Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 26 : Di bawah pohon rindang


__ADS_3

Hari weekend yang di tunggu-tunggu, akhirnya Qaisya bisa menghirup udara yang segar walaupun hanya sehari saja, tapi ia tak akan menyia-nyiakan hari liburnya. Qaisya masak yang banyak hari ini, ia berencana akan mengunjungi anak jalanan dan makan bersama di sana.


Pukul 11 siang, masakan Qaisya pun sudah siap, ia berangkat dengan jalan kaki, sudah lama ia tak mengunjungi anak-anak yang ada di sana. Qaisya melihat dari kejauhan, ada beberapa anak yang tengah duduk di bawah pohon, ada juga yang sedang bekerja di bawah terik panas matahari.


"Hai, apa kabar?" tanya Qaisya mendekati anak yang ada di bawah pohon itu.


"Wah ada kak Qaisya, kami baik-baik kak. Bagiamana dengan kakak?" tanya salah satu dari mereka.


"Kakak juga baik." Ucap Qaisya langsung ikut gabung bersama mereka.


"Kalian sedang apa?" tanya Qaisya saat melihat ada buku dan pulpen di sana.


"Lagi belajar nulis kak." Ucap salah satu dari mereka. Mendengar hal itu pun Qaisya langsung tersenyum, anak jalanan di sana punya usaha yang sangat luar biasa untuk menjadi anak yang pintar.


"Coba deh tulis lagi, kakak yang koreksi." Ucap Qaisya, mereka pun langsung mengangguk antusias. Lama-kelamaan anak yang lain pun mulai ikut gabung saat melihat Qaisya berada di bawah pohon, mereka juga ingin belajar bersama Qaisya, jelas hal itu membuat Qaisya sangat senang. Di bawah pohon yang rindang mereka belajar bersama, tak henti-hentinya Qaisya bersyukur atas apa yang telah di berikan padanya, karena kenapa? karena masih banyak orang yang tidak bisa menempuh pendidikan seperti anak yang lainnya.


"Kak lihat Adi sudah bisa nulis dari A sampai Z." Ucap Adi menunjukkan hasil tulisannya kepada Qaisya. Adi masih berumur 7 tahun, ia termasuk anak yang paling muda di sana, semangat belajarnya yang tak pernah surut, bahkan Qaisya sering melihat Adi selalu membawa buku tulisnya jika bekerja. Qaisya pun langsung mengambil buku Adi, benar saja anak kecil itu sudah bisa menulis abjad dengan baik.


"Wah. . . Adi hebat." Ucap Qaisya memujinya. Begitu pun anak yang lainnya ingin tulisan mereka di koreksi oleh Qaisya.


"Oke jadi sekarang kita istirahat dulu, sebentar lagi lanjut belajar, kakak dah bawa makanan yang banyak ni." Ucap Qaisya mengeluarkan makanan yang telah ia masak tadi.


"Hore. . . " ucap mereka bahagia.


"Ehem. . . aku gak di ajak ni?" ucap seseorang membuat semua orang di sana langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Kak Alva?" ucap Qaisya kaget, ia langsung berdiri saat melihat Alva ada di sana, ia membawa banyak makanan dan buah-buahan.


"Kenapa kakak bisa ada di sini?" tanya Qaisya heran.


"Tadi aku ke rumah, kata nenek kamu di sini, jadi aku banyak bawa makanan yang banyak nih." Ucap Alva dengan senyuman manisnya.


"Kakak siapa? kakak kenal sama kak Qaisya?" tanya seorang anak yang ada di sana. Alva pun langsung duduk gabung bersama anak lainnya.

__ADS_1


"Hai, perkenalkan nama kakak Alva." Ucap Alva tersenyum.


"Wah. . . kakak kok tampan banget." Ucap Imna langsung jujur. Sebagian dari mereka pun langsung tertawa renyah, termasuk Alva, Qaisya hanya terkekeh saja, Qaisya pun langsung duduk kembali.


"Kakak temannya kak Qaisya ya?" tanya Adi.


"Hmmm . . . bukan teman lebih tepatnya pacar kak Qaisya." Ucap Alva, jelas hal itu membuat Qaisya sangat malu di depan anak-anak itu.


"Wah. . . kak Qaisya sudah punya pacar." Ucap mereka sangat kaget, Qaisya hanya bisa menunduk menahan malu.


