Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 21 : apakah kamu mau menjadi pacar ku?


__ADS_3

"Saya?" tanya Qaisya masih bingung.


"Iya kamu." Ucap Alva membenarkan lagi.


"Ingat kita hanya pacar kontrak." Ucap Qaisya mengingat akan janji awal mereka bertemu. Alva pun tersenyum tipis mendengar hal itu.


"Sudah lah, ayo kita bermain air laut." Ucap Alva berdiri, Qaisya pun langsung ikutan berdiri. Mereka menghabiskan waktu hari ini di pantai, sangat menyenangkan bagi Qaisya begitu pun Alva.


Hari yang panas pun telah berlalu, kini tiba senja yang indah di pandang mata, setiap orang di sana pasti menikmati senja yang indah itu.


Alva dan Qaisya yang tengah duduk di tepi pantai sambil memandang ke arah sunset. Alva tersenyum ke arah sunset, rasanya sangat bahagia sekali hari ini.


"Qaisya." Panggil Alva dengan nada yang lembut.


"Hmmm. . . " Qaisya melihat ke arah Alva yang ada di sampingnya, Alva masih menatap ke arah senja tanpa melihat ke Qaisya.


Perlahan Alva memegang erat tangan Qaisya sambil menatap ke arah sunset. Qaisya hanya terdiam dan melihati tangannya yang sedang di genggam oleh Alva.


"Apa hari ini kamu bahagia?" tanya Alva menoleh ke arah Qaisya. Qaisya pun mengangguk sambil melihat ke arah Alva juga.


"Apa kamu senang jika berada di samping ku?" tanya Alva menatap manik indah mata Qaisya. Qaisya pun mengangguk lagi, tak bisa ia pungkiri, memang dekat dengan Alva adalah hal yang sangat membuat dirinya bahagia.


"Kamu pacar kontrak ku?" tanya Alva lagi.


"Iya kak, emangnya kenapa?" tanya Qaisya heran. Alva tersenyum lagi, tapi ia masih tetap menatap mata Qaisya.


"Aku sangat bahagia berada di samping mu, hari ini adalah tanggal di mana masa kontrak kita berakhir. Aku yakin pasti kau tak lupa kan?" ucap Alva mengingatkan kembali. Jelas tanggal itu pasti akan di ingat Qaisya, karena mulai besok ia tak ada lagi perjanjian kontrak apa-apa, bahkan mungkin Qaisya tidak akan bertemu lagi dengan Alva.


"Iya aku masih ingat, sebelumnya aku minta maaf karena telah merusakkan ponsel kakak dan aku juga berterima kasih pada kakak yang telah memberi ku fasilitas yang baik untuk les melukis, bahkan banyak lagi kebaikan kakak yang tak bisa ku balas satu-persatu." Ucap Qaisya menahan air matanya. Jujur ia merasa tak sanggup akan berpisah dengan lelaki yang ada di sampingnya.


"Jika kontrak ini berakhir kau akan menjauh dari ku?" tanya Alva serius.


"Mungkin, karena kita punya kehidupan masing-masing kan kak." Ucap Qaisya merasa sedih. Alva tersenyum lagi, genggaman tangannya semakin erat.

__ADS_1


"Aku tak ingin kau jauh dari ku, tetap lah di sisiku." Ucap Alva serius.


"Maksudnya?" tanya Qaisya tak mengerti.


"Tidak perlu ku perpanjangan, apakah kamu mau menjadi pacar ku? aku sangat nyaman berada di dekat mu dan aku tak ingin jauh dari mu." Ucap Alva dengan serius.


Deg. . . .


tubuh Qaisya terasa kurang enak, kata-kata yang tak pernah ia duga sebelumnya, kata-kata yang hampir membuat Qaisya menangis, tapi ia tahan ia tak ingin terlihat cengeng di hadapan Alva.


"Mana mungkin kakak menyukai ku." Ucap Qaisya masih tak percaya. Alva menggenggam erat lagi tangan Qaisya, kali ini kedua tangan Qaisya ia genggam dengan erat.


"Apakah wajah ku terlihat bercanda? tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini." Ucap Alva meyakinkan Qaisya lagi. Qaisya pun terdiam sejenak.


"Gimana? apa kamu mau menjadi pacar ku?" tanya Alva dengan serius lagi, jantung Alva berdetak lebih kencang dari biasanya, ia takut jika Qaisya akan menolaknya, karena Alva tak tau harus bersandar kepada siapa kalau Qaisya tak ingin bersamanya, jujur Alva sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita.


Qaisya mengangguk pelan. " Qaisya mau kak, tapi apakah kakak akan menerima kekurangan ku?" Qaisya bertanya.


Tubuh Qaisya terasa kaku setelah ciuman itu mendarat, ciuman yang pertama kali ia rasakan, ciuman dari seseorang yang berada dalam hatinya beberapa bulan ini.


"Lihat lah senja itu, dia menjadi saksi atas cinta kita berdua." Ucap Alva tersenyum pada senja. Qaisya pun tersenyum, jujur ini adalah hari dan momen yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya, ucapan cinta pertama dari orang yang sangat ia sayangi, ia berharap Alva akan menjadi yang pertama dan yang terakhir dalma hidupnya.


_____________________


Setelah mengantar Qaisya pulang, Alva langsung pulang juga ke rumah. Langit malam yang di penuhi bintang-bintang dan bulan yang bersinar terang, Alva tengah duduk santai di balkon kamarnya.


Ia hanya senyum-senyum sendiri ke arah langit, jujur hari ini ia sangat bahagia, ia sangat berharap Qaisya bisa menggantikan posisi Rinja yang dulu berada dalma hatinya.


"Alva." Panggil Arjana.


"Masuk aja yah." Ucap Alva yang tak beranjak dari duduknya. Arjana pun langsung masuk ke dalam kamar putranya.


"Ada apa yah?" tanya Alva saat Arjana hendak duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Maaf ayah menganggu, ayah mau tanya sesuatu." Ucap Arjana menghela nafasnya.


"Tanya apa yah?" tanya Alva penasaran.


"Maaf sebelumnya bukan ayah memaksa, ayah mau tanya apakah kamu mau dengan ketiga wanita kemarin? mereka meminta konfirmasi dari mu, karena jika kamu tak mau mereka akan mencari menantu yang lain." Ucap arjana langsung membicarakan intinya.


"Katakan pada mereka Alva sudah punya pacar yah." Ucap Alva sambil tersenyum.


"Punya pacar? apa anak ayah sudah punya pacar?" tanya Arjana penasaran.


"Iya yah." Ucap Alva langsung tersenyum.


"Siapa pacar mu?" tanya Arjana semakin penasaran.


"Qaisya, gadis yang kemarin masak untuk ayah." Ucap Alva langsung jujur.


"Sudah ku tebak kau pasti menyukainya." Ucap Arjana tersenyum.


"Bagaimana ayah bisa menebak itu?"


"Pertama kau sangat sering menemuinya, kau juga memberikan fasilitas yang bagus untuk les melukis. Dan yang paling tampak adalah lukisan itu berada di kamar mu." Ucap Arjana menunjukkan ke arah lukisan indah yang terpajang di kamar Alva. Seketika Alva pun langsung tersenyum, ternyata ayahnya melihat gerak geriknya selama ini.


"Apa ayah akan marah jika aku menyukai gadis yang sederhana seperti dia?" tanya Alva dengan serius.


"Jelas tidak, ayah yakin dia gadis yang pekerja keras." Ucap Arjana yakin.


"Apa ayah akan marah jika Alva menyukai gadis yang tidak jelas asal usulnya?" tanya Alva lagi, Alva rasa ini adalah hal yang penting untuk ia ceritakan pada ayahnya, bagaimana pun ia tak ingin menutupi apa pun dari sang ayah, karena tak ada orang lain tempat Alva bercerita selain ayahnya.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2