Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 7 : Qaisya marah


__ADS_3

Sesampainya di rumah, qaisya langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lega rasanya permasalahan uang itu sudah selesai walaupun ia harus menjadi pacar kontrak si pria tampan itu.


"Kapan lagi coba aku bisa pacaran dengan orang tampan seperti dia." Ucap Qaisya sambil terkekeh.


Tut. . . Tut. . . Tut. . .


Ponsel Qaisya berbunyi, ia mengerutkan keningnya karena ada nomor baru yang menghubunginya, Qaisya pun langsung mengangkat telepon tersebut.


"Hallo? siapa?" tanya Qaisya.


"Aku Alva." Suara Alva terdengar dari seberang sana.


"Eh kak Alva ada apa?" tanya Qaisya sedikit heran.


"Tidak ada, aku hanya memastikan ini nomor ponsel mu." Ucap Alva.


"Mana mungkin aku kasih nomor ponsel orang lain." Ucap Qaisya.


"Aku hanya memastikan, kalau gitu saya matikan dulu." Ucap Alva yang langsung mematikan ponsel itu, padahal Qaisya ingin berbicara lagi.


"Hidih. . . main mati-mati in aja." Ucap Qaisya kesal.


Setelah magrib Qaisya bersiap-siap ingin berangkat kerja, kali ini ia berangkat bersama Celine sahabat baiknya.


"Jadi gimana, apakah dia setuju kalau kamu bayar cicil?" tanya Celine serius.


"Alhamdulillah gak jadi bayar." Ucap Qaisya senang.


"Hah kok bisa gitu?" Bagas kaget.


"Iya ternyata dia baik kok, dia hanya ingin aku ke sana untuk mengakui kesalahan saja. Dan ini uang mu Bagas terima kasih sudah membantu ku." Ucap Qaisya sambil tersenyum, ia menutupi semua tentang perjanjian kontrak antara dirinya dan Alva.


"Kok bisa gitu?" Celine masih heran begitu pun dengan Alva yang tak percaya dengan perkataan Qaisya.


"Kok kalian malah gak percaya sih, betulan aku gak jadi ganti rugi. Nih buktinya uang Bagas masih utuh." Ucap Qaisya.


"Tapi. . . "


"Sudah-sudah yuk kerja nanti di marahin bos." Ucap Qaisya langsung ke belakang ingin mencuci piring yang kotor. Celine dan Bagas masih saja merasa heran dengan perkataan Qaisya tadi, bagaimana mungkin ponsel semahal itu di pecahin tapi gak di ganti sama sekali.


"Kayak ada yang aneh." Ucap Bagas