
Qaisya masih kepikiran dengan pembicaraan Arjana dan Alva tadi, apa mungkin Alva akan menikah? bagaimana dengan hubungan kontrak antara Qaisya dan Alva?
"Qaisya." Ucap Alva yang tiba-tiba menghampiri Qaisya.
"Eh. . . ada apa kak?" tanya Qaisya sedikit kaget.
"Apa kamu sibuk?" tanya Alva, Qaisya pun langsung menggeleng.
"Hmmm. . . jadi gini, besok aku akan berangkat kerja ke luar kota, jadi aku sangat membutuhkan pendamping sedangkan sekretaris ku sedang sibuk tak bisa menemani ku, jadi apakah kamu bersedia menemani ku selama 5 hari ini?" tanya Alva dengan serius, Qaisya langsung kaget yang jelas mana mungkin nenek mengizinkan hal itu.
"Mohon maaf kak, bukan aku tak mau, tapi nenek pasti tak mengizinkan ku pergi dan aku harus kerja malam lagi kak." Ucap Qaisya menolaknya dengan halus.
"Itu masalah yang mudah, aku akan memberikan gaji yang banyak untuk mu." Ucap Alva serius. Qaisya hanya diam, ia tak tau ingin mengikuti Alva atau tidak.
"Ayo ke rumah mu, aku akan minta izin pada nenek mu." Ucap Alva ingin menemui nenek.
"Tapi. . . . "
"Tidak ada tapi-tapi, ingat kau adalah pacar kontrak ku." Ucap Alva yang langsung menarik pelan tangan Qaisya, dengan terpaksa Qaisya pun mengikuti langkah Alva.
Butuh waktu 20 menit mereka sampai di rumah Qaisya. Mereka tiba di rumah yang sangat sederhana, halaman depan yang luas di penuhi dengan tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh dengan subur.
"Ini rumah ku." Ucap Qaisya. Alva pun langsung mengangguk.
"Assalamualaikum." Ucap Qaisya dan alva secara bersamaan saat masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam." Jawab nenek, nenek sedikit kaget saat melihat Qaisya pulang bersama seorang pria yang tak ia kenal.
"Nek. . . " ucap Alva yang langsung mencium punggung tangan nenek itu.
"Silahkan duduk." Ucap nenek ramah.
"Buatkan minuman ya." Ucap nenek pada Qaisya, Qaisya pun langsung mengangguk.
"Maaf nek menganggu waktunya, perkenalkan nama saya Alva." Ucap Alva sambil tersenyum.
"Ooooo namanya Alva, kamu temannya Qaisya?" tanya nenek.
"Bukan nek, aku pacar Qaisya." Ucap Alva sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ha? kamu pacar Qaisya? masak Iyo sih?" nenek tampak kaget. Bagaimana bisa seorang pria tampan seperti Alva mau berpacaran dengan cucu kesayangannya itu.
"Iya nek." Ucapnya.
Qaisya yang sudah siap membuat teh pun langsung kembali ke uang tamu, ia menghidangkan minuman itu di hadapan nenek dan Alva. Nenek tersenyum manis ke arah Qaisya membuat Qaisya merasa sangat heran dengan perlakuan nenek.
"Kamu mandi sana, kan capek." Ucap nenek menyarankan.
"Ya udah, Qaisya mandi dulu. Pamit ya kak." Ucap Qaisya, alva pun mengangguk.
"Hmmm. . . jadi gini nek, aku akan bekerja ke luar kota, aku ingin mengajak Qaisya menginap di sana, karena aku sangat membutuhkan pendamping ke sana." Ucap Alva meminta izin pada nenek.
"Tunggu dulu, jadi Qaisya itu bekerja jadi pembantu di rumah kamu?" tanya nenek memastikan.
"Pembantu? tidak pantas nek di sebut pembantu, dia hanya membantu bik Ami di rumah." Ucap Alva.
"Hmm . . . apa kamu bisa menjamin keselamatan cucu saya selama kalian di sana?" tanya nenek memastikan.
"Pasti nek, mana mungkin aku telantarkan dia. Dan aku juga tidak akan menyakiti Qaisya nek." Ucap Alva dengan serius.
"Apa kamu yakin?" tanya nenek memastikan.
