Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 30 : Namanya Afatar


__ADS_3

Qaisya sangat bersemangat pagi itu, alamat pun telah di kirim oleh pria yang ia belum kenal sama sekali, bahkan Qaisya lupa menanyakan siapa nama pria itu, sangking tak fokusnya karena mengingat Alva kemarin. Qaisya ke sana menaiki taksi, lukisan Qaisya jelas sudah di bawa ke sana.


Qaisya sampai di depan gedung yang sangat tinggi dan besar, Qaisya pun sangat takjub melihatnya, Qaisya terdiam sejenak di sana, ia tak tau harus kemana, karena ia belum pernah ke sini sebelumnya.


"Pasti tempat ini memiliki lift." Ucap Qaisya yang sangat takut dengan lift dan eskalator. Ia pun langsung menghubungi pria kemarin.


"Hallo mas, saya gak tau di mana tempatnya, saya sudah di depan ni." Ucap Qaisya.


"Baik tunggu di sana." Ucap pria itu. Pria itu pun langsung mematikan ponselnya. Tak perlu menunggu lama, pria itu pun telah tiba di sana.


"Ayo ikut aku." Ucap pria itu. Qaisya pun hanya mengangguk, ia mengikuti langkah pria itu.


Seperti tebakan Qaisya sebelumnya, kini mereka sudah berada di depan lift, jantung Qaisya merasa takut jika menaiki lift.


"Ayo masuk." Ucap pria itu sudah masuk, sedangkan Qaisya masih berdiri di luar.


"Saya takut mas hehehe." Ucap Qaisya langsung jujur. Pria itu pun langsung tersenyum, ia menarik pelan tangan Qaisya untuk masuk ke dalam lift.


"Jangan takut." Ucap pria itu yang langsung memegang tangannya, sontak Qaisya melihati tangannya yang di pegang pria itu, ia pun langsung melepas paksa tangannya dari genggaman pria itu.


"Kenapa? kamu bilang takut kan?" ucap pria itu.


"Iya pak, tapi gak usah di pegang hehehehe." Ucap Qaisya tersenyum kaku.


"Oh ya, maaf maaf." Pria itu minta maaf. Lift pun terbuka, saat Qaisya berjalan ia merasa sangat pening.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya pria itu tampak khawatir.


"Agak pening." Ucap Qaisya. Pria itu pun langsung terkekeh, jujur ia ingin tertawa sedari tadi tapi ia tahan takut akan menyinggung Qaisya.


"Itu hal yang biasa." Ucap pria itu, Qaisya pun hanya mengangguk.


Satu jam berlalu, Qaisya duduk di deretan orang-orang pelukis, ternyata di sana ada lelang lukisan terindah dan termahal. Ini baru pertama kalinya Qaisya datang ke acara besar seperti itu, ia di liatin oleh orang banyak karena penampilannya yang mungkin sangat buruk. Qaisya menyadari hal itu, tapi bagaimana pun ia harus tetap percaya diri.


Di tempat orang ramai pun Qaisya tetap mencari sosok Alva, berharap Alva ada di sana, mungkin dari sekian banyak pengusaha ada Alva di sana. Acara pun di mulai pembukaan yang membuat Qaisya sangat bosan di sana.


Acara lelang pun di mulai, banyak sekali lukisan yang indah di sana, bahkan harga-harganya sangat mahal, pelukis itu maju satu-persatu untuk menjelaskan maksud yang mereka lukis, yang jelas Qaisya juga sudah menyiapkan hal itu, ia akan berbicara di depan orang yang banyak dan hebat, jelas hal itu tidak membuatnya takut, karena biasanya ia suka berbicara di depan umum ketika di sekolah.


Tiba lah saatnya Qaisya maju, ia menghempaskan nafas kasarnya terlebih dahulu, setiap sepasang mata yang ada di sana langsung memperhatikannya, banyak yang merasa aneh dengan penampilan Qaisya yang mungkin buruk di mata mereka.


