
"Kenapa bapak malah menjual lukisannya." Qaisya kesal.
"Harganya sangat mahal." Ucap bos itu. Qaisya memegangi kepalanya, ia sangat kesal dengan bos yang telah menjual lukisannya itu, padahal dirinya belum setuju menjual lukisan itu.
Qaisya pun langsung menangis bagaikan anak kecil di sana, ia tak mungkin memarahi bos, ia pun memilih menangis untuk meluapkan emosinya. Bos yang melihat itu pun langsung merasa bersalah, ia sedang berpikir apa yang harus ia lakukan.
"Maaf, maafkan aku." Ucap bos itu. Semakin bos itu minta maaf, tangis Qaisya semakin deras, ia menangis bagaikan anak kecil.
"Baiklah gini saja, aku akan menemui orang itu lagi, aku akan kembalikan semua uang yang telah ia berikan." Ucap bos itu tak ingin membuat Qaisya menangis lagi.
"Janji?" ucap Qaisya menghapus air matanya.
"Iya, aku janji." Ucap bos itu. Qaisya pun tersenyum lagi, ia mengambil tasnya dan langsung pergi dari sana.
"Mau kemana kamu?" tanya bos.
"Mau pulang. . . " ucap Qaisya yang langsung pergi.
Bos itu pun hanya menghela nafasnya, ia sedang berpikir bagaimana caranya ia harus mendapatkan lukisan itu lagi, ia rasa itu sangat sulit untuk di lakukan.
Sore yang indah itu tak akan Qaisya sia-siakan, ia pergi ke pohon dekat jalanan, di sana anak jalanan sedang berkumpul. Qaisya langsung menghampiri mereka, tak lupa ia membawa makanan untuk anak-anak itu.
"yey. . . . kak Qaisya datang." Ucapnya senang.
"Hai pasti kalian kelelahan kan, sini kakak ada bawa makanan banyak." Ucap Qaisya senang.
"Hore. . . " ucap mereka gembira. Mereka pun langsung makan bersama di sana, anak jalanan sangat menyayangi Qaisya, bagaimana tidak, Qaisya selalu saja mengingat mereka, kebaikan Qaisya tak akan bisa mereka balas dengan sebuah benda atau sebagainya.
__ADS_1
_____________________
Pagi yang cerah, Qaisya berangkat kuliah pagi itu, ia belajar seperti biasa, selama di kampus Qaisya tak pernah punya teman dekat, ia hanya berteman selama di kampus tapi di luar tidak lagi, begitu juga dengan laki-laki, ia tak mau dekat dengan mahasiswa mana pun, Qaisya benar-benar menutup dirinya, ia memilih menjadi mahasiswi kupu-kupu.
Setelah pulang kuliah ia akan menghabiskan waktunya di rumah les, ia akan melukis sesuai mood nya setiap hari.
"Bagaimana pak, apa lukisan saya sudah di kembalikan?" tanya Qaisya saat ia sudah berada di rumah les, ia bertanya kepada bos saat berjumpa di sana.
"Jadi gini, semalam aku sudah memintanya dan dia marah-marah padaku. Cukup lama kami berdebat, tapi bagaimana pun aku tetap salah, jadi orang itu ingin kamu yang langsung ke sana, agar permasalahan ini lebih jelas, maaf kalau saya menyusahkan mu." Ucap bos itu merasa bersalah. Qaisya pun diam sejenak, ia tak menyalahkan bos seutuhnya, karena Qaisya juga salah, kenapa ia harus menaruh lukisan di sana, seharusnya Qaisya menyimpan lukisan itu agar tidak di lihat oleh orang lain.
"Baiklah pak, di mana alamatnya?" tanya Qaisya.
"Aku akan mengirimkannya lewat wa." Ucap bos. Qaisya pun langsung mengangguk. Setelah itu bos langsung pergi dari sana.
