Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 12 : Alva akan menikah?


__ADS_3

"Jadi gimana, apa kamu ingin bekerja?" tanya Alva dengan serius.


"Kalau kerja, malam kan aku juga kerja kak." Ucap Qaisya.


"Itu kan untuk malam, kalau kamu ingin kerja, kamu bisa kerja dengan aku." Ucap Alva ingin menawarkan pekerjaan untuk Qaisya.


Qaisya terdiam sejenak, ini kesempatan emas baginya, mana mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan itu, lagi pula ia akan bisa tetap melihat Alva selalu.


"Emang kerja apa kak?" tanya Qaisya serius.


"Terserah kamu, kamu mau kerja di mana saja boleh." Ucap Alva dengan senang hati membantu Qaisya.


"Jadi tukang cuci piring juga gak papa deh kak." Ucap Qaisya, ia hanya mampu di bagian itu saja.


"Emang kamu mau?" tanya Alva memastikan. Qaisya pun langsung mengangguk antusias.


"Baiklah kalau itu mau mu, catat nomor ponsel ku dulu." Ucap Alva. Qaisya pun langsung mengambil hp titut-titutnya dari saku roknya.


"Kapan kamu ingin kerja?" tanya Alva.


"Kapan pun bisa." Ucap Qaisya tak ada kegiatan lagi setelah selesai ujian.


"Baik, besok kamu datang ke rumah ku. Alamatnya masih ada pada mu kan?" tanya Alva memastikan, Qaisya pun langsung mengangguk lagi.


Setelah berbincang- bincang lama akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, alva sangat senang bisa membantu Qaisya untuk bekerja, setidaknya Qaisya tak payah lagi mencari pekerjaan ke sana kemari. Di sisi lain Qaisya sangat senang bisa bertemu kembali dengan Alva, setidaknya kerinduan itu telah terobati sedikit.


_____________________


"Nek. . . . " Qaisya mendekati neneknya.


"Kenapa nak?" tanyanya.


"Nek Qaisya dah dapat kerjaan." Ucap Qaisya sambil tersenyum.


"Haduh kok bisa cepat gitu? emang kerja apa?" tanya nenek keheranan.


"Pembantu nek." Ucap Qaisya sangat senang.


"Jadi pembantu di mana kamu nak?" ucap nenek yang sangat keheranan.


"Ada seorang pengusaha nek, dia sedang membutuhkan pembantu." Ucap Qaisya lagi.


"Kamu sanggup jadi pembantu di sana?" nenek memastikan.

__ADS_1


"Insya Allah sanggup nek." Qaisya sangat semangat.


"Ya sudah kalau kamu mau ya gak papa, yang penting bisa jaga diri sendiri ya." Ucap nenek yang selalu mengkhawatirkan cucunya itu, Qaisya pun mengangguk sambil memeluk nenek.


_____________________


Pukul 7 pagi Qaisya sampai di rumah Alva, ia menaiki ojek ke sana. Ia masih berdiri tepat di depan rumah Alva, ia tak berani masuk kerena belum bertemu dengan Alva.


"Selamat pagi kak." Ucap Qaisya sambil menunduk badannya.


"Hmmm. . . cepat sekali kamu sampainya." Ucap Alva sedikit heran, Qaisya begitu semangat sekali hari ini.


"Iya kak, ini kan hari pertama aku kerja." Ucapnya lagi.


"Baiklah, ayo sini aku antar kan ke dapur, banyak pekerjaan yang harus kamu kerjakan. Dan siang nanti kamu harus masak ya, aku dan ayah akan makan di rumah." Ucap Alva sambil berjalan menuju dapur.


"Baik pak." Ucap Qaisya.


"Ini dapurnya, kalau kamu gak tau di mana tempat bahan yang kamu butuhkan, kamu bisa tanya kepada bik Ami yang sedang membersihkan taman belakang." Ucap alva. Qaisya pun langsung mengangguk.


"Baiklah, aku berangkat kerja dulu." Ucap Alva pamit.


"Baik kak." Ucapnya. Alva pun langsung bergegas berangkat ke kantor, ia tak ingin terkena macet pagi ini.