"Sudah. . . sudah. . . kalian lapar kan? bagaimana kalau kita makna dulu?" ajak Alva.


"Iya kak kami sangat lapar." Ucap anak itu. Mereka pun langsung makna bersama di sana, yang jelas ini baru pertama kalinya Alva bergabung dengan anak-anak yang tinggal di jalanan. Entah kenapa melihat anak-anak itu bahagia membuat Alva tambah semangat apalagi di temani Qaisya yang ada di sebelahnya.


"Ini masakan mu?" tanya Alva pada Qaisya. Qaisya pun langsung mengangguk.


"Hmmm. . . sangat enak." Ucap Alva memuji masakan Qaisya.


"Masakan kak Qaisya memang selalu enak kak." Ucap salah satu dari mereka. Qaisya hanya tersenyum malu saat masakannya di beri pujian. Setelah makan siang, mereka langsung makan buah-buahan lagi, baru kali ini mereka merasakan buah-buahan yang belum pernah mereka makan.


"Oh ya? kalau memang kalian suka, nanti bakalan kakak belikan lagi deh." Ucap Alva


"Wah. . . makasih ya kak." Ucap mereka semakin senang. Satu jam berlalu, anak-anak itu kembali berjualan seperti biasanya, tinggal lah Qaisya dan Alva di sana.


"Kenapa kak Alva mau ke sini?" tanya Qaisya membuka pembicaraan.


"Memangnya kenapa?" tanya Alva balik.


"Qaisya pikir kakak gak akan mau bermain dengan anak jalanan." Tebak Qaisya.


"Malah aku sangat senang bertemu mereka, kamu sering ke sini?" tanya Alva.


"Dulu semasa sekolah aku selalu ke sini kak, tapi setelah bekerja aku jarang ke sini karena belum ada waktu." Ucap Alva sangat merindukan masa-masa sekolah.

__ADS_1


Dret. . . dret. . . dret. . .


Tiba-tiba ponsel Alva berdering, ia pun langsung mengambil ponselnya dalam saku celana, Alva langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Qaisya.


"Hallo?" ucap Alva.


"Kamu di mana Alva? aku sangat merindukanmu, kenapa hari ini kamu tidak ke sini?" tanya Rinja dari seberang sana. Alva hanya terdiam, entah kenapa Alva tak suka dengan sikap Rinja.


"Aku sedang bersama pacar ku." Ucap Alva langsung jujur.


"Pacar? pacar anak jalanan itu, ih kamu kok bodoh banget Alva, kenapa kamu mau pacaran sama orang kotor seperti dia." Ucap Rinja tak suka dengan Qaisya.


"Bukan urusan mu." Ucap Alva dingin.


"Tentu itu urusan ku, dari pada kamu menemani orang kotor itu lebih baik kamu temanin aku." Ucap Rinja yang teru membujuk Alva. Tanpa berkata-kata lagi Alva langsung mematikan ponselnya, tak lupa ia langsung mematikan daya ponselnya itu.


"Siapa?" tanya Qaisya saat Alva sudah duduk di sampingnya.


"Karyawan ku, biasa minta cuti." Ucap Alva berbohong. Qaisya pun hanya mengangguk saja.


Alva melihat ponsel Qaisya yang ada di pangkuannya, Alva pun langsung mengambil ponsel itu, Qaisya masih memakai ponsel yang lama, bahkan jika poto-poto hasilnya belum tentu bagus.


"Aku belikan ponsel untuk mu ya." Ucap Alva mengembalikan ponsel Qaisya. Qaisya pun langsung menggeleng.


"Kenapa?" tanya Alva.


"Aku ingin membeli ponsel dari hasil kerja keras ku kak, aku tau kakak orang yang kaya, tapi bisa kah kakak memberikan kesempatan padaku untuk berusaha sendiri?" ucap Qaisya yang selalu menolak pemberian Qaisya. Alva pun langsung tersenyum, sangat dulu mendapatkan wanita seperti Qaisya, bahkan dulu saat Alva berpacaran dengan Rinja uangnya banyak habis, hampir setiap hari Rinja selalu meminta uang pada alva hanya untuk shopping.


"Gadis yang hebat, baiklah sayangku." Ucap Alva dengan senyuman manisnya.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2