
"Do lo tau apa yang terjadi pada Rinja?" tanya Alva saat mereka sedang berada di ruangan Alva. Aldo menatap heran ke arah Alva.
"Kenapa emang? kenapa lo tanya-tanya dia?" Aldo tak suka jika Alva menanyai tentang Rinja.
"Aku hanya penasaran saja, jangan kau pikir aku akan menyukainya lagi." Ucap Alva memutar bola matanya, malas.
"Kamu tidak menyukainya lagi? wow. . . hebat." Ucap Aldo bertepuk tangan untuk Alva.
"Jawab dulu pertanyaan aku tadi." Ucap Alva yang ingin tau tentang semua.
"Oke, aku cerita apa yang aku tau saja. Setau aku sebulan yang lalu Rinja dan Farid ke Amerika, Farid bilang mau bulan madu, padahal dia sedang menjadi buronan kepolisian, sebulan di sana mereka kembali lagi ke sini, aku dengar saat di Amerika Rinja banyak mendapatkan kekerasan dari Farid, awalnya ia tak mengatakan hal itu pada siapa pun, tapi akhirnya ia terbuka kepada kedua orang tuanya. Karena tak pernah ke dokter membuat tubuh Rinja semakin parah." Ucap Aldo. Alva hanya manggut-manggut, jujur ia tak percaya hal itu bisa menimpa Rinja.
"Kau tau tentang Farid?" tanya Alva lagi.
"Dia CEO kaya raya, bahkan dia lebih kaya dari mu, tapi di samping dia CEO ternyata dia juga menjual barang yang terlarang." Ucap Aldo tau sedikit tentang Farid. Alva pun hanya manggut-manggut lagi.
_______________
"Selamat siang sayangku." Ucap Alva menyapa Qaisya, Qaisya pun membalasnya dengan senyuman yang manis, tak lupa Alva memberikan coklat untuk Qaisya seperti janjinya semalam.
"Makasi kak." Ucap Qaisya senang.
"Oh ya, kakak mau lihat lukisan Qaisya gak?" ucap Qaisya ingin menunjukkan hasil lukisannya.
"Mau dong." Ucap Alva antusias.
"Di restoran aja deh." Ucap Qaisya. Alva pun langsung mengangguk setuju, kemudian mereka langsung berangkat menuju restoran seperti hari biasanya, yang jelas hal itu sangat melelahkan, tapi demi cita-cita yang cerah Qaisya siap di hajar habis-habisan oleh prosesnya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di restoran, Qaisya langsung menunjukkan hasil lukisannya hari ini kepada Alva, betapa terkejutnya Alva melihat lukisan yang sangat indah itu, ia tak pernah menyangka Qaisya akan memiliki bakat sebagus itu.
"Ini lukisan mu?" tanya Alva masih tak percaya. Qaisya pun langsung mengangguk antusias.
"Bagiamana kak?" tanya Qaisya tersenyum.
"Wow. . . sangat menakjubkan." Ucap Alva memuji lukisan itu, bagaimana tidak, lukisan alam yang sangat terasa akan kesegaran tumbuhan di pedesaan, jelas hal itu sangat di rasakan saat melihat lukisan indah itu.
"Aku akan membeli lukisan ini." Ucap Alva tak ingin lukisan itu jatuh ke tangan orang lain.
"Hmmmmm. . . menarik, berapa kakak mau beli?" tanya Qaisya tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"100 juta." Tawar Alva.
"Itu kemahalan kak." Ucap Qaisya tak suka pada sikap Alva yang terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Hmmm. . . 50 juta?" tawar Alva lagi.
"Is kakak ini, udah deh satu juta aja." Ucap Qaisya yang merasa itu sudah harga yang pas.
"What? lukisan sebagus ini satu juta?" Alva keheranan.
"Iya kak." Ucapnya.
"Jangan deh, 5 juta saja kalau gak ya." Ucap Alva merasa tak pantas jika lukisan itu di beli dengan harga yang murah.
"Ya udah deh terserah kakak." Ucap Qaisya pasrah.
"Nah gitu dong, nanti kakak transfer ya." Ucap Alva.
"Qaisya belum punya ATM." Ucap Qaisya dengan tatapan sinis.
"Waduh. . . " ucap Alva geleng-geleng.
"Qaisya juga belum sempat buat KTP." Ucap Qaisya tak punya waktu untuk membuat KTP.
"What? kamu belum punya KTP berapa umur kamu?" lagi-lagi hal itu membuat Alva kaget.
"18 tahun." Ucap Qaisya. Alva langsung terkekeh, ia lupa bahwa dia berpacaran dengan Bocil SMA, tapi sekarang Qaisya sudah tamat sekolah.
"Baiklah Bocil ku nanti kita akan membuat KTP yah." Ucap Alva tersenyum, Qaisya pun hanya mengangguk.
"Yah lihat ini bagus bukan?" tanya Alva pada arjana, ia pun langsung melihat lukisan itu.
"Lukisan siapa ini? di mana kamu beli? sangat indah." Puji Arjana.
"Ini lukisan hasil tangan Qaisya yah." Ucap Alva dengan bangga.
"Qaisya?" Arjana memastikan, Alva pun langsung mengangguk.
"Wah. . . dia sangat berbakat, ayah sangat suka lukisan ini, bagaimana kalau ini buat ayah." Ucap Arjana ingin memiliki lukisan itu.
"Maksud ayah apa an? ini kan sudah Alva beli dari dia." Ucap Alva tak ingin lukisan itu di bawa oleh siapa pun.
"Iya ayah akan beli, lukisan ini akan ayah pajang di kamar ayah, lagian kamu kan juga sudah ada lukisan di kamar kamu." Ucap arjana.
"Tapi. . . "
"Sudah tidak ada tapi-tapi, ini ayah bawa kamu ambil saja harta ayah yang kamu mau." Ucap Arjana yang langsung pergi membawa lukisan itu. Sungguh sial sekali, Alva menyesal menunjukkan lukisan itu pada ayahnya.
__ADS_1
"Hmmmm. . . " Alva menghempaskan nafas kasarnya.
Ia pun kembali ke kamarnya, ia melihat lukisan yang ada di kamarnya, andai lukisan tadi ia pajang juga di kamar ini pasti akan tampak lebih indah.
"Ayah sangat menyebalkan." Ucap Alva kesal. Ia pun langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, ia memandangi langit kamarnya, entah kenapa bayangan Qaisya pun langsung terlukis di sana, Alva tersenyum mengingat kenangan Alva bersama Qaisya ketika di pantai, bahkan sampai-sampai Qaisya melukiskan lukisan indah untuk Alva.
Dret. . . dret . . . dret. . .
Alva pun langsung mengambil ponselnya dengan semangat, ia kira Qaisya yang menghubunginya ternyata Rinja.
"Ada apa?" tanya Alva dingin.
"Kamu di mana?" tanya Rinja dari sebrang sana.
"Ada apa? aku sedang sibuk." Ucap Alva malas meladeni Rinja.
"Aku ingin kau ke sini." Ucap Rinja yang selalu menganggu ketenangan Alva.
"Kamu ini . . . . . " belum sempat Alva berbicara tiba-tiba Arjana memanggil Alva.
"Alva. . . Alva . . . Alva . . . tolong ayah." Ucap Arjana dengan suara menahan kesakitan, seketika Alva terkejut ia langsung melepas ponselnya dengan asal.
"Halo Alva?" ucap Rinja saat mendengar suara benturan pada ponsel.
"Kenapa ayah?" tanya Alva panik.
"Jantung ayah." Ucap Arjana merasa kesakitan, tanpa banyak bicara Alva pun langsung menggendong ayahnya ke dalam mobil, dengan cepat ia langsung membawa ayahnya ke rumah sakit.
"Ayah bertahan." Ucap Alva panik. Arjana tak bersuara lagi, rasa sakit yang membuat dirinya tak sanggup untuk berbicara lagi.
Alva yang panik saat mendapati kemacetan di jalan, ia pun ingin menghubungi Aldo tapi ternyata ponselnya tinggal di kamar.
"Sialan!!" alva kesal. Untung kemacetan itu tidak lama, Alva menyetir mobil dengan kecepatan yang tinggi, ia tak peduli banyak orang yang mengklakson mobilnya.
"Alva hati-hati" ucap Arjana buka suara.
Bruk. . .
"Aaaaaaaa. . . . " teriakan orang-orang di sekitarnya membuat Alva tambah terkejut.
Bantingan yang membuat Alva terlempar dari kursi, membuat nya banyak kehilangan darah, matanya mulai rabun saat melihat darah segar yang menjalar di wajahnya, ia melihat orang-orang yang mulai datang ke arahnya, tak sanggup menahan sakit, kesadarannya pun hilang.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading