
pukul 4 pagi Qaisya sudah terbangun, ia ingin memberikan kado ulang tahu. untuk nenek. Saat keluar dari kamar ia melihat nenek yang sedang mengaji setelah shalat, qaisya menunggu nenek selesai mengaji.
Setelah selesai mengaji Qaisya mendekati nenek yang sedang duduk di atas sajadah, Qaisya langsung memeluk nenek, pelukan yang sangat ingin ia rasakan setiap harinya.
"Ada apa nak?" tanya nenek lembut.
"Nek hari ini tepat nenek berumur 58 tahun, hari ini di mana nenek dilahirkan di dunia ini, walaupun nenek sebenarnya orang asing bagi Qaisya, tapi kini nenek adalah separuh nafas Qaisya. Nenek sehat selalu ya, terima kasih sudah selalu ada di samping Qaisya, terima kasih sudah mau menjadi ibu sekaligus ayah Qaisya. Terima kasih nek, selamat ulang tahun nek." Ucap Qaisya mencium nenek. Nenek sangat terharu, ia pun meneteskan air matanya, ia pun membalas pelukan Qaisya. Qaisya memberikan bingkisan pada nenek setelah berpelukan.
"Nek ini ada kado buat nenek, ini hasil jerih payah qaisya selama ini, maaf Qaisya baru bisa beli ini nek." Ucap Qaisya sambil tersenyum. Nenek pun langsung mengangguk sambil tersenyum.
"Seharusnya kamu gak usah repot-repot, melihat Qaisya sehat saja sudah menjadi kado buat nenek. Tapi, nenek ucapkan terima kasih ya." Ucap nenek sangat terharu. Qaisya pun mengangguk sambil memeluk nenek.
________________
Qaisya terkejut saat melihat ada Celine dan Bagas di restoran, ia pun langsung menghampiri mereka yang ada di sana.
"Kenapa ke sini gak bilang-bilang?" tanya Qaisya yang langsung bergabung bersama mereka.
"Sengaja, kami mau buat suprise. Tapi jujur aku kangen banget sama kamu, padahal rumah kita Deket tapi kamu sibuk Mulu." Ucap Celine yang sangat merindukan Qaisya.
"Maaf-maaf, di lain waktu boleh deh kita jalan bareng." Ucap Qaisya. Celine pun langsung mengangguk antusias.
"Apa kabar mu Qaisya?" tanya Bagas yang sedari tadi hanya diam.
"Baik, bagaimana dengan mu?" tanya Qaisya balik.
"Aku baik juga, gimana kerja di sini, apakah menyenangkan?" tanya Bagas yang terus menatap Qaisya.
"Lumayan, aku sangat betah di sini." Ucap Qaisya jujur.
Mereka pun langsung berbincang-bincang di sana, sesekali mereka tertawa mengingat kejadian lucu saat mereka kerja bersama dulu. Qaisya tampak bahagia saat bersama Celine dan juga Bagas.
"Aduh lucu ya momen-momen kita bersama. Oh ya, toiletnya di mana? aku kebelet nih." Ucap Celine tak tahan lagi.
"Di sana." Ucap Qaisya menunjukkan ke arah toilet, Celine pamit ingin ke kamar mandi. Tinggal Bagas dan Qaisya di sana, awalnya mereka hanya diam.
__ADS_1
"Apa benar kamu sudah nyaman di sini? apa tidak ada niat balik ke tempat kerja di cafe?" tanya Bagas mulai bersuara.
"Sepertinya tidak, aku nyaman di sini." Ucap Qaisya jujur.
"Jadi di cafe kamu gak nyaman?" tanya Bagas lagi.
"Nyaman, tapikan aku sudah punya tempat baru di sini, mana mungkin aku tinggalkan begitu saja." Ucap Qaisya yang merasa pertanyaan Bagas itu aneh.
"Apa karena Alva? apa karena Alva kamu nyaman di sini?" tanya Bagas serius. Qaisya terdiam seketika, ia melihat ke arah Bagas sekilas, pertanyaan yang tak ia suka sama sekali.
"Benar kan? selera kamu tinggi juga ya, tapi kok bisa ya kamu bersama dia?" Bagas melontarkan pertanyaan yang membuat Qaisya mulai emosi.
"Trus kalau aku dengannya emangnya kenapa?" tanya Qaisya.
"Ya tidak apa-apa sih." Ucap Bagas tak mau memperpanjang saat melihat raut wajah Qaisya yang berubah akibat pertanyaannya tadi.
"Ehemm. . . . sepertinya banyak pelanggan yang datang, tapi kenapa pelayanannya duduk di sini?" ucap seseorang yang membuat Bagas dan Qaisya langsung menoleh ke arah sumber suara. Qaisya kaget saat melihat Alva ada di sana, dengan raut wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam ke arah Qaisya.
"Ah maaf kak." Ucap Qaisya masih kaget.
"Permisi Bagas." Ucap Qaisya yang langsung pergi dari sana. Setelah Qaisya pergi Alva hanya menatap Bagas sekilas, setelah itu ia pun langsung pergi dari sana.
"Ehem. . . " ucap seseorang. Qaisya pun langsung menoleh, lagi-lagi ia terkejut akan kehadiran Alva di sana.
"Eh kak." Ucap Qaisya gugup.
"Ngapain tadi? kenapa kamu bertemu dengannya? apa kamu merindukan lelaki itu?" tanya Alva dengan tatapan yang dingin.
"Tadi dia datang bareng Celine kak, Qaisya juga gak tau mereka akan datang ke sini, tadi Celine ke toilet jadi tinggal kami berdua di sana." Ucap Qaisya menjelaskan dengan jujur.
"Apakah aku harus mempercayaimu?" tanya Alva dingin.
"Jika kakak tak percaya padaku, kakak bisa tanyakan semua pada Celine." Ucap Qaisya tak ingin Alva salah tanggap. Alva hanya diam, ia pun memilih untuk pergi dari sana.
"Kok mukanya gitu banget, rada-rada serem gitu." Ucap Qaisya setelah Alva pergi dari sana. Qaisya pun langsung membatu pelayan lain untuk menyambut pelanggan yang datang.
__ADS_1
"Qaisya." Panggil Celine dari kejauhan. Qaisya langsung melihat ke arah Celine, tapi dari tempat lain ada mata tajam yang tengah mengamatinya dari kejauhan.
"Qaisya sini dulu." Panggil Celine lagi. Dengan terpaksa Qaisya pun langsung berjalan ke arah Celine, di sana juga masih ada bagas.
"Qaisya kami pulang dulu ya, lain kali kita harus jalan berang, jangan asik kerja aja." Ucap Celine ingin pamit.
"Oke deh, kita pasti jalan kok. Kalian hati-hati di jalan ya." Ucap Qaisya tersenyum. Celine pun mengangguk, setelah berpamitan mereka pun langsung pulang, Bagas tersenyum ke arah Qaisya sebelum pulang, Qaisya pun hanya membalasnya dengan senyuman.
________________
Malam telah tiba, Qaisya ingin pulang, Alva masih setia ingin mengantar Qaisya pulang, tapi anehnya pria itu hanya diam tak bersuara, bahkan raut wajahnya pun sangat dingin dan tak enak di pandang mata.
"Kakak kenapa sih? kenapa hanya diam saja?" tanya Qaisya akhirnya berani bertanya, mereka sedang berada di dalam mobil.
Mendengar pertanyaan itu pun Alva langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, jelas hal itu membuat Qaisya heran lagi.
"Kenapa berhenti?" tanya Qaisya melihat ke arah Alva. Alva pun langsung menatap Qaisya dengan tatapan yang tajam.
"Jangan lagi bertemu dengan laki-laki itu." Ucap Alva dingin.
"Memangnya kenapa?" tanya Qaisya heran.
"Aku tak suka kau bertemu dengannya, aku tak suka dia melihat mu begitu pun sebaiknya. Dan aku paling tak suka melihat mu tersenyum padanya." Ucap Alva dengan tatapan tajam.
"Ooooo ternyata kak Alva cemburu?" tanya Qaisya dengan senyuman. Alva hanya diam, tapi matanya tetap menatap ke arah Qaisya.
"Oke deh, Qaisya gak jumpa lagi dengannya." Ucap Qaisya sambil tersenyum.
"Awas kalau kamu berani jumpa dengannya." Ucap Alva memperingatkan Qaisya. Qaisya pun langsung mengangguk sambil tersenyum.
Cup
Satu kecupan mendarat di kening Qaisya, Qaisya pun hanya diam terpaku di sana.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy reading