"Ya sudah, tolong jaga cucu saya, hanya dia satu-satunya cucu saya." Ucap nenek menitipkan Qaisya pada Alva.
"Pasti nek." Ucapnya sambil tersenyum.
Nenek dan Alva pun banyak berbincang-bincang, semakin lama bercerita nenek semakin kenal siapa Alva, yang jelas nenek masih kaget bagaimana bisa cucunya mendapatkan pria yang sangat kaya dan tampan.
"Kalau gitu Alva pamit dulu nek." Ucap Alva pamit.
"Iya hati-hati." Ucap nenek mengantarkan Alva sampai depan rumah. Nenek pun melambaikan tangannya saat mobil Alva mulai menjauh dari pekarangan rumahnya.
"Nek, kak Alva sudah pulang?" tanya Qaisya yang baru saja selesai mandi.
"Eh sudah tu, baru saja pulang." Ucap nenek yang kembali masuk ke dalam rumah.
"Sejak kapan kamu berpacaran dengan dia?" tanya nenek saat mereka duduk di ruang tamu.
"Pacaran? siapa yang pacaran?" Qaisya kaget.
__ADS_1
"Loh, tadi alva bilang kamu pacarnya, nenek gak nyangka ternyata cucu nenek pintar sekali mencari pacar." Ucap nenek senyum-senyum menggoda Qaisya.
"Tapi nek. . . "
"Sudah-sudah, nenek juga pernah muda, malah nenek sangat setuju kamu dengan dia. Besok kamu pergi ya temani dia, pesan nenek jaga diri baik-baik." Ucap nenek yang selalu mengkhawatirkan cucunya itu.
"Nenek mengizinkan aku pergi?" tanya Qaisya memastikan. Nenek pun langsung mengangguk sambil tersenyum.
Qaisya masih terheran-heran, bagaimana bisa Alva mengatakan dirinya adalah pacar Qaisya dan bagaimana bisa nenek mengizinkan dirinya untuk pergi bersama Alva besok.
"Ya sudah kamu istirahat sana." Ucap nenek. Qaisya pun hanya mengangguk, ia kembali ke kamar dengan perasaan yang masih heran.
Qaisya duduk termenung di atas ranjang, sebenarnya ia sangat kesal dengan alva, kenapa Alva harus mengatakan dirinya pacar Qaisya ke nenek? padahal mereka berdua hanya terjalin kontrak saja, bahkan mungkin Alva tak ada perasaan sama sekali dengan Qaisya.
"Kenapa kak Alva begitu bodoh? apa dia tidak tau konsekuensinya mengatakan hal itu pada orang tua?" ucap Qaisya yang masih sangat kesal.
Dretttt. . . dret. . .
ponsel Qaisya berbunyi, ia pun langsung mengangkat telepon itu.
"Halo?" ucap pria dari seberang sana.
"Ada apa kak?" tanya Qaisya.
"Aku baru pulang dari tempat kerja mu yang di cafe itu, mulai sekarang kamu tidak bekerja lagi di sana, kamu bekerja saja dengan ku." Ucap Alva yang masih berada dalam mobilnya.
"Ha? kok bisa gitu? kakak ini apa-apaan sih, kenapa tidak minta kesepakatan ku dulu? kenapa begitu enaknya mengambil keputusan sendiri?" ucap Qaisya dengan suara yang sedikit meninggi, ia sangat kesal dengan perlakuan Alva malam ini.
"Memangnya kenapa? aku akan memberikan gaji dua kali lipat dari situ, jadi kamu tak perlu khawatir lagi." Ucap Alva yang merasa tak bersalah.
"Maksud kakak apa? aku mau ikut kakak hanya karena kontrak yang sudah di buat, kenapa malah sesuka kakak mengurusi kehidupan pribadi saya?" Qaisya semakin marah. Walaupun pun ia menyukai Alva tetap saja Qaisya tak suka dengan sikap Alva yang semena-mena terhadapnya.
"Aku tak peduli, besok pagi aku akan menjemputmu." Ucap Alva yang langsung mematikan ponsel itu.
"Sialan!!" Qaisya menahan amarahnya. Ia membanting ponselnya dengan asal, entah kenapa ingin sekali rasa Qaisya memarahi Alva habis-habisan.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
__ADS_1
Happy Reading