Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 25 : Alva bodoh?


__ADS_3

Pagi pun telah tiba qaisya menjalani hari seperti hari biasanya, mungkin ia tak bertemu Alva hari ini di karenakan pria itu sedang sibuk dengan pekerjaannya, yang jelas Qaisya tak mempermasalahkan hal itu.


__________________


"Halo?" ucap Alva mengucek matanya yang baru bangun tidur.


"Di mana?" tanya Aldo dari seberang sana.


"Di rumah sakit, Rinja masuk rumah sakit." Ucap Alva yang berusaha mengumpulkan nyawanya saat itu.


"Hah? aku ke sana kirim alamatnya." Ucap Aldo pun menutup teleponnya. Alva pun hanya mengangguk, ia melihat ke arah Rinja yang sudah membuka matanya, ia sudah terbangun sedari tadi.


"Mau kemana?" tanya Rinja dengan suara yang pelan.


"Aku ada kerjaan hari ini, mohon maaf tidak bisa menemani mu." Ucap Alva tak bisa menemani Rinja.


"Kau akan kembali ke sini kan?" tanya Rinja.


"Pasti, aku akan kembali ke sini." Ucap Alva dengan senyuman. Tak lama kemudian Aldo pun sampai di rumah sakit itu, Aldo tampak kaget saat melihat Alva yang menemani Rinja di ruangan itu, awalnya Aldo memilih diam, ia tak ingin protes dengan gegabah.


"Aku pamit dulu, orang tua mu akan segera datang." Ucap Alva pamit. Rinja pun langsung memegang tangan Alva sambil tersenyum.


"Nanti balik lagi ke sini ya." Ucap Rinja dengan senyuman.


"Pasti." Ucap Alva mengelus lembut rambut Rinja, setelah itu ia pun langsung keluar dari ruangan itu. Hati Aldo terasa panas saat melihat adegan yang tak enak di pandang matanya.


"Maksud lo apa?" tanya Aldo saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Apanya?" tanya Alva bingung.


"Lo nemenin Rinja di rumah sakit, maksudnya apa?" tanya Aldo dengan tatapan yang dingin.


"Dia sakit do." Ucap Alva singkat.


"Sakit? apa urusannya dia sakit dengan lo, Li jadi cowok kok gak konsisten banget sih. Lo kan dah punya pacar, ngapain lo temanin wanita kayak Rinja hah!" Aldo mulai emosi.


"Apa an sih lo, ngapain urus urusan percintaan gue?" ucap Alva mulai tak suka dengan sikap Aldo.

__ADS_1


"Gini ya, gue ini kawan lo. Gue gak suka lo punya sifat yang seperti ini. Tinggalkan Rinja!! jangan lagi berhubungan dengan wanita itu!!" ucap Aldo yang langsung menghidupkan mesin mobil itu, ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Alva memilih diam, ia tak ingin berdebat dengan Aldo di pagi hari ini.


________________________


Malam pun telah tiba, Alva pulang ke rumah pukul 10 malam, sebelum pulang ke rumah ia menyempatkan diri untuk menjenguk Rinja tadi, Rinja sudah mulai membaik saat itu.


"Dari mana saja kamu?" tanya Arjana saat Alva masuk ke dalam rumahnya.


"Dari kantor yah." Ucap Alva yang mendekati ayahnya.


"Kantor? atau menjenguk Rinja?" tanya Arjana dengan tatapan yang dingin. Alva pun langsung kaget mendengar pertanyaan ayahnya itu, bagaimana bisa Arjana tau kalau Rinja sedang di rawat di rumah sakit.


"Ayah tau dari mana?" tanya Alva balik.


"Aku yang bertanya padamu, kenapa malah kamu nanya balik." Ucap Arjana dengan ekspresi yang kurang suka dengan Alva.


"Dia sakit yah, dia butuh Alva." Ucap Alva tanpa bersalah.


"Dia saat dia mencintai mu apa dia mau menikah dengan mu? kenapa kau terlihat bodoh Alva!" ucap Arjana dengan suara yang sedikit meninggi. Alva langsung terdiam, memang benar ia telah di sakiti tapi entah kenapa hatinya masih menginginkan Alva, apalagi semenjak ia melihat kondisi Rinja yang memprihatinkan.


