Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 37: "Mau kah kamu menjadi istri ku?"


__ADS_3

Hari weekend Qaisya habiskan di rumah les, rezeki yang tak pernah terduga, banyak sekali lukisannya terjual, lukisannya juga di jual lewat online oleh rumah les, jelas hal itu membuat Qaisya tak khawatir lagi akan biaya kuliahnya.


"Hmmm. . . Qaisya, lukisan ini sudah ada yang beli?" tanya guru les padanya.


"Ini tidak Qaisya jual pak." Ucap Qaisya tak ingin menjual salah satu lukisannya.


"Kenapa?" tanya guru.


"Pembuatan lukisan ini sangat lama dan sangat bermakna bagi saya, jadi ini gak saya jual pak." Ucap Qaisya lagi.


"Jika ada yang membeli dengan harga tinggi bagaimana?" tanya guru itu. Qaisya diam sejenak, ia tengah berpikir panjang dengan lukisan yang indah itu.


"Nanti saya pikirkan dulu pak." Ucap Qaisya tak ingin gegabah.


"Baik, kalau jadi nanti hubungi saya." ucapnya. Qaisya pun langsung mengangguk.


Setelah guru les itu pergi, Qaisya menatap ke arah lukisannya yang selalu ia pajang di sana, lukisan itu juga menjadi penyemangat nya selama ini, karena lukisan itu menunjukkan akan kisah Qaisya dan Alva di sore lari di laut, menatap langit yang indah, matahari yang mulai tenggelam. Lukisan itu juga menunjukkan bahwa ia sangat merindukan kehadiran sosok Alva di sampingnya.


"Hai Qaisya." Ucap seorang pria datang menghampiri Qaisya.

__ADS_1


"Eh mas." Ucap Qaisya tersenyum.


"Kami sedang apa?" tanya Afatar.


"Ini sedang memikirkan mau buat lukisan apa lagi, aku sedang bingung mas." Ucap Qaisya.


"Bagaimana kalau kita makan dulu?" ajak Afatar.


"Boleh deh." ucap Qaisya mengangguk antusias. Mereka pun langsung berangkat, Qaisya sedang lelah dengan keadaan ini, dengan kedatangan Afatar mungkin bisa membuatnya tenang sejak, Afatar yang telah menemaninya selama ini, ia sangat bersyukur akan kehadiran Afatar yang tak membuat Qaisya kesepian lagi, tapi balik lagi dia adalah seorang lelaki, bagaimana pun usaha kita membuat tali persahabatan antara laki-laki dan perempuan mungkin agak susah, kenapa? karena bisa jadi salah satunya akan menyukai satu sama lain atau bahkan keduanya sama-sama suka.


Seperti itulah yang di rasakan oleh Qaisya dan juga Afatar, Qaisya selalu menganggap Afatar adalah orang yang baik, ia menganggap Afatar seperti abangnya sendiri, berbeda dengan Afatar yang menganggap Qaisya lebih dari adik, ia ingin lebih dari itu.


Flashback on


"Qaisya aku ingin berbicara sesuatu." Ucap Afatar di saat sore hari, pemandangan yang indah dan sunset yang mulai hadir menemani mereka.


"Mau bicara apa mas, katakan saja." Ucap Qaisya.


"Aku ingin jujur pada mu, pertama kali aku melihat mu aku jatuh hati padamu, apalagi saat melihat lukisan indah mu, jujur itu sudah terjadi sejak lama. Aku ingin mencari pasangan yang sangat sederhana, maukah kamu menjadi istri ku?" ucap Afatar dengan serius. Jantung Qaisya berdetak lebih kencang dari sebelumnya, ia tak menyangka Afatar akan menyatakan perasaannya saat itu, bagiamana pun ia menganggap Afatar sebagai Abang tidak lebih dari itu, walaupun tak pernah bertemu di hati Qaisya tetap ada Alva di sana. Qaisya terdiam, ia tak tau ingin menjawab apa, bagaimana pun Afatar sangat berjasa bagi Qaisya, tapi mana mungkin ia menerima Afatar hanya karena kasihan.