Qaisya melihat-lihat ke arah sekelilingnya, alat-alat di sana sangat berbeda dengan alat dapur yang ada di rumahnya. Qaisya pun langsung menuju ke taman belakang, ia ingin tau siapa itu bik Ami.


"Eh nak, apa kamu yang bernama Qaisya?" tanya bik Ami langsung, Qaisya pun mengangguk pelan.


"Oh ya, sini dulu." Ucap bik Ami yang berjalan menuju dapur lagi, Qaisya pun langsung mengikuti langkah bik Ami.


"Kamu bisa masak?" tanya bik Ami.


"Bisa bik." Ucapnya.


"Pas banget, jadi bibi setelah ini mau pamit bentar karena anak bibi demam, mau bawa ke dokter setelah itu bibi kembali lagi ke sini. Trus pak Arjana dan den Alva mau makan siang di rumah, bibi minta tolong kamu yang masak ya." Ucap bik Ami minta tolong pada Qaisya.


"Baik bik." Qaisya menurut saja.


Setelah bik Ami pamit, Qaisya mulai ingin memasak, tapi ia sangat kesusahan karena belum hafal tempat alat dan bahan untuk masak, ia terus berusaha mencari sesuatu yang ia butuhkan untuk masak.


_______________


Qaisya kaget saat melihat pria baru baya tiba-tiba berada di sana, ia sedang duduk di sofa rumah itu, seketika Qaisya langsung berdiri dan merapikan sofa itu kembali.

__ADS_1


"Maaf pak." Ucap Qaisya takut, ia hanya menunduk tak berani menatap wajah pria itu.


"Tidak apa, Alva mana?" tanya Arjana.


"Belum pulang pak." Ucap Qaisya.


" Oooo baiklah." Ucapnya pergi dari sana, Qaisya


hanya melihati pria itu dari belakang.


Tak alam kembali sosok pria pun muncul di hadapan Qaisya, wajah yang tak asing lagi baginya, entah kenapa ia sangat suka memandang wajah Alva yang tampan itu.


"Ayah ku sudah pulang?" tanya Alva.


"Sudah." Ucap Qaisya.


"Kamu siapkan makan ya." Ucap Alva. Qaisya pun langsung mengangguk antusias.


Dengan telaten Qaisya pun menghidangkan makanan yang telah ia buat tadi, menu yang sangat spesial untuk Arjana dan juga Alva.


"Jadi bagaimana?" tanya Arjana dengan serius.


"Belum tau yah, kalau pun nanti aku tertarik aku akan langsung menikahinya." Ucap Alva dengan serius juga.


Deg. . .


Qaisya yang masih di sana pun langsung terkejut mendengar perkataan mereka, Alva akan menikah? dengan siapa? muncul banyak pertanyaan di dalam pikiran Qaisya, ia tetap fokus menyajikan makanan untuk mereka berdua.


Qaisya kembali ke dapur, tapi ia akan memasang kupingnya dengan jelas, ia ingin tau percakapan kedua pria itu.


"Maaf yah tadi tidak bisa jemput ayah ke bandara." Ucap Alva di sela-sela makannya.


"Iya tidak apa." Ucap Arjana. Arjana baru saja sampai di kotanya, beberapa hari ini ia sedang ada pertemuan besar dengan para sahabatnya di Jepang, bahkan kabar baiknya banyak teman Arjana yang ingin menikahkan putrinya dengan Alva, yang jelas itu kesempatan emang bagi Alva, tapi Alva tak ingin gegabah dalam hal itu, bagaimana pun ia masih merasa sulit untuk melupakan Rinja.


Arjana memberitahukan hal itu pada putranya, Alva pun masih bingung dengan dirinya sendiri, yang jelas untuk saat ini ia harus berpikir panjang dulu masalah perjodohan.


"Memang ada berapa teman ayah yang ingin menikahkan putrinya dengan ku?" tanya Alva.


"Sekitar 3 orang, jika kamu mau ayah akan memberikan Poto mereka padamu." Ucap Arjana di sela-sela makannya.


"Boleh nanti ayah kirimkan saja padaku." Ucap Alva ingin melihat wanita-wanita itu. Arjana pun mengangguk.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading


__ADS_2