menikah dengan Anna, dia sangat berjasa atas kesembuhan mu, kalau kau tak mau angkat kaki dari rumah ini, anggap saja aku bukan ayah mu." Ucap Arjana tegas.


"Anna? dia hanya merawat ku ayah, bahkan dia juga di bayar, kenapa aku harus menikahinya?" Alva benar-benar kesal dengan sang ayah.


"Anna sangat mencintai mu Alva." Arjana tau akan hal itu.


"Seharusnya dia merawat ku bukan malah jatuh cinta padaku!! bukan kah ayah yang mengatakan padaku bahwa aku berhak memilih siapa saja yang ku cintai? kenapa sekarang ayah malah berubah seperti dulu, yang selalu ingin menjodohkan aku dengan yang lain?" Alva mengeluarkan semua kekesalan yang ada di hatinya.


"Ayah tidak mau tau, Anna orang yang baik, ayah mau kamu bersamanya." Ucap Arjana tak peduli akan perasaan putranya.


"Tidak akan ayah!!" ucap Alva yang langsung pergi dari sana.


________________


Air mata itu pun tak henti-hentinya mengalir, ia tau memang yang di katakan Arjana itu benar, tapi dari mana Arjana tau tentang kehidupannya? atau Alva kah yang menceritakan semua itu pada arjana? entah lah banyak pertanyaan yang mulai muncul di pikiran Qaisya.


_____________________


Semalaman Qaisya tak mengangkat telepon dari Alva bahkan pesannya pun tak di balas oleh Qaisya, alva sangat merasa bersalah, hari ini ia ingin menjenguk Qaisya di rumah les. Sesampainya di sana, ia bertemu dengan bos les itu lagi.


"Pak Qaisya ada kan?" tanya Alva.


"Waduh Qaisya tidak ada, sepertinya dia sedang di kampus. Bagaimana pak apa lukisan itu sudah bapak kembalikan?" tanya bos itu.


"Ini yang ingin kami bahas pak." Ucap Alva.


"Kalau gitu, saya pergi dulu." Alva pamit, bos itu pun hanya mengangguk.

__ADS_1


Alva langsung menyusul Qaisya ke kampus tapi anehnya Qaisya tak ada di kampus, ia juga bertanya kepada orang yang ada di saja, sudah jelas tidak ada yang mengenal Qaisya. Siang pun telah tiba, Alva yakin Qaisya pasti sudah kembali ke rumah les, ia pun mencari Qaisya lagi ke rumah les, sesampainya di sana ternyata Qaisya tak ada di sana juga. Alva masih berusaha menghubungi Qaisya, tetap saja Qaisya tak mau mengangkat teleponnya, ia yakin pasti gadis itu sedang kecewa terhadap Alva.


Sore pun telah tiba, Alva yang sedari tadi menunggu Qaisya di rumah les, tapi Qaisya tak ada muncul di sana hingga sore hari, Alva merasa kelelahan akibat menunggu.


"Kemana dia?" Alva bertanya-tanya. Lama Alva merenung, akhirnya ia langsung ingat di mana tempat favorit Qaisya, tanpa berpikir panjang ia langsung beranjak ke lokasi.


_________________


Alva tersenyum saat melihat sosok wanita yang sangat ia kenal, ia melihat Qaisya. dari kejauhan yang sedang mengajari anak jalanan belajar, ia pun langsung keluar dari dalam mobil, mendekati mereka yang tengah asik di sana.


"Assalamualaikum." Ucap Alva.


"Waalaikumsalam, wah kak Alva." Salah satu anak itu berteriak, mereka yang ada di sana pun langsung melihat ke arah Alva, beberapa di antara mereka langsung memeluk Alva, dengan senang hati alva memeluk anak jalanan itu, ia juga merindukan suasana di bawah pohon itu.


"Kalian lagi belajar ya? gimana kalau hari ini kalian belanja di supermarket? kakak beri uang nya deh." Ucap Alva. Mereka pun langsung bersorak gembira.


Alva langsung memberikan uang kertas senilai 100 ribu per orang, anak-anak itu kegirangan, mereka langsung berlarian ke arah super market, hingga akhirnya tinggallah Qaisya sendirian di sana.


"Qaisya." Ucap Alva lembut. Qaisya tak bersuara, ia kesal kenapa harus berjumpa dengan Alva di sana.


Alva langsung duduk tepat di samping Qaisya, ia benar-benar merasa bersalah dengan kejadian kemarin.


"Maafkan aku, maafkan aku Qaisya." Ucap Alva.


"Apa yang perlu di maafkan? jangan temui aku lagi kak, ingat kata om Arjana kita tidak pantas bersama, yang ada aku hanya memalukan dirimu." Ucap Qaisya yang tak ingin menatap ke arah Alva.


"Tidak Qaisya, hanya kamu yang pantas untuk ku, aku memang salah, aku pernah menceritakan asal usulmu, dulu ayah ku menerima mu, tapi entah kenapa sekarang dia malah berkata kasar padamu. Aku minta maaf, aku juga minta maaf atas sikap ayah ku.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2