"Kenapa ada anak jalanan di sini? bukan kah ini acara lelang lukisan bukan jual koran atau sebagainya?" ucap seorang pria paruh baya.


"Apa maksud mu?" tanya Afatar bangkit dari duduknya.


"Dia anak jalanan yang biasanya menjual koran." Ucap pria itu, Qaisya langsung mengerutkan keningnya, sejak kapan pria asing itu tau kegiatan sehari-harinya?


"Jangan berbohong kamu, ini tempat umum." Ucap Afatar tak suka pada pria itu.


"Wahai Afatar kenapa kamu malah membelanya, dia pasti akan menjual koran di sini, atau bahkan ingin mengemis di sini. Panggilkan satpam untuk mengusir anak jalanan itu." Ucap pria itu memerintahkan satpam yang ada di sana.


Petugas keamanan yang ada di sana pun langsung naik ke atas panggung ingin mengusir Qaisya saat mengetahui Qaisya ternyata anak jalanan, yang lain hanya diam karena mereka tak tau yang mana yang betul.

__ADS_1


"Saya memang anak jalanan." Ucap Qaisya dengan suara yang tegas, saat petugas keamanan mendekatinya Qaisya langsung menjauh.


"Jangan sentuh saya dulu pak." Ucapnya dengan lembut. Petugas itu pun seketika mengangguk mereka langsung berdiri di belakang Qaisya.


"Aku memang anak jalanan, aku wanita yang hidup miskin di dunia ini, tapi bukan kah setiap orang itu berhak memiliki masa depan? bukan kah setiap orang itu berhak berusaha untuk masa depannya? tapi kenapa anak jalanan selalu di rendahkan seperti tadi, seolah-olah anak jalanan tidak berhak berada di sini. Walaupun pun saya tinggal di jalanan tapi saya masih punya otak, mana mungkin saya ke sini hanya untuk meminta sumbangan atau berjualan koran di sini." Ucap Qaisya terhenti sejenak, setiap orang di sana sedang melihat dan mendengarkan nya.


"Jika memang ada yang kurang suka aku di sini tidak masalah, aku akan keluar sebentar lagi, dan bapak. Jujur saya tidak mengenal siapa bapak, tapi entah kenapa bapak mempermalukan saya di sini." Qaisya diam sejenak.


"Aku ingin menjelaskan, bahwa aku memang anak jalanan tapi aku hoby melukis, aku suka melukis dari kecil, sekarang aku melukis lukisan yang menurut ku sangat indah. Lukisan yang berjudul Love Nature. Aku sangat mencintai alam yang segar nan indah, di dalam lukisan ku ini menceritakan kisah seorang gadis yang hidup di daerah pedesaan yang sangat indah, kehidupan yang sangat asri akan alam, dan damai akan kehidupan. Gadis yang selalu berkebun di atas perbukitan yang indah, gadis yang hidup sederhana dan rendah hati." Ucap Qaisya diam sejenak, orang yang ada di sana masih mendengarkan Qaisya walaupun lukisan Qaisya belum di perlihatkan oleh petugas.


"Mungkin hanya itu saja, maaf jika aku di sini membuat semua orang di sini tidak nyaman, saya pamit." Ucap Qaisya yang langsung pergi dari ruangan itu, semua orang di sana terdiam, berbeda dengan Afatar yang langsung mengejar Qaisya.


Setelah Qaisya keluar lukisan indah itu pun di perlihatkan oleh petugas, sontak semua yang ada di sana langsung terkejut melihat lukisan yang indah itu. Seorang kakek langsung berdiri saat melihat lukisan itu.


"Ini lukisan gadis tadi?" tanya kakek pada petugas.


"Iya pak." Ucap mereka.


"Hai petugas keamanan tolong kejar gadis tadi!!" ucap kakek itu dengan tegas.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2