
"Pulang kemana biar aku antar." Tawar Alva.
"Gak perlu kak, turun di saja gak papa." Ucap Qaisya tak ingin merepotkan Alva.
"Ya sudah, oh ya besok kamu temui saya, ada hal penting yang harus saya bicarakan." Ucap Alva.
"Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Qaisya penasaran.
"Kenapa sekarang kalau bisa besok." Ucap Alva.
"Hadeuh kak Alva repot. Sekarang saya banyak jam kosong jadi ya bicarakan saja sekarang." Ucap Qaisya.
"Ya sudah." Ucapnya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah cafe yang sederhana, tapi saat itu cafe itu tidak terlalu ramai.
"Ngapain ke sin?" tanya Qaisya.
"Aku lapar." Ucap Alva turun dari mobil, dengan terpaksa Qaisya pun mengikuti Alva, setengah jam berlalu mereka telah selesai makan, qaisya sedikit grogi saat makan berhadapan dengan Alva, ia sengaja makan lebih pelan agar terlihat anggun di hadapan Alva.
"Aku ingin mengajak mu ke acara pernikahan." Ucap Alva mulai membahas rencananya.
"Siapa yang nikah?" tanya Qaisya.
"Teman saya." Ucap Alva.
"Kapan?"
"Lusa." Ucapnya.
"Lah kok cepat banget sih, minggu depan aja bisa gak? Minggu depan Qaisya baru gajian, sekalian bisa beli baju baru dulu kak." Ucap Qaisya ingin pernikahan itu di undur dulu.
"Kok malah kamu yang atur jadwal pernikahan orang? sudah lah pakai saja baju yang ada." Ucap Alva.
"Gak ada baju kak." Ucap Qaisya mengingat pakaiannya yang tak ada bagus sama sekali.
"Cewek gitu Mulu, bilang gak ada baju padahal penuh satu lemari." Ucap Alva dengan ekspresi mengejek ke arah Qaisya.
"Beneran kak, gak ada baju yang bagus untuk ke acara nikahan." Qaisya jujur saja.
"Ya sudah, besok aku jemput kamu ke sekolah, nanti saya belikan baju untuk mu." Ucap Alva.
__ADS_1
"Hah? kakak yang bayar? baju gratis?" Qaisya sangat antusias.
"Iya Qaisya." Ucap Alva.
"Wah . . . makasih banyak kak." Ucap Qaisya sangat senang sekali. Setelah membahas untuk datang ke acara pernikahan teman Alva mereka pun langsung pulang, qaisya tak ingin di antar sampai rumah takut jika nanti tetangganya mulai julid.
"Pulang dulu kak." Ucap Qaisya.
"Iya." Ucap Alva singkat.
Qaisya tiba di rumah pukul 5 sore, ia melihat tanaman di depan rumah yang menunggu Qaisya pulang, ia tau bahwa tanaman itu ingin segera di sirami air. Qaisya pun masuk ke dalam rumah, sudah ada nenek di sana yang menatapnya dengan tajam.
"Hmmmm. . . Qaisya Qaisya, kapan kamu berubahnya nak? capek nenek mengingatnya tetap saja kamu gak mau dengar." Ucap nenek yang memegangi pinggangnya dengan kedua tangan.
"Hehehehe sory sory. Otw ganti baju." Ucap Qaisya yang cepat-cepat masuk ke dalam kamar, ia takut jika nenek akan memperpanjang masalah itu.
___________________________
Qaisya sengaja bersembunyi setelah keluar dari kelas, ia sengaja menunggu siswa dan siswi yang lain untuk pulang terlebih dahulu, ia tak ingin siswa yang lain melihatnya di jemput oleh lelaki itu, Qaisya melihat dari kejauhan ada Alva yang setia menunggu dirinya di depan gerbang sekolah. Siswa lain sudah mulai pulang satu-persatu.
Setelah semua pulang Qaisya baru berani menampakkan diri di hadapan Alva.
"Maaf kak, tadi saya piket kelas dulu." Qaisya berbohong. Alva pun mengehela nafasnya, ia pun malas memarahi Qaisya.
"Ya sudah masuk." Ucap Alva.
Selama di perjalanan hening cipta di mulai, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka, hanyut dalam pikiran masing-masing, mereka pun sampai di sebuah rumah yang sederhana yang jelas Qaisya tak tau itu rumah siapa.
"Turun, kamu datangi rumah itu." Ucap Alva tak ingin melihat ke arah Qaisya.
"Saya gak kenal dengan orang rumah itu, gimana sih kakak ini." Ucap Qaisya tak ingin turun.
"Turun saja, katakan padanya kamu suruhan saya." Ucap Alva lagi.
"Enggak ah." Qaisya menolak.
"Turun!!" ucap Alva dengan suara yang sedikit tinggi, ia menatap tajam ke arah Qaisya agar Qaisya mau menurutinya.
"Enggak kak." Qaisya tetap menolak.
"Saya bilang turun ya turun, ingat kita masih punya kontrak." Ucap Alva lagi. Qaisya pun menghempaskan nafas kasarnya, ia pun terpaksa turun dari mobil itu, mobil itu pun tiba-tiba pergi begitu saja.
__ADS_1
"Gak jelas banget tu orang." Ucap Qaisya. Ia pun langsung menuju rumah itu.
"Assalamualaikum." Ucap Qaisya.
"Waalaikumsalam siapa y" tanya seorang wanita padanya.
"Saya Qaisya, suruhan kak Alva." Ucap Qaisya.
"Oooo ini yang namanya Qaisya, Ayuk masuk dulu." Ucap wanita itu, Qaisya pun menurutinya.
"Kenalin nama kakak ajawi, panggil aja kak aja. Kakak di suruh pak Alva untuk temanin Qaisya belanja keperluan untuk besok." Ucap Aja, Qaisya pun hanya mengangguk saja.
Setelah itu mereka pun berbelanja di mall terdekat, walaupun malas Qaisya tetap mengikuti arahan dari Aja, entah kenapa mood Qaisya rusak saat melihat Alva pergi meninggalkan dirinya di rumah kak Aja. Setelah selesai berbelanja Qaisya pun pamit pulang, ia menaiki ojek saat itu, awalnya Aja ingin mengantarkan Qaisya tapi Qaisya menolak.
"Mana Qaisya?" tanya Alva saat masuk ke rumah Aja.
"Sudah pulang pak." Ucap Aja.
"Loh kok pulang? kenapa gak nunggu saya?" Alva kesal lagi.
"Memang bapak ada bilang sama dia nungguin bapak?" tanya Aja. Alva pun hanya menggeleng.
"Ya sudah saya pamit dulu, bagaimana sudah di persiapkan semuanya?" tanya Alva lagi.
"Sudah pak, besok bawa saja dia ke sini biar saya dandanin. Oh ya pak Qaisya siapanya bapak?" tanya Aja yang super kepo.
"Bukan urusan mu." Ucap Alva langsung beranjak dari sana.
"Eh pak, tapi kan Qaisya cantik banget, makannya mau tanya Qaisya siapanya bapak." Ucap Aja yang melihat Alva pergi dari rumahnya.
"Bukan urusan mu." Ucap Alva langsung masuk ke dalam mobilnya. Aja hanya diam menatapi mobil Alva yang mulai hilang dari pandangannya.
"Hmm. . . pak Alva pak Alva. Padahal banyak wanita yang cantik kenapa malah milih Rinja." Ucap Aja yang tak abis pikir dengan sikap bosnya itu.
Aja adalah salah satu karyawan Alva, ia sudah bekerja lama dengan Alva bahkan bisa di bilang mereka adalah teman dekat, tapi Aja sudah menikah dan memiliki anak satu. Sudah bisa di tebak Aja tau tentang percintaan bosnya itu, bahkan karyawan yang lain juga tau, mereka sangat terkejut saat menerima undangan dari Rinja yang akan menikah dengan CEO yang bernama Farid, padahal hubungan Alva dan Rinja baik-baik saja akhiran ini, yang jelas hal ini menjadi perbincangan hangat di kalangan anak buah Alva, bagaimana bisa seorang pria tampan idaman banyak wanita itu malah di tinggal nikah oleh Rinja.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading
__ADS_1