
Senja pun mulai tiba, mereka menikmati senja dari taman kota, tempat yang adem dan nyaman membuat Qaisya merasa betah di sana. Angin yang sejuk di temani senja sangat cocok di abadikan dalam momen sebuah Poto, Alva memotret Qaisya dengan ponselnya.
"Hmmm. . . Qaisya terima kasih ya." Ucap Alva saat duduk di samping Qaisya.
"Malah aku yang mengucapkan terima kasih kak, terima kasih sudah membawa ku ke tempat yang bagus di sini." Ucap Qaisya sambil tersenyum. Alva pun ikut tersenyum, ia tak menyangka seorang Bocil seperti Qaisya mampu membuat Qaisya tersenyum dalam waktu dua hari ini.
__________________________
"Assalamualaikum nek." Ucap Bagas
"Waalaikumsalam, eh nak Bagas. Silahkan masuk." Ucap nenek menyambut Bagas dengan senyuman. Bagas pun tersenyum dan langsung masuk ke dalam rumah itu. Nenek langsung membuatkan teh hangat untuk Bagas yang tengah duduk di ruang tamu.
"Di minum Bagas." Ucap nenek. Bagas pun mengangguk dan tersenyum.
"Ada gerangan apa nak Bagas datang malam-malam kemari?" tanya nenek langsung.
"Maaf sebelumnya nek menganggu, Bagas ke sini mau jenguk Qaisya, mau tanya kenapa Qaisya gak masuk kerja beberapa hari ini." Ucap Bagas yang selalu mengkhawatirkan Qaisya.
"Ooooo Qaisya gak kerja di sana lagi nak, di sudah punya pekerjaan tetap. Dan bagusnya lagi Qaisya sudah punya pacar yang tampan." Ucap nenek sangat bahagia jika mengingat pacar Qaisya.
"Ha? Qaisya punya pacar? siapa nek?" tanya Bagas kaget.
"Namanya Alva. Trus mereka lagi keluar kota, Qaisya menemani Alva di sana untuk kerja." Ucap nenek sambil tersenyum. Bagas langsung terdiam, ia tak menyangka Qaisya memiliki pacar. Ia sedang merenung memikirkan siapa Alva? sepertinya Bagas pernah mendengar nama itu.
"Baiklah nek, kalau gitu Bagas pamit pulang ya nek, ada pekerjaan yang harus Bagas selesaikan." Ucap Bagas ingin pamit.
"Ya udah, hati-hati di jalan nak." Ucap nenek. Bagas pun mengangguk sambil tersenyum, ia langsung pergi dari sana, nenek mengantarkan Bagas sampai depan rumah. Bagas mengendarai motornya dengan pelan, perkataan nenek masih terngiang di pikirannya.
Bagas langsung menghentikan motornya di pinggir jalan yang sepi, ia baru ingat siapa Alva, ia juga masih ingat bagaimana bentu wajah Alva.
__ADS_1
"Pantes saja Qaisya gak ganti rugi saat itu, apa Alva menyukai Qaisya? kenapa lelaki itu menjadi pemenangnya?" ucap Bagas mengehela nafasnya. Bagas merasa sedih ketika mendengar pernyataan nenek tadi, bagaimana pun Bagas masih mencintai Qaisya, tapi Qaisya tak tau akan hal itu. Bagas diam-diam menyukai Qaisya, bahkan ia selalu memperhatikan Qaisya ketika kerja di malam hari.
_____________________
Pagi yang cerah, Qaisya menikmati secangkir teh bersama Alva di balkon apartemen itu, entah kenapa Qaisya sangat menyukai momen-momen bersama Alva di sana, tak akan ia lupakan kenangan ini sampai kapan pun.
"Kita pulang hari ini kan kak?" tanya Qaisya memastikan lagi.
"Kenapa asik bertanya seperti itu? kita akan pulang hari ini lo." Ucap Alva sudah beberapa kali mendengar pertanyaan yang sama.
"Aku kangen nenek kak." Ucap Qaisya jujur.
"Iya habis ini kita langsung pulang." Ucap Alva. Qaisya pun langsung tersenyum dan mengayunkan tubuhnya, tanda ia senang sebentar lagi mereka akan pulang.
Ting. . . Ting. . . Ting. . .