Qaisya mulai melukis lukisan yang belum ia siapkan sedari kemarin, ia sudah menemukan imajinasinya saat itu, setiap hari rumah lukis banyak di datangi kalangan pejabat atau pengusaha yang pecinta lukisan, hampir setiap hari lukisan banyak terjual di sana. Rumah lukis juga sudah di perluas, mereka yang belajar dan pelukis seperti Qaisya berbeda ruangan, di tempat Qaisya memang tempat khusus di kunjungi banyak orang.
Sore itu Qaisya menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah orang yang telah membeli lukisannya, bagaimana pun lukisan itu harus kembali untuknya. Jujur lukisan itu adalah lukisan terkhusus untuk Alva, lukisan yang menunjukkan bahwa Qaisya sangat merindukan sosok Alva di sampingnya.
Qaisya tak tau harus mengatakan apa pada satpam itu, karena ia tak tau siapa pemilik rumah itu.
"Pak kalau boleh tau ini rumah siapa?" tanya Qaisya kepada satpam yang ada di sana.
"Memang kamu mau cari siapa?" satpam itu tanya balik.
"Saya gak tau namanya pak, tapi yang jelas saya mau ambil lukisan saya di sini." Ucap Qaisya.
"Ooooo jadi mbak yang punya lukisan cantik itu?" ucap satpam itu.
__ADS_1
"Iya, emang bapak tau tentang lukisan saya?" Ucap Qaisya heran.
"Sini mbak, saya antar ke dalam sambil saya cerita." Ucap satpam itu, Qaisya pub mengangguk, ia langsung mengikuti langkah satpam itu.
"Mbak tau? bos saya semalam marah-marah akibat lukisan itu di minta balik, padahal bos saya membeli lukisan itu dengan harga yang mahal. Gara-gara itu saya juga kena imbasnya, saya malah di marah-marah juga." Ucap satpam itu cerita. Qaisya hanya diam, sebegitu suka kah orang itu pada lukisan Qaisya? sampai-sampai ia memarahi siapa pun yang ada di sekitarnya?
"Kenapa mbak malah mengambil balik lukisan itu, kan lukisannya sangat mahal." Ucap satpam itu.
"Lukisan itu sangat bermakna, tak mungkin aku menjualnya sembarangan, lagian juga lukisan itu di jual oleh bos ku tanpa sepengetahuan ku, mangkanya aku minta balik lukisan itu, walaupun harganya tinggi tetap saja aku tak ingin menjualnya." Ucap Qaisya.
"Wah. . . wah. . . Mbak hebat, tak tergiur dengan uang sebanyak itu." Ucap Satpam memujinya, Qaisya pun hanya tersenyum kaku.
Mereka langsung masuk ke dalam rumah itu, rumah yang sangat besar nan mewah, Qaisya melihat depan rumah megah itu.
"Mbak duduk di sofa dulu ya." Ucap satpam itu, Qaisya pun langsung mengangguk.
Ia duduk di sofa itu, ia melihat ke sekeliling ruang tamu itu, sangat bersih, rapi dan mewah.
"Rumah ini sangat indah." Qaisya kagum. Mata Qaisya tertuju lagi ke arah tempat yang ia belakangi tadi ia mengerutkan keningnya saat melihat lukisan yang terpajang di sana. Qaisya pun langsung mengubah posisi menatap ke arah lukisan itu. Ia memperhatikan lukisan itu dengan sangat teliti, sepertinya ia kenal dengan lukisan itu.
"Lukisan itu?" Qaisya bertanya-tanya. Kenapa lukisan itu ada di rumah besar itu? apa Qaisya kenal dengan si pemilik rumah.
Lukisan yang pernah ia lukis dengan tangannya sendiri, tidak mungkin ia lupa dengan lukisan itu, bahkan lukisan itu di beli oleh sosok pria yang sangat ia cintai, apa mungkin rumah itu milik si pria yang sangat Qaisya rindukan? Jantung Qaisya langsung berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Apa kamu yang bernama Qaisya?" tanya seseorang membuat Qaisya melihat ke arah sumber suara.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading