Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 36 : Bagas pergi


__ADS_3

2 Tahun berlalu.


Waktu berjalan begitu cepat, semua berlalu dengan deraian air mata, masih merasa tak terima dengan takdir ini, Qaisya masih tak bisa melupakan sosok lelaki yang pernah menyinari hari-harinya. Walaupun pun sudah berlalu dua tahun, ia masih saja menanti kehadiran pria itu walaupun tidak ada kepastian.


Qaisya sekarang sudah menjadi seorang mahasiswi, selain itu ia juga mulai menjual lukisan-lukisan indah yang di beli orang, bahkan ia kuliah tidak ingin meminta biaya pada nenek, ia sanggup untuk membiayai kuliahnya sendiri. Qaisya sangat bersyukur dengan kehidupan sekarang yang lebih baik dari dulu, ia tak terhambat lagi masalah ekonomi.


"Hai Qaisya." Sapa Bagas.


"Hai." Ucap Qaisya


"Yuk." Ajaknya. Qaisya pun langsung mengangguk dan duduk di jok belakang motor Bagas, sudah beberapa hari ini Qaisya di jemput oleh Bagas, hari ini Bagas mengajaknya ke taman, awalnya Qaisya menolak tapi Bagas mengatakan ada hal penting yang ingin ia sampaikan, mau tidak mau Qaisya pun akhirnya setuju untuk ke taman hari ini.


Tak lama kemudian mereka sampai di taman itu, mereka membeli buah segar untuk di makan di sana, suasana taman itu yang sangat menyenangkan, cocok untuk menenangkan pikiran sejenak.


"Qaisya tidak keberatan kan aku ajak ke sini." Ucap Bagas tidak enakan, Qaisya pun langsung menggeleng.


"Mau bilang apa? katakan saja." Ucap Qaisya.


"Hmmmm. . . sebelumnya aku minta maaf." Ucap Bagas gugup.


"Minta maaf kenapa?" tanya Qaisya heran.


"Aku minta maaf karena telah berani mencintaimu." Ucap Bagas jujur. Qaisya mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Jujur aku sudah lama menyukai mu, tapi sepertinya tidak dengan mu. Aku ke sini sengaja mengajak mu untuk terakhir kalinya, atau bahkan ini terakhir kalinya kita berjumpa jika memang kau menolak diriku, tak apa jika kau menolak ku itu sudah menjadi hak mu." Ucap Bagas berhenti sejenak.


"Aku menyukai mu semenjak kita bekerja bersama hingga kini, aku hanya ingin mengatakan itu, aku tak tau betul bagaimana isi hatimu, apakah ada sedikit ruang hatimu untuk bisa menerima ku?" ucap Bagas deg-degan. Qaisya terdiam, ia tak tau harus menjawab apa, ia takut akan menyakiti hati Bagas.


"Maaf. . . ". ucap Qaisya terhenti.


Bagas menatap Qaisya sekilas, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tak kecewa dengan perkataan Qaisya, malah ia senang jika dirinya sudah berani mengatakan bahwa dirinya suka pada Qaisya, dari dulu ia tak berani mengungkapkan itu.


"Maaf jika aku menyakiti hati mu." Ucap Qaisya merasa bersalah.


"Tidak kau tidak menyakiti ku, malah aku berterima kasih kau sudah mau ke sini bersama ku." Ucap Bagas sambil tersenyum. Setelah itu Qaisya hanya diam, ia tak tau lagi harus berbicara apa, jujur suasananya sudah terasa berbeda dari sebelumnya.


"Aku akan pulang ke kampung ku." Ucap Bagas berbicara lagi. Qaisya hanya menatap ke arah Bagas. Memang Bagas bukan asli sana, ia orang yang merantau dari kampung.


"Kedua orang tua ku menjodohkan ku dengan wanita yang ada di sana, awalnya aku tak mau karena aku sangat menyukai mu, tapi lama-kelamaan aku tidak mungkin selalu berada di posisi ini, mangkanya aku ingin tau bagaimana isi hati mu saat ini, jika aku sudah tau seperti ini, aku akan terima perjodohan kedua orang tua ku." Ucap bagas bercerita.


"Aku juga berharap kau bisa bahagia dengan wanita itu, cintai lah dia seperti dia mencintai mu, aku yakin kau adalah orang yang baik, tapi mungkin takdir tak menyatukan kita. Semoga bahagia dunia akhirat." Ucap Qaisya terharu. Bagas pun tersenyum, dan mungkin itu senyuman terakhir yang ia lihat, karena setelah itu Bagas akan kembali ke kampung halamannya.


Setelah banyak bercerita, Bagas pun mengantar Qaisya pulang, ia juga berpamitan pada nenek, ia mengatakan pada nenek bahwa ia akan menikah sebentar lagi, jujur nenek sangat senang mendengar hal itu, nenek juga minta maaf tidak bisa berhadir di acara pernikahannya nanti, nenek selalu mendoakan yang terbaik untuk Bagas, setelah berbincang lama dengan nenek, Bagas pun pamit saat itu. Qaisya mengantarnya sampai depan rumah, ia melihat Bagas yang mulai menjauh dari perkara gan rumahnya, semoga saja Bagas bisa bahagia dengan wanita itu, doa Qaisya.


Qaisya tersenyum, ia kembali masuk ke dalam rumah, ia mengurung diri di dalam kamar. Qaisya langsung memeluk gulingnya, entah kenapa hatinya terasa kesepian, ia kesal sendiri dengan hatinya yang terus-terusan mengingat akan Alva.


Setiap Qaisya bertemu dengan pria lain di luar sana, entah kenapa hatinya selalu mengingat Alva, bahkan selama kuliah banyak yang dekat dengan Qaisya, ada pula yang menyatakan perasaan pada Qaisya tapi Qaisya selalu saja mengingat Alva, padahal sudah jelas Alva tak menginginkan kehadirannya lagi. Walaupun begitu hati kecilnya masih selalu memanggil nama pria itu, hati itu masih mengharapkan kehadiran sosok Alva di hidupnya.

__ADS_1


Qaisya menangis, ia tak bisa menahannya lagi, jujur sedari tadi ia bersama Bagas, ia terus-terusan menahan air matanya, tak ingin menangis di hadapan Bagas, karena hal itu akan membuat Bagas akan bertanya lebih banyak lagi.


Bagas telah pergi dari hidupnya, pria yang setia menerima keluh kesah Qaisya selama ini, tapi bagaimana pun memang Qaisya tak ada rasa kepada Bagas, ia hanya menganggap Bagas sebagai teman baiknya.


_____________________


"Yah, cari in rinja lelaki yang kaya ayah." Ucap Rinja pada ayahnya. Ayahnya hanya diam saja, ia sudah malas mencarikan pria untuk anaknya, tak ad ayang mau lagi dengan anaknya padahal anaknya begitu cantik.


"Kau cari saja sendiri, ayah malas mencarinya." Ucap ayah Rinja.


"Ih ayah, ayah kan banyak kenal dengan pengusaha-pengusaha hebat." Ucap Rinja.


"Iya tapi tak ada yang mau dengan mu." Ucap ayah Rinja.


"Oke lah, aku akan cari jodoh sendiri." ucap Rinja berdiri dari duduknya.


"Mau kemana kamu?" tanya ayah Rinja saat melihat Rinja ingin pergi.


"Mau cari jodoh ayah." Ucap Rinja langsung pergi dari sana, ayah Rinja pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia sudah malas menghadapi sikap anaknya itu.


Malam yang indah itu, Rinja habiskan waktunya di bar bersama teman dan juga lelaki hidung belang di sana, ia sangat haus akan kasih sayang seorang lelaki, ia ingin memiliki suami secepat mungkin, karena Alva tak bisa di harapkan lagi, ia telah pergi entah kemana, sampai saat ini rinja tak mendengar kabar Alva lagi, Rinja berpikir mungkin Alva sudah bangkrut karena banyak usaha milik Alva yang kini sudah tutup.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading


__ADS_2