Ponsel Alva berbunyi karena mendapatkan pesan WhatsApp, ia pun langsung membuka ponselnya, Qaisya yang di sebelahnya masih bisa melihat apa yang alva lihat di ponsel itu.
"Hmmm. . . " Alva hanya memperhatikan poto-poto itu.
"Siapa itu kak?" tanya Qaisya memberanikan diri untuk bertanya.
"Anak teman ayah ku, mereka ingin menjodohkan aku dengan anak mereka." Ucap Alva yang masih memperhatikan Poto itu.
"Oooooo. . . jangan pilih dari foto kak, tapi pilih dari sifat mereka. " Ucap Qaisya memberikan saran, saran yang membuat hatinya sakit. Alva pun langsung melihat ke arah Qaisya, ia menatap mata Qaisya sangat lama.
"Jadi kecantikan itu tidak penting?" tanya Alva yang masih menatap Qaisya.
"Ya kalau menurut Qaisya lebih baik melihat sisi baiknya, karena kalau fisik bisa berubah kapan saja, selama kita punya modal untuk perawatan diri. Tapi kalau kenyamanan hati itu akan bertahan sampai selamanya, bahkan fisik pun akan berubah jika sudah tua nanti." Ucap Qaisya menjelaskan, jujur sebenarnya ia sangat cemburu.
__ADS_1
"Hmmmm. . . jadi aku mencari istri yang bagaimana?" tanya Alva dengan serius.
"Yang penting memiliki akhlak yang baik, dan penurut, yang terpenting lagi tentang kenyamanan hati kakak." Ucap Qaisya.
"Apa aku bisa mempercayai mu? kan kamu masih di bawah umur Pemikiran mu pasti belum dewasa." Ucap Alva yang masih tetap menatap Qaisya.
"Hmmm. . . itu kan hanya saran saja, karena aku perempuan mangkanya aku bilang gitu." Ucap Qaisya yang tak berani menatap mata Alva.
"Kamu tidak cemburu? bukan kah kamu pacar ku saat ini?" tanya Alva menguji Qaisya.
"Itu kan hanya kontrak 3 bulan saja, setelah itu kita bukan siapa-siapa lagi." Ucap Qaisya dengan hati yang kurang mood. Alva pun hanya terkekeh saja mendengar pernyataan Qaisya. Alva pun menutup ponselnya dan langsung berdiri dari duduknya.
"Ayo kita pulang." Ucap Alva yang langsung masuk ke dalam, Qaisya pun hanya mengikuti langkah kaki Alva. Barang-barangnya sudah ia siapkan dari semalam. Tak butuh waktu lama mereka pun langsung keluar dari apartemen itu, kini mereka sudah berada di dalam mobil, entah kenapa mood Qaisya langsung berubah drastis saat ia melihat Poto wanita yang ada di ponsel Alva tadi.
"Kamu suka melukis?" tanya Alva saat mereka perjalanan pulang. Qaisya pun langsung mengangguk, ia tak ingin menatap Alva saat itu, karena ia masih cemburu terhadap Alva.
"Lukisan mu itu sangat bagus, kalau di jual pasti banyak yang berminat." Ucap Alva memuji lukisan Qaisya.
"Apa hadiah itu akan kakak jual?" tanya Qaisya dengan polos.
"Kali ada yang beli, ya boleh-boleh saja." Ucap Alva sambil tertawa, sedangkan Qaisya hanya menunjukkan ekspresi datarnya, melihat Alva yang tertawa saja membuat mood Qaisya semakin buruk. Qaisya hanya diam, ia memilih memandang ke arah kaca mobil, ia tak ingin berbicara dengan Alva, ia pun mulai menutup matanya.
"Tapi mana mungkin aku menjualnya, itu kan hadiah dari mu." Selang beberapa menit Alva pun kembali bersuara.
Ia melihat ke arah Qaisya, tapi Qaisya membelakangi Alva, ia pun langsung mendekatkan dirinya ke arah Qaisya, suara dengkuran kecil pun terdengar ke telinga Alva.
"Dia sudah tidur? cepat sekali." Ucap Alva menggeleng-gelengkan kepalanya. Pada6 masih pukul 9 pagi tapi Qaisya sudah tertidur lagi di dalam mobil.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading