
Hari berganti hari, seminggu telah berlalu, Qaisya masih menunggu seseorang yang telah hilang beberapa Minggu kebelakang ini. Setiap Qaisya selesai les ia selalu berharap ada Alva yang menjemputnya tapi itu hanya khayalan Qaisya saja, pria itu tidak pernah lagi hadir, Qaisya selalu menghubunginya tapi tak di angkat sama sekali.
Qaisya singgah di bawah pohon di jalanan, hari minggu, ia ingin menenangkan pikirannya sejenak, Qaisya melihat anak-anak di sana sedang berjualan, hanya ia sendiri di sana.
Qaisya hanya bisa melamun saat berada di bawah pohon, bagaimana tidak tempat itu pernah menjadi tempat di mana ia sangat bahagia karena kehadiran anak jalanan dan Alva tapi sekarang hanya Qaisya sendiri di sana.
"Kak Alva kemana? kenapa meninggalkan ku begitu saja?" ucap Qaisya yang selalu merindukan Alva.
Lama Qaisya di sana, ia ingin menghabiskan hari liburnya di sana. Tak lama kemudian anak jalanan pun mulai istirahat, Qaisya tak kesepian lagi, mereka langsung belajar bersama di sana.
Sore pun telah tiba, Qaisya tinggal sendiri di sana, menikmati senja di sore hari.
"Hai." Ucap seseorang. Qaisya pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Bagas." Ucap Qaisya, Bagas pun tersenyum dan langsung duduk di sebelah Qaisya.
"Kamu ngapain sendiri di sini?" tanya Bagas.
"Hmmm. . . lagi menikmati senja." ucap Qaisya.
"Aku boleh gabung kan?" ucapnya meminta izin. Qaisya pun langsung mengangguk.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Bagas.
"Baik." Ucapnya.
"Bagiamana dengan Alva?" tanya Bagas tiba-tiba. Qaisya langsung melihat ke arah Bagas, kenapa pria itu malah bertanya tentang Alva.
"Kenapa kamu tanya dia?" tanya Qaisya balik.
"Ya, kalau tak mau jawab ya gak papa juga." Ucap Bagas canggung. Selanjutnya Qaisya hanya diam, karena memang moodnya kurang bagus hari ini, Bagas pun menyadarinya.
"Qaisya, beli bakso yuk, aku traktir." Ucap Bagas ingin makan. Qaisya hanya diam, ia sedang memikirkan mau atau tidak.
"Ayo Qaisya, aku traktir nih." Ucap Bagas sangat bersemangat.
"Ayo deh." Ucap Qaisya pun merasa sedikit lapar. Mereka pun langsung menaiki motor ke taman dekat sana, sudah lama mereka tak berjumpa. Tak lama kemudian mereka pun sampai, makan bersama di sana, jujur sudah lama sekali Qaisya tak makan bakso.
__ADS_1
"Makasi traktirannya." Ucap Qaisya senang.
"Sama-sama, jangan sering melamun lagi ya." Ucap Bagas.
"Melamun?" ucap Qaisya heran.
"Iya, tadi aku melihat mu asik melamun di bawah pohon tadi." Ucap Bagas sangat perhatian akan Qaisya, Qaisya pun hanya mengangguk dan terkekeh. Bagas juga mengantarkan Qaisya saat itu, ia tak ingin Qaisya pulang sendirian.
"Qaisya." Panggil nenek saat mereka sedang berada di dapur.
"Kenapa nek?" tanya Qaisya.
"Kamu putus sama Alva?" tanya nenek, pertanyaan yang sebenarnya ingin sekali Qaisya hindari, tapi kali ini Qaisya tak bisa berbohong lagi, karena biasanya Qaisya selalu mengatakan pada nenek bahwa Alva sedang sibuk.
Nenek langsung duduk ke sofa, dengan isyarat ia pun menyuruh Qaisya duduk di sebelahnya, Qaisya hanya nurut saja.
"Ada masalah apa dengan Alva? sampai-sampai seminggu lebih dia tak ke sini?" ucap nenek sangat penasaran.
"Hmmmm. . . Qaisya pun gak tau nek." Ucap Qaisya menghempaskan nafas kasarnya.
"Mungkin kak Alva gak suka lagi sama Qaisya mangkanya kak Alva hilang begitu saja." Ucap Qaisya merasa sedih.
"Maksudnya gimana sih? coba jelaskan dari awal." Ucap nenek kurang paham.
"Sebelum kak Alva menghilang, hubungan kami baik-baik saja nek, bahkan ia sempat menelepon ku malam itu, keesokannya tumben kak Alva tidak menjemput ku, aku pikir dia sedang sibuk tapi ternyata sampai saat ini kak Alva tidak pernah lagi menjemput ku. Aku juga menghubunginya lewat ponsel tapi tidak di angkat. Ya bisa di simpulkan kak Alva hilang tanpa kabar, mungkin dia tak suka lagi sama Qaisya." Ucap Qaisya tersenyum tipis, jujur ia belum siap akan kehilangan Alva.
Nenek pun terdiam, ia tak bisa membantu sama sekali, tadinya nenek berpikir mungkin Qaisya dan Alva sedang ada masalah tapi ternyata memang Alva pergi tanpa kabar.
"Qaisya jangan sedih ya, mungkin Alva memang betul-betul sibuk, tapi Qaisya gak boleh terlalu berharap juga dengan kehadiran dia lagi, dia orang yang hebat dan kaya. Mungkin dia akan malu jika bersaudara dengan kita, jadi jangan sedih ya." Ucap nenek menyemangati Qaisya. Qaisya pun langsung mengangguk, ia tak ingin terlihat sedih di hadapan nenek.
___________________
"Selamat siang." Ucap seorang pria menyambut Qaisya. Qaisya tersenyum saat melihat Afatar menunggunya di depan rumah les.
"Kenapa malah datang ke sini mas?" tanya Qaisya heran.
"Pekerjaan ku sudah selesai, jadi sekalian aku menjemputmu." Ucap Afatar yang sangat senang menjemput Qaisya.
__ADS_1
"Aku sangat merepotkan mas." Ucap Qaisya merasa tak enakan.
"Tidak, ya sudah yuk berangkat." Ucap Afatar, Qaisya pun langsung mengangguk.
Hari ini Afatar akan menemani Qaisya untuk membeli ponsel, sebenarnya Qaisya ingin mengajak Alva dari seminggu yang lalu, tapi Alva tetap saja tak ada kabar sampai saat ini. Bahkan lima hari yang lalu Afatar juga menemani Qaisya membuat KTP dan ATM, kini uang yang banyak itu sudah ada dalam ATM Qaisya.
"Qaisya tak ingin membeli motor?" tanya Afatar saat mereka masih di perjalanan.nggak ketemu
"Qaisya gak bisa bawa motor mas." Ucap Qaisya.
"Kan bisa belajar." Ucapnya.
"Tidak ada waktu." Ucap Qaisya.
"Hmmmm. . . bagiamana kalau aku ajarin di hari-hari libur?" ucap Afatar akan mengajari Qaisya. Qaisya terdiam sejenak.
"Bagiamana setuju?" tanya Afatar.
"Boleh deh mas." Ucap Qaisya.
"Nah gitu dong, nanti akan mas cari motor yang bagus untuk mu." Ucap Afatar senang bisa membantu Qaisya. Tak lama kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan.
Afatar memperkenalkan beberapa ponsel yang bagus untuk Qaisya, yang jelas ponsel bagus yang kekinian. Tapi Qaisya sangat terkejut dengan mendengar harga ponsel yang begitu mahal.
"Mahal banget ya kak, kalau jatuh dikit pasti Qaisya bakalan kenak serangan jantung." Ucap Qaisya dengan polos, jelas hal itu membuat Afatar tertawa, entah kenapa itu sangat lucu baginya. Walaupun pun mahal Afatar akan menunjukkan beberapa kelebihan dari ponsel itu, jelas kelebihan ponsel itu sangat membuat Qaisya tertarik, toh uangnya tidak akan habis untuk membeli satu ponsel itu.
"Okey kak ini aja." Ucap Qaisya setuju walau dengan harga setara dengan satu motor metik.
Setelah membeli ponsel mereka pun singgah di tempat makan, sudah siang mereka pun sangat merasa lapar.
Sedari tadi qaisya hanya memandangi ponselnya, masih banyak hal yang ia belum tau dari ponsel itu.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading
__ADS_1