__ADS_1


"Bagaimana? atau gini, apa selama ini kamu punya perasaan pada ku? sedikit saja, jika tidak katakan tidak, aku tidak akan kecewa, jika ada sedikit saja perasaan itu, yakin aku akan berjuang untuk mendapatkan mu." Ucap Afatar yang selalu berpikir dewasa. Mendengar itu membuat Qaisya semakin merasa bersalah, bagaimana pun ia tak ingin jauh dari pria itu tapi di sisi lain ia tak bisa berbohong pada hatinya sendiri.


"Bagaimana?" tanya Afatar.


"Ma. . . . ma. .. . maaf mas, jujur Qaisya gak punya perasaan sama mas." Ucap Qaisya yang langsung menunduk, ia tak sanggup melihat raut wajah Afatar yang kecewa. Afatar pun langsung mengangguk pelan, ia berusaha untuk tidak kecewa di sana.


"Baik, tidak masalah. Terima kasih sudah mau jujur, jangan menganggap ini pertemuan terakhir kita, kau tetaplah adik ku." ucap Afatar sambil tersenyum. Qaisya yang menunduk langsung melihat ke arah Afatar yang tengah tersenyum padanya. Afatar benar-benar lelaki yang sangat dewasa, siapa pun yang hidup bersamanya, Qaisya yakin itulah wanita yang beruntung, tapi tidak dengan Qaisya yang memang tak memiliki perasaan pada lelaki itu. Banyak yang mengatakan bahwa cinta itu tumbuh dengan berjalannya waktu, tapi jika masih ada Alva di hati Qaisya akan susah ia mencintai orang lain, setahun lalu Alva menghilang sampai sekarang perasaan itu masih sama tak tergores sedikit pun, Qaisya pun memilih untuk tidak menyakiti Afatar lebih jauh lagi.


"Aku tidak akan memaksa hati mu, tapi apa alasan mu tidak mau bersama ku?" tanya Afatar penasaran.


"Karena ada seseorang dalam hati ku, banyak yang bilang cinta akan tumbuh dengan berjalannya waktu, tapi lihat lah dengan berjalannya waktu aku masih mencintai orang yang sama. Aku takut jika suatu hari nanti aku akan menyakiti mas, aku tak mau itu terjadi pada mu, mas orang baik tak pantas untuk di sakiti." Ucap Qaisya menjelaskan, tapi ia tak pernah mengatakan pada Afatar bahwa lelaki yang ia maksud adalah Alva.


"Umur mu masih muda, tapi kamu dewasa. Beruntung sekali pria itu yang mendapatkan mu, tidak masalah, semoga kamu bisa bahagia di kemudian hari dengan pria yang kau inginkan." Ucap Afatar tersenyum, ia menutupi kekecewaannya di hadapan Qaisya, ia juga tak pernah bertanya siapa lelaki yang di maksud oleh Qaisya, karena bagi Afatar itu masalah pribadi Qaisya yang tak perlu ia tau lebih jauh.


Setelah pernyataan perasaan dari Afatar membuat Qaisya merasa canggung jika melihat Afatar, bagaimana pun ia sangat merasa bersalah. Tapi anehnya pria itu tidak pernah hilang dari kehidupan Qaisya, ia selalu hadir jika Qaisya membutuhkan, bahkan Afatar sering mengatakan jangan sungkan padanya hanya karena menolak cintanya, Afatar bilang itu Saudah menjadi hal yang biasa. Semakin lama Qaisya pun semakin terbiasanya seperti semula. Afatar tak pernah lagi membahas masalah itu, masalah itu seperti lenyap dengan sendirinya.


Walaupun kecewa ia tak pernah meninggalkan Qaisya ketika wanita itu sedang susah, ia selalu membantu Qaisya dengan tulus, ia juga tidak berharap akan Qaisya lagi, walaupun Qaisya sempurna di matanya mungkin takdir berkata lain, mungkin Tuhan sudah menentukan jodoh yang terbaik buat Qaisya dan buat Afatar sendiri.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading


__ADS_2