
Qaisya hanya diam, jujur hatinya masih terasa sakit walaupun perkataan Arjana itu benar adanya.
"Pergi lah kak, ikuti saja kata ayah mu." Ucap Qaisya.
"Tidak, aku tidak bisa meninggalkan mu, kau tau? selama dua tahun ini aku sangat tersiksa tanpa hadir mu, malah kini kamu mengatakan padaku untuk meninggalkan mu, itu tidak akan terjadi. Aku sangat mencintaimu." Ucap Alva menahan tangisnya. Qaisya terdiam, ia tak tau ingin mengatakan apa pada alva, jujur sebenarnya Qaisya juga masih merindukan Alva, bahkan ia juga merasa tersiksa selama 2 tahun tanpa kehadiran sosok Alva.
"Tetap saja, kakak harus mengikuti perkataan ayah kakak." Ucap Qaisya tak ingin Alva durhaka pada ayahnya.
"Di sisi lain, aku tak bisa meninggalkan mu Qaisya." Ucap Alva tak sanggup melakukan itu.
"Tapi. . . "
"Ku mohon Qaisya, aku janji akan meluluhkan hati ayah ku, aku yakin dia akan setuju dengan hubungan kita." Ucap Alva sambil memegang kedua tangan Qaisya. Qaisya langsung melihat ke arah Alva, raut wajah Alva yang sangat serius ketika mengatakan hal itu, apakah Qaisya harus mempercayai Alva atau tidak?
"Buktikan kalau kakak bisa." Ucap Qaisya menantang Alva.
"Baik, aku akan berusaha demi dirimu." Ucap Alva sambil tersenyum, qaisya pun ikut tersenyum, semoga saja Alva bisa memperjuangkan dirinya.
_______________________
Sesampainya di rumah, alva di kejutkan dengan kehadiran sosok wanita yang sangat dia kenal, wanita itu sedang berbincang dengan ayahnya di ruang tamu, apa gerangan wanita itu mendatangi rumahnya?
"Alva, akhirnya kamu pulang juga, duduk dulu." Ucap Arjana saat melihat kepulangan Alva. Ia pun hanya mengikuti perkataan ayahnya.
"Bagaimana keadaan mu mas?" tanya Anna dengan nada yang lembut.
"Sudah baik." Ucap Alva dingin.
"Syukur lah, aku ikut senang mendengarnya." Ucap Anna sambil tersenyum.
"Nah Alva, malam ini kamu temani Anna untuk belanja dulu yah." Ucap Arjana. Alva mengerutkan keningnya, ia melihat ke arah sang ayah, kenapa harus dia Yanga menemani Anna?
"Kenapa harus aku?" tanya Alva.
"Pendekatan, ayolah temani dia." Ucap Arjana.
"Tidak, aku sangat lelah." Ucap Alva langsung menolak.
__ADS_1
"Kau membantah apa yang ku katakan!!" ucap Arjana dengan nada yang sedikit tinggi, ia langsung menatap tajam ke arah Alva. Alva langsung menghempaskan nafas kasarnya.
"Ya sudah ayuk." Ucap Alva akhirnya menuruti kemauan sang ayah.
Selama di perjalanan mereka hanya diam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, alva sudah jelas tak menyukai hal ini.
"Mas nanti mau aku belikan apa? sekalian hadiah karena mas sudah sembuh kan?" ucap Anna akhirnya buka suara.
"Kamu kira aku sakit itu perlombaan, pake hadiah." Ucap Alva dengan nada yang ketus.
"Kan mas sudah berjuang selama dua tahun, itu bukan waktu yang singkat." Ucap Anna memuji Alva.
"Kalau bukan karena Qaisya, aku tak mau berjuang." Ucapnya ketus. Anna langsung terdiam saat mendengar nama gadis itu lagi, tidak hanya sekali Alva mengucapkan nama Qaisya, hampir setiap hari Anna mendengar nama itu keluar dari mulut Alva, walaupun Anna tidak tau siapa Qaisya, jujur hal itu sudah membuat Anna cemburu, betapa beruntungnya Qaisya bisa mendapatkan orang seperti Alva, itu lah yang selalu ada dalam pikiran Anna.
Tak lama kemudian mereka sampai di tempat tujuan, alva hanya mengikuti Anna dari belakang, ia tak mau jalan bersanding dengan gadis itu, ia hanya menjadi bodyguard Anna selama di mall.
Anna yang awalnya senang akan di temani Alva untuk berbelanja, malah kini ia kesal dengan Alva yang tak mau dekat dengannya, bahkan Alva juga tidak mau berbicara dengannya selama di mall.
"Mas, baju itu sepertinya cocok buat mas." Ucap Anna berusaha membuat lelaki itu mau berbicara dengannya.
"Kalau ini?" ucap Anna menunjukkan pakaian yang menurutnya cocok buat Alva.
"Tidak aku tidak suka, cepat berbelanja. Jangan membuang-buang waktu ku." Ucap Alva tampak kesal. akhirnya Anna pun tak mau lagi menawarkan apa pun pada Alva.
Anna pun langsung mencari barang yang ia perlukan, Alva masih mengikuti dirinya, moodnya langsung hancur melihat Alva yang semakin tak menyukai akan kehadirannya.
Saat sedang fokus memilih pakaian, dari kejauhan Anna melihat Alva yang sedang membeli kalung wanita, ia langsung cemberut melihat hal itu, jujur saja ia sangat iri dengan wanita yang ada di hati Alva.
Setelah berbelanja, mereka pun memutuskan untuk pulang, selama di jalan pulang mereka juga hanya diam seperti biasa.
"Kamu pulang kemana?" tanya Alva buka suara.
"Ke rumah ku saja." Ucap Anna.
"Aku tak tau rumah mu." Ucap Alva.
"Akan ku tunjukkan." Ucapnya.
__ADS_1
Anna adalah perawat di rumah sakit terbesar di kota itu, umurnya lebih muda dari Alva, selama di Singapura, Arjana menyewa Anna untuk bisa merawat putranya, selama dua tahun lah mereka sudah hidup berdampingan, Anna malah jatuh cinta pada Alva tanpa sengaja, berbeda dengan Alva yang selalu memikirkan Qaisya walaupun ia jauh dari gadis itu.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Anna, baru kali ini Alva mendatangi rumah Anna, tapi ia tak ingin masuk ke rumah itu.
"Mampir dulu mas." Ucap Anna.
"Tidak, aku sangat lelah, aku mau pulang, eh tunggu dulu." Ucap Alva yang langsung mengambil paperbag yang ia bawa tadi.
"Ini untuk mu." Ucap Alva memberikan paperbag itu pada Anna. Anna langsung terkejut melihat itu, ternyata kalung yang ia lihat tadi untuk nya bukan untuk Qaisya.
"Ini untuk ku mas?" tanya Anna memastikan lagi.
"Iya ini hadiah untuk mu, terima kasih sudah menjaga ku." Ucap Alva. Anna langsung menerima paperbag itu, jelas ia sangat bahagia dengan hadiah yang di berikan oleh Alva.
"Terima kasih mas, tetap jaga kesehatan." Ucap Anna sambil tersenyum. Alva pun hanya mengangguk, setelah itu Anna langsung pamit masuk, Alva melihat Anna sampai Anna masuk ke dalam rumahnya.
Alva menghela nafasnya, sepertinya hubungannya dengan Qaisya akan rumit jika ada Anna di antara keduanya. Alva melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tak pulang ke rumah, melainkan ingin mengunjungi Qaisya malam itu, sudah lama ia tak bertemu dengan nenek.
"Assalamualaikum. " Ucap Alva saat tiba di depan pintu rumah qaisya.
"Waalaikumsalam." Ucap nenek yang agak kaget melihat kedatangan Alva.
"Alva?" nenek langsung berdiri dari duduknya.
"Iya nek, apa kabar nek?" tanya Alva dengan senyuman.
"Baik baik, ayo masuk." Ucap nenek menyambut Alva dengan baik, nenek heran saat melihat Alva jalan sedikit pincang.
"Ya Allah nak Alva, kamu dari mana saja?" tanya nenek heboh.
"Maaf nek, alva menghilang selama ini, Alva kecelakaan nek." Ucap Alva yang membuat nenek terkejut.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading
__ADS_1