
Mereka pun sampai do tempat tujuan, seperti biasa mereka makan bersama di sana, Qaisya minum setelah memakan semua makanan yang ada.
"Bagaimana sudah aman perutnya?" tanya Afatar. Qaisya pun langsung mengangguk antusias.
"Hmmm. . . . jadi sebenarnya aku ingin menyampaikan sesuatu." Ucap afatar membuka pembahasan.
"Apa itu?" tanya Qaisya penasaran. Afatar pun langsung mengambil sebuah surat dari dalma tasnya, ia menyerahkan surat itu kepada Qaisya. Qaisya langsung menerima, ia kaget saat menerima surat itu.
"Undangan pernikahan?" ucap Qaisya memastikan, Afatar pun langsung mengangguk. Tertera nama Afatar di sana, antara sedih dan senang telah bercampur menjadi satu saat melihat nama Afatar di sandingkan dengan seorang wanita yang jelas wanita itu bukan lah Qaisya.
"Selamat mas." Ucap Qaisya sangat terharu, ia pun menatap Afatar sambil meneteskan air mata.
"Kenapa nangis?" tanya Afatar tampak khawatir.
"Gak nyangka mas akan menikah, aku sangat berterima kasih pada mas, terima kasih atas semuanya selama ini." Ucap Qaisya memang tak sanggup lagi menahan air matanya. Afatar pun langsung mengusap air mata itu, ia tersenyum ke arah Qaisya, baginya membantu Qaisya adalah sebuah kewajiban sesama manusia.
"Sekali lagi selamat mas." Ucap Qaisya, menghapus air matanya.
"Terima kasih." Ucap Afatar tersenyum.
"Aku ingin kamu datang di acara nanti ya." Ucap Afatar berharap.
"Itu sudah pasti mas." Ucap Qaisya tersenyum. Setelah berbincang lama, mereka pun langsung pulang, Afatar mengantar Qaisya untuk pulang lagi. Sekarang Qaisya sudah bisa mengendarai motor sendiri, malah beberapa bulan lalu Afatar menawarkan mobil pada Qaisya, agar Qaisya tidak kepanasan jika bepergian, jelas hal itu di tolak oleh Qaisya, karena mengendarai motor saja ia masih sedikit kaku.
Sesampainya di rumah les, Qaisya hanya termenung sendiri, ia tak melanjutkan untuk melukis hari itu, bagaimana pun ia masih saja memikirkan Afatar, sebentar lagi Afatar akan memiliki tanggung jawab, jadi pasti Afatar tidak ada waktu lagi untuk bertemu Qaisya, mungkin Qaisya akan kesepian. Bagas telah pergi dan afatar pun pergi, mereka pergi karena kehendak Qaisya juga, Qaisya menolak kedua pria baik itu hanya demi seseorang yang tak jelas kabarnya bagaimana.
"Huh. . . . kak Alva, apa yang kau lakukan padaku hingga aku tidak bisa melupakan mu? kau pergi tanpa pamitan tapi bodohnya aku masih tetap menunggu mu." Ucap Qaisya menghempaskan nafas kasarnya. Mood Qaisya langsung berubah seketika, ia pun langsung mengambil tasnya untuk pulang, ia tinggalkan pekerjaan melukisnya.
Qaisya pergi ke perpustakaan kampus siang itu, ia ingin menghabiskan sisa hari ini di perpustakaan, ia membaca buku yang memang ia suka, walaupun moodnya kurang bagus tapi ia tetap akan membaca dengan ruangan yang sangat sejuk karena AC.
________________
__ADS_1
"Saya ingin membeli lukisan." Ucap seorang pria.
"Waduh, maaf pak sebagian pelukis di sini ada yang tidak hadir, ada juga yang sudah pulang ada juga yang sedang mencari makan." Ucap bos rumah les. Pria itu pun mengangguk paham, ia langsung berjalan di sekitaran sana melihat lukisan yang di pajang di dinding, yang jelas bos mengikuti langkah pria itu.
Pria itu terhenti tepat di sebuah lukisan yang terpajang di pojok kanan rumah itu, ia menyipitkan matanya melihat lukisan itu dari kejauhan, tanpa berpikir panjang ia pun langsung mendekati lukisan itu.
"Siapa yang lukis ini?" tanya pria itu.
"Namanya Qaisya pak, tapi sepertinya lukisan ini tidak di jual." Ucap bos itu. Pria itu tersenyum tipis saat melihat lukisan itu.
"Jika aku ingin membelinya?" ucap pria itu.
"Kami harus mengkonfirmasi dulu kepada pelukisnya pak." Ucap bos itu tak mau ambil keputusan sendiri.
"Saya rasa tidak perlu, aku akan membeli lukisan ini dengan harga yang tinggi." Ucap pria itu bersikukuh ingin membeli lukisan itu. Bos itu pun terdiam, ia sedang memikirkan solusinya.
"Aku akan membelinya sebesar 20 milyar bagaimana?" ucap pria itu.
"Kenapa pak?" pria itu panik. Bos pun langsung mengatur pernafasannya dengan baik.
"Maaf pak, saya sedikit serangan jantung saat mendengar harga lukisan yang bapak tawarkan." Ucap bos itu shok.
"Saya pikir bapak kenapa, bagaimana bapak setuju?" ucap pria itu. Bos itu pun langsung berdiri lagi menghadap ke arah pria di hadapannya. Ia menjabat tangan pemuda itu dengan tegas.
"Saya akan menjual lukisan ini pada bapak hari ini." Ucapnya sambil menjabat tangan. Pria itu pun langsung tersenyum mendengar hal itu.
"Bagus, tolong saya untuk membawa lukisan ini ke dalam mobil saya." Ucapnya. Bos itu pun langsung mengangguk antusias. Lukisan yang sangat mahal, mungkin lukisan ini akan menjadi lukisan paling mahal yang pernah di beli di rumah lukis itu, selama Qaisya melukis di sana, rumah les lukis semakin terkenal, Qaisya sangat berpengaruh di sana. Qaisya juga sudah di angkat menjadi guru lukis, tapi muridnya tidak terlalu banyak karena Qaisya masih ada kesibukan lain, yaitu melanjutkan pendidikan di universitas.
_______________
Dret. . . dret. . . dret. . .
__ADS_1
Ponsel Qaisya berbunyi, dia yang sedang sibuk membaca pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah ponsel, tertera nama bos rumah lukis ia lihat di sana. Tanpa berpikir panjang ia pun langsung mengangkat telepon tersebut.
"Halo pak, ada apa?" tanya Qaisya.
"Qaisya ada kabar gembira, lukisan mu sudah laku sebesar 20 milyar." Ucap bos sangat semangat.
"Oooooo. . . " Qaisya berhenti sejenak.
"Hah? 20 milyar? lukisan mana bapak jual?" Qaisya langsung kaget.
"Lukisan yang tadi pagi aku tawarkan untuk di jual." Ucap bos itu.
"What? kenapa bapak menjual lukisan itu, kan sudah ku bilang aku pikir-pikir dulu untuk menjual lukisan itu." Ucap Qaisya marah, tadinya yang terkejut kini berubah menjadi marah.
"Hei, bisa jangan ribu, ini perpustakaan bukan pasar!!" ucap penjaga perpustakaan yang membuat Qaisya terkejut lagi. Tanpa bicara lagi, Qaisya pun langsung mengambil tasnya dan keluar dari perpustakaan, semua mata malah tertuju padanya, ia tak menghiraukan orang yang sedang menatapnya.
"Bapak kenapa bisa jual lukisan aku sembarangan sih." Ucap Qaisya yang masih kesal, kini ia berjalan menuju parkiran.
"Lagian harga nya mahal banget, itu lukisan pertama yang di beli dengan harga yang tinggi." Ucap bos yang tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Bapak di mana?" tanya Qaisya.
"Di rumah les." Ucapnya bos.
"Saya ke sana, urusan kita belum selesai pak." Ucap Qaisya yang menahan amarahnya, ia langsung mematikan ponselnya. Ia menghidupkan motornya dan langsung melaju ke arah rumah les.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading
__ADS_1