Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 15 : Pantai


__ADS_3

Sarapan pagi tanpa suara, hanya ada suara benturan piring dan sendok makan. Mereka makan saling berhadapan tapi tak saling lirik-melirik.


"Setelah ini bersiap-siap lah, kita akan pergi ke pantai." Ucap Alva setelah selesai makan. Qaisya pun hanya mengangguk saja.


Entahlah Qaisya begitu bingung dengan Alva, ia merasa Alva orang yang aneh, pergi ke sini hanya untuk menemani lelaki itu untuk jalan-jalan saja. Tapi Qaisya tetap menuruti apa yang Alva katakan. Sebenarnya rasa kesal masih ada di hati Qaisya, tapi mana mungkin ia terus-terusan marah pada Alva yang dirinya pun membutuhkan ketenangan sesaat.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Qaisya hanya melihat ke arah luar kaca mobil, sudah lama ia tak menginjakkan kaki di pantai, ia pun pasti ingin menikmati suasana pantai. Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah pantai yang sangat indah, Qaisya sangat takjub melihat pantai itu.


"Wah. . . . indah sekali." Qaisya memujinya.


"Ayo." Ajak Alva dengan sebuah senyuman, Qaisya pun langsung mengangguk. Mereka bermain pasir sambil menikmati indahnya pantai itu, Qaisya merasa terhibur bisa berada di sana.


"Kakak emangnya kenapa sih? sampai-sampai pergi ke sini saja harus membawa ku?" ucap Qaisya memberanikan diri untuk bertanya, jujur sebenarnya banyak pertanyaan yang muncul di pikiran Qaisya sedari kemarin.


"Hati ku sedang tidak baik-baik saja." Alva langsung jujur.


"Apa karena teman kakak yang nikah itu? apa dia pacar kakak?" tanya Qaisya, pertanyaan yang terlalu mendalam, tapi Qaisya tetap ingin mengetahui hal itu.


"Setahun yang lalu ayah ku menjodohkan ku dengan anak sahabatnya, namanya Rinja, jujur awalnya aku tidak suka padanya, tapi seiring berjalannya waktu aku mulai jatuh cinta padanya, bahkan bisa di bilang di wanita satu-satunya yang ku cintai secara mendalam. Jujur aku sangat menyayanginya, rasanya aku tak bisa jauh darinya. Tapi apa lah daya, dia malah memutuskan hubungan kami hanya karena dia mengatakan bahwa dia tak mencintai ku. Berarti bisa di bilang setahun ini cinta ku bertepuk sebelah tangan. Bukan itu saja belum sampai sebulan putus ia memberikan surat undangan padaku, jujur undangan itu sangat menyayat hatiku. Aku tak pernah berpikir Rinja akan meninggalkan ku seperti itu." Alva bercerita, ia hanya memandangi langit yang biru.


Qaisya terdiam, cerita yang cukup menyedihkan, lebih menyedihkan lagi Qaisya merasa cemburu saat Alva menceritakan kisah cintanya dengan wanita lain, bahkan wanita itu mampu membuat Alva tak bersemangat menjalani hari-harinya.


"Berarti benar yang nikah kemarin itu mantan kakak?" tanya Qaisya memastikan lagi. Alva pun langsung mengangguk pelan.


"Apa kakak masih mencintainya?" tanya Qaisya dengan serius.


"Percuma jika aku mencintainya, di sudah milik orang lain. Aku akan berusaha untuk melupakannya walaupun sulit tapi aku yakin pasti bisa." Ucap Alva yang menyemangati diri sendiri.


"Aku yakin kakak pasti bisa. Jadi ni ceritanya kakak ke sini hanya untuk bersedih?" Qaisya menatap Alva serius. Alva langsung melihat ke arah Qaisya, manik mata yang cantik mampu membuat Alva tersenyum saat itu.

__ADS_1


"Jadi aku harus ngapain?" tanya Alva mengangkat salah satu alisnya.


"Hmmmm. . . bagaimana kalau kita main game?" tanya Qaisya.


"Game bagaimana?" ucap Alva yang mengubah posisi duduknya, kini ia menghadap ke arah Qaisya.


"Kita buat istana dari pasir, siapa yang duluan siap dialah pemenangnya." Ucap Qaisya menantang Alva.


"Kamu yakin ingin menantang ku membuat istana pasir hmm. . . " Alva memastikan lagi. Qaisya pun langsung mengangguk antusias.


"Kalau aku menang, aku akan dapat apa?" tanya Alva tersenyum tipis.


"Ada sesuatu yang akan ku berikan pada kakak." Ucap Qaisya ingin memberikan hadiah untuk Alva nantinya.


"Sesuatu apa?" tanya Alva penasaran.


"Oke deh."


"Nanti kalau aku yang menang kakak harus berlari di sini sampai 10 keliling." Ucap Qaisya dengan semangat.


"Okeh setuju." Alva langsung setuju. Mereka pun berjabat tangan menandakan bahwa kesepakatan mereka di setujui.


Menit berikutnya mereka pun mulai membuat istana pasir, hal yang sangat mudah bagi Alva, karena Alva sudah terbiasa membuat istana pasir jika berada di pantai itu. Dulu saat ibunya masih ada mereka sering berkunjung ke pantai itu, ibu Alva yang hebat membuat istana pasir, ia selalu mengajari Alva cara membuat istana pasir yang cantik.


Satu jam pun berlalu, Alva sudah menyiapkan rumah pasirnya, ia melihat ke arah Qaisya yang masih sibuk merakit menara istana pasirnya, ia pun hanya terkekeh melihat gadis itu yang sedang berusaha semaksimal mungkin.


"Aku selesai." Ucap Alva berdiri di hadapan Qaisya.


Qaisya pun kaget, ia langsung melihat ke arah istana milik Alva, sedari tadi ia fokus pada istananya sehingga tak melihat bagaimana cara Alva membuat istana pasir itu. Qaisya pun langsung tertegun melihat istana pasir yang sangat bagus, ternyata Alva sangat hebat membuatnya.

__ADS_1


"Bagus sekali." Qaisya memujinya.


"Kau belum mahir membuat istana pasir, jadi jangan coba-coba menantang ku ya." Ucap Alva melipat kedua tangannya di depan dada.


"Yah. . . aku kalah deh." Ucap Qaisya akhirnya mengakui kekalahannya. Alva pun langsung tertawa senang, ia senang bisa mengalahkan Qaisya saya itu.


Saat Alva sedang tertawa Qaisya pun langsung mengambil setumpuk pasir dan melemparkannya ke arah Alva, seketika tawa itu pun berhenti, ia melihat ke arah Qaisya yang mengejeknya.


"Wle. . . wle. . . kenak kan." Ucap Qaisya menjulurkan lidahnya mengejek Alva.


"Awas kamu ya." Ucap Alva yang langsung mengambil pasir juga. Terjadi lah kejar-kejaran di antara mereka, sesekali Qaisya pun berusaha melemparkan segumpal pasir yang arah Alva, berbeda dengan Alva yang terus melempar pasir itu ke arah Qaisya.


"Haaaaa. . . . sudah kak aku nyerah." Ucap Qaisya yang langsung terduduk di pasir, ia sudah tak kuat lagi berlarian kesana-kemari. Alva pun langsung duduk di samping Qaisya ia pun merasakan kelelahan.


Mereka pun langsung tertawa renyah, Anatar lelah dan senang sudah bercampur menjadi satu, Qaisya sangat merasa senang bisa bermain dengan Alva di sana, bagaimana pun rasa sukanya tidak bisa hilang dalam sekejap, ia juga tak menyangka bisa dekat dengan lelaki tampan seperti Alva.


"Mana hadiah yang mau kau berikan?" tanya Alva di sela-sela istirahat mereka.


"Nanti malam aku buat ya kak, besok akan ku berikan pada kakak." Ucap Qaisya menghela nafasnya.


"Emangnya kamu mau buat apa?" tanya Alva semakin penasaran.


"Ada deh, pokoknya besok kakak lihat sendiri." Ucap Qaisya sambil tersenyum. Alva pun akhirnya mengangguk. Setelah itu mereka pun memutuskan untuk kembali ke apartemen, sangat lelah sekali rasanya berlarian di bawah terik panas matahari.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2