
"Hah? aku tidak salah dengar?" ucap Alva kaget mendengar perkataan ayahnya.
"Aku tidak ingin mengulang perkataan ku." Ucap Arjana. Alva pun langsung tersenyum, tak mungkin ia salah dengar akan hal itu.
"Sebelum itu, kau bawa dia menemui ayah." Ucap Arjana lagi.
"Pasti ayah, terima kasih ayah." Ucap Alva sangat senang. Malam yang begitu indah bagi Alva, ia kembali ke kamar dengan senyuman yang lebar akhirnya ia mendapatkan restu dari sang ayah, entah apa yang membuat ayahnya berubah pikiran tentang Qaisya.
Alva merebahkan tubuhnya di atas kasur, senyumannya belum pudar sedari tadi, ini yang ia tunggu-tunggu, hidup bersama sang kekasih, semoga saja semua berjalan lancar seperti rencana yang ingin Alva buat.
___________________
Pagi yang cerah itu, Alva menunggu Qaisya di kampus, gadis itu mengabarkan bahwa ia sedang berada di kampus saat itu, tak lama kemudian munculnya sosok orang yang sangat Alva kenal.
"Selamat siang sayangku." Ucap Alva dengan senyuman.
"Siang juga kak." Ucap Qaisya sambil tersenyum.
"Oh ya, gimana kalau kita ke pantai?" ucap Alva.
"Tumben?" Qaisya heran.
"Ayolah." Ucap Alva. Qaisya pun hanya mengangguk, entah apa gerangan Alva mengajak Qaisya ke pantai siang itu.
Selama di perjalanan mereka hanya mendengarkan lagu yang di putar oleh Alva, tak lupa Qaisya mendengarkan lagu itu sambil ngemil makanan ringan. Tak lama kemudian mereka sampai di pantai, suasana yang alami dan segar, walaupun panas hal itu tidak akan membuat Qaisya lagi dari bibir pantai itu, mereka makan terlebih dahulu, ingin sekali Alva mengungkapkan sesuatu kepada Qaisya hari ini.
"Tumben kakak ngajak Qaisya ke sini?" ucap Qaisya yang masih heran.
"Ada yang ingin ku katakan pada mu." Ucap Alva.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Qaisya mulai penasaran.
"Hmmm. . . gimana yah." Ucap Alva bingung ingin mulai dari mana.
"Gimana apanya?" tanya Qaisya semakin penasaran. Alva menarik nafas panjang, ia mengubah posisi duduknya tepat di hadapan Qaisya saat ini, berlahan ia menggenggam erat tangan gadis itu, Qaisya pun langsung heran melihat itu.
"Qaisya, lihat aku." Ucap Alva lembut, Qaisya pun langsung menatap mata Alva.
"Qaisya, kau tau? aku sangat bahagia akan kehadiran mi, terima kasih selalu ada menanti dan menunggu ku, bahkan di saat aku pergi jauh kau masih saja menunggu ku, ketika banyak orang yang. ingin bersama mu tapi kau tetap menunggu ku yang tak jelas di mana." Ucapnya berhenti sejenak.
"Mungkin ini kesempatan yang tak ingin ku sia-siakan, aku tak ingin kau menunggu lama dan aku tak ingin kau di ambil orang, aku berhadap kau mau menerimanya. Qaisya. . . . mau kah kamu menjadi istri ku?" ucap Alva dengan lembut, ia masih menatap mata Qaisya, tatapan itu sangat tulus dan tidak berbohong.
Qaisya kaget mendengar hal itu, antara takut dan senang bercampur menjadi satu, tapi bagaimana dengan ayah Alva? itu lah satu pertanyaan yang muncul di pikiran Qaisya.
"Bagaimana dengan ayah?" tanya Qaisya sedikit ragu.
"Aku mengajak mu menikah karena permintaan ayah." Ucap Alva tersenyum.
"Iya, ayah ingin kau menemui ayah nanti malam." Ucap Alva. Qaisya pun langsung tersenyum, kabar bahagia yang ia dengar.
"Jadi sekarang gimana, apakah kamu mau menjadi istri ku?" tanya Alva sekali lagi.
"Hmmmm. . . . tidak." Ucap Qaisya yang membuat Alva kaget.
"Tidak akan menolak." Lanjutnya. Mendengar hal itu pun Alva langsung memeluk Qaisya, berani-beraninya gadis itu mempermainkannya. Qaisya langsung tertawa puas begitu pun dengan Alva yang tertawa gemas melihat tingkah Qaisya.
________________________
Malam itu Qaisya menemui Arjana di rumahnya, Alva juga ikut menemani di sana.
__ADS_1
"Aku hanya ingin berbicara empat mata dengan Qaisya." Ucap Arjana, Alva yang mendengar itu pun langsung pergi dari sana. Qaisya yang tinggal di sana sangat deg-degan, kenapa harus berbicara berdua? ini yang membuatnya takut pada arjana.
"Kamu mencintai putra ku?" tanya Arjana serius. Qaisya menarik nafas panjang, agar ia tidak grogi.
"Iya pak, bahkan selama Kak alva pergi aku tetap menunggunya walau ia tak ada kepastian, rasa cinta ku padanya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata." Ucap Qaisya serius. Arjana pun langsung tersenyum.
"Aku paham itu, aku hanya ingin minta maaf padamu, maafkan perbuatan ku beberapa Minggu lalu, yang mungkin mengusir mu bahkan tak mengizinkan kau mendekati putra ku. Tapi ternyata sebesar apa pun effort ku untuk menjodohkannya tetap saja kebahagiaannya ada padamu, bahkan mungkin sebaliknya. Jadi aku minta maaf atas itu." Ucap arjana.
"Yang jelas sudah ku maafkan pak, aku tau bagaimana perasaan bapak, pasti bapak ingin yang terbaik pada putra semata wayang bapak, aku paham akan hal itu dan aku sudah memaafkannya." Ucap Qaisya sambil tersenyum.
"Mulai sekarang jangan panggil aku pak, panggil aku ayah." Ucap Arjana.
"Baik a-ya-h." Ucap Qaisya sedikit grogi, ini baru pertama kalinya ia menyebut seseorang dengan sebutan ayah. Yang jelas Qaisya sangat senang akan hal itu.
______________________
"Saya terima nikahnya Qaisya binti adam dengan mas kawin 50 gram di bayar tunai." Ucap Alva dengan tegas.
"Bagaimana para saksi sah?"
"Sah" Ucap mereka.
Hari di mana, hari itu akan menjadi kenangan yang terindah bagi hidup Qaisya dan juga Alva, mereka berharap akan menjadi keluarga yang bahagia, nenek sangat senang melihat cucu kesayangannya bersanding dengan pria yang sangat sempurna di mata nenek, yang jelas ia tak henti-hentinya bersyukur akan hidup ini, anak yang tak di inginkan ternyata menjadi lampu kehidupan bagi nenek, ia tak pernah menyesal membesarkan Qaisya dengan penuh kasih sayang.
Tamat. . . . . .
Assalamualaikum guys, terima kasih sudah mengikuti author sejauh ini♥️ terima kasih atas like dan dukungannya. Maaf jika author memberikan cerita yang kurang menarik dan terlalu pendek, author usahakan untuk kedepannya membuat cerita yang lebih menarik lagi, sekali lagi mohon maaf dan terima kasih guys♥️
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading