Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 14 : berangkat


__ADS_3

Pagi itu Qaisya terpaksa bersiap-siap untuk pergi bersama Alva, padahal Qaisya memutuskan untuk tidak pergi tadi malam, tapi apalah daya nenek sedari tadi malah membantunya menyiapkan baju untuk Qaisya di sana. Qaisya masih merasa kesal dengan Alva, entah kenapa ingin sekali ia memarahi Alva saat ini juga.


Pukul 8 pagi alva pun sampai di depan rumah qaisya, nenek dengan semangat membantu membawa barang milik Qaisya ke dalam mobil, mata Qaisya menatap tajam ke arah Alva.


"Nek kami berangkat dulu ya." Alva pamit ia pun langsung mencium punggung tangan si nenek.


"Iya hati-hati di jalan, titip Qaisya ya." Ucap nenek sambil tersenyum.


"Pasti nek." Ucapnya. Qaisya pun ikut berpamitan pada nenek, ia juga mencium nenek sebelum pergi, ini pertama kalinya Qaisya pergi meninggalkan rumah untuk beberapa hari.


Alva menatap heran ke arah gadis yang ada di sebelahnya, tapi ia juga tetap fokus menyetir mobilnya.


"Kenapa wajah mu cemberut gitu?" tanya Alva heran. Qaisya langsung melihat ke arah Alva dengan tatapan yang tajam, perasaan kesalnya belum hilang dari semalam.


"Apa kakak tidak merasa bersalah sama sekali?" tanya Qaisya yang masih menatap Alva tajam.


"Bersalah? salah ku apa? Alva semakin heran.


"Kenapa kakak mengatakan pada nenek bahwa kakak pacar ku?" tanya Qaisya serius.


"Oh itu, kan memang iya kamu pacar ku." Ucap Alva menjawab dengan santai.


"Kakak tau aku tidak pernah berpacaran sebelumnya, lagian aku hanya pacar kontrak kakak, tidak sepatutnya kakak mengatakan hal itu pada nenek ku." Ucap Qaisya dengan suara yang sedikit meninggi. Alva diam sejenak, ia tau Qaisya sedang marah, tapi baginya itu hanya masalah sepele tapi bagi Qaisya itu masalah yang sangat besar.


"Jadi aku harus apa sekarang?" tanya Alva yang masih fokus menyetir.


"Katakan pada nenek kakak bukan pacar ku, bilang kalau kemarin hanya bercanda." Ucapnya serius.


"Kalau aku tidak mau?" alva kembali bertanya.


"Kenapa tidak mau?"


"Sudah lah itu penting untuk di bahas, kalau nenek menganggap aku pacar mu juga tidak masalah. bahkan kalau nanti masa kontrak kita berakhir, aku siap akan menjadi pacar kontrak mu." Ucap Alva yang tak ingin ambil pusing. Qaisya kembali diam, ia malas untuk meneruskan marahnya.


Lima jam berlalu, mereka kini sudah sampai di sebuah apartemen yang sederhana. Alva melihat ke arah gadis yang ada di sebelahnya, sedari tadi qaisya tertidur dan belum terbangun juga.


"Bangun." Ucap Alva lembut sambil mengayunkan bahu Qaisya. Tak perlu nunggu lama Qaisya langsung terbangun, ia mengucek matanya karena penglihatannya belum sempurna.

__ADS_1


"Kita sudah sampai." Ucap Alva, Qaisya pun hanya diam saja.


Mereka turun dari mobil dan membawa barangnya ke apartemen itu, Qaisya masih tak ingin berbicara dengan Alva saat itu.


"Di sini ada dua kamar, terserah kamu mau pilih yang mana." Ucap Alva saat mereka sudah berada di dalam apartemen itu. Qaisya masih diam, ia pun langsung membawa barang-barangnya masuk ke dalam kamar yang ia pilih, ia juga langsung menutup kamar itu.


"Apa dia masih marah?" alva bertanya-tanya.


Sore ini Alva harus berangkat ke kantor CT grup, mereka mengadakan acara besar di sana. Alva sudah siap dengan pakaian kantornya akan segera berangkat.


Saat keluar dari kamar, ia melihat kamar Qaisya yang masih tertutup, makanan yang ada di atas meja juga masih utuh di sana.


tok. . tok. . tok. . .


"Qaisya?" panggil Alva. Qaisya pun langsung membuka pintu itu, ia melihat Alva yang sudah rapi dengan pakaian kantornya.


"Ada apa kak?" tanya Qaisya.


"Kamu belum makan? makan trus sana. Aku akan pergi ke acara sekarang, kamu tetap di sini jangan kemana-mana, jika ada hal penting telepon aku segera." Ucap Alva menatap gadis itu.


Alva pun langsung pergi saat itu, ia tak bisa berlama-lama untuk datang ke acara itu. Qaisya pun langsung melihat ke atas meja yang di maksud Alva, ia pun langsung ke sana untuk makan siang yang belum ia makan, sedari tadi ia ketiduran sampai lupa makan.


____________________


Alva belum pulang sampai pukul 11 malam, Qaisya menunggu Alva di sofa yang ada di sana, sebenarnya Qaisya masih bertanya-tanya apa gunanya dirinya di bawa ke sana, tidak ada pekerjaan selain memasak, apakah Qaisya di bawa hanya untuk memasak saja? banyak pertanyaan yang muncul lagi di pikiran Qaisya.


Pintu itu pun terbuka, Qaisya langsung melihat ke arah pintu, sosok pria yang tak asing lagi di matanya, pria itu mendekat ke arah Qaisya.


"Kamu belum tidur?" tanya Alva duduk di samping Qaisya sambil membuka kaos kakinya.


"Belum, aku sudah masak, menunggu kakak untuk makan malam." Ucap Qaisya sudah menyiapkan makan malam untuk Alva.


"Apa kakak yang belanja bahan dapur tadi?" tanya Qaisya. Alva pun hanya mengangguk.


"Aku sangat lapar." Ucap Alva,


"Ya sudah ayo makan." Ajak Qaisya, mereka pun langsung menuju makan untuk makan bersama, padahal Qaisya sudah lapar sedari tadi tapi ia tetap memilih untuk menunggu Alva untuk makan bersama.

__ADS_1


"Masakan mu enak." Pujia Alva setelah selesai makan. Qaisya pun hanya tersenyum kaku.


"Kak, apa fungsinya aku di ajak ke sini?" tanya Qaisya terus terang.


"Menurut mu?" tanya Alva balik.


"Hanya untuk memasak kah?" tebak Qaisya. Alva hanya terkekeh mendengar perkataan Qaisya barusan.


"Aku sedang tidak baik-baik saja. Sebenarnya aku ke sini ingin liburan, aku ingin istirahat sejenak dan kamu hanya untuk kawan ku pergi healing." Ucap Alva jujur.


"Hanya untuk itu saja?" tanya Qaisya.


"Iya, maaf kalau aku mengajak mu. Jujur aku tidak tau harus mengajak siapa lagi." Ucap Alva menghela nafasnya.


"Memangnya kakak kenapa? lelah bekerja kah? atau ada yang lain?" Qaisya semakin kepo.


"Lelah tentang hati." Alva jujur.


"Wu. . . . mengerikan. . . . " ucap Qaisya menunjukkan ekspresi kagetnya.


"Ya sudah, silahkan tidur sana." Ucap Alva menyuruh Qaisya untuk tidur. Qaisya pun hanya mengangguk saja.


"Kau perlu ponsel ini?" tanya Alva menawarkan ponselnya.


"Untuk apa?" tanya Qaisya balik.


"Tidak ada televisi di kamar mu, mungkin kamu bosan bawa saja ponsel ini." Ucap Alva meletakkan ponsel itu di atas meja makan. Qaisya pun hanya mengangguk.


Qaisya mulai mengotak Atik ponsel Alva di kamar, ia sedikit paham dengan ponsel layar lebar, karena teman-temannya memakai ponsel seperti itu, berbeda dengan ponselnya yang mungkin berfungsi hanya untuk menelpon orang saja.


Qaisya mulai membuka aplikasi yang sangat ia suka, ia sering membuka tiktok di ponsel temannya saat di sekolah, melihat video lucu di sana sudah membuat Qaisya terhibur.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2