"Ayah tidak tau bagaimana perasaan Alva." Ucap Alva pun mulai emosi.


"Ayah tau perasaan mu, tapi kau terlalu bodoh!!" Ucap Arjana dengan suara yang sedikit tinggi.


"Bukan bodoh ayah, tapi aku memang sangat mencintainya." Ucap Alva yang masih membela diri.


"Asal kau tau Alva, dia bukan wanita yang baik untuk mu. Nama mu sudah tercoreng di keluarga mereka, bahkan ayah Rinja sangat membenci mu." Ucap arjana yanga menatap putranya.


"Maksud ayah?" tanya Alva bingung.


"Kau tak tau apa-apa kan? kau terkenal dengan lelaki tak cukup satu wanita di keluarga mereka, bahkan mereka mengatakan bahwa kamu mengincar harta milik keluarga Rinja." Ucap arjana membongkar membongkar apa yang telah ia ketahui.


"Hah?" Alva sangat kaget.


"Kau tak tau kan nak, aku juga baru tau, tak menyangka Sabahat ku sendiri berprilaku seperti padamu." Ucap arjana tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Alva hanya terdiam ia tau harus mengatakan apa lagi pada ayahnya. Arjana pun ikut diam, menit selanjutnya ia pun langsung kembali ke dalam kamarnya.


Alva pun kembali ke dalam kamarnya, ia melihat dirinya di depan kaca, apa benar dia sebodoh apa yang di katakan ayahnya? ia sedang menatap orang yang bodoh masalah percintaan.

__ADS_1


Alva melihat ponselnya, seharian ia tak sempat melihat ponsel, ternyata banyak sekali pesan dari Qaisya yang tak sempat ia baca. Mengingat Qaisya entah kenapa ia langsung menoleh ke arah lukisan indah yang ada di dalam kamarnya, tanpa berpikir panjang ia pun langsung mengambil kunci mobilnya, ia keluar mengendarai mobil sendirian.


_________________


Tok. . . tok. . . tok. . .


Suara ketukan pintu itu terdengar di telinga Qaisya, ia langsung bangkit dari tempat tidur, ia heran siapa yang datang ke rumahnya malam-malam gini. Sebelum membuka pintu ia mengintip terlebih dahulu dari jendela, ia melihat seorang lelaki di sana, seorang lelaki yang sudah ia kenal. Qaisya pun langsung membuka pintu itu.


"Kak Alva? ngapain malam-malam ke sini?" tanya Qaisya heran. Tanpa berbicara apa pun, Alva langsung menarik pelan tangan Qaisya. Ia membawa Qaisya masuk ke dalam mobilnya.


"Kakak mau kemana?" tanya Qaisya semakin heran.


"Nenek di mana?" tanya Alva mengalihkan pembicaraan.


"Sudah tidur." Ucap Qaisya. Qaisya sangat heran dengan sikap Alva malam ini, mereka berada di dalam mobil tapi tidak mobil itu tidak berjalan.


"Kakak kenapa?" tanya Qaisya dengan lembut, alva pun langsung melihat ke arah Qaisya, ia tersenyum ke arah Qaisya.


"Boleh kakak peluk Qaisya?" tanya Alva meminta izin.


"Kenapa haru memeluk ku?" tanya Qaisya balik.


"Aku sangat merindukanmu." Ucap Alva. Dengan perasaan yang ragu Qaisya pun langsung mengangguk pelan, dengan senyuman Alva pun langsung memeluk Qaisya. pelukan yang pertama kali ia rasakan bersama Qaisya, jujur ada rasa bersalah di dalam hati Alva. Setelah berpelukan ia pun melepaskannya.


"Balik ke rumah ya, tidur yang nyenyak." Ucap Alva sambil tersenyum. Qaisya pun langsung mengangguk.


"Pamit ya kak." Ucap Qaisya.


"Iya sayang, selamat malam." Ucap Alva sambil tersenyum.


"Selamat malam juga sa-ya-ng." Ucap Qaisya terbata-bata. Alva pun hanya terkekeh mendengarnya. Setelah melihat Qaisya masuk ke dalam rumah, Alva pun langsung pulang saat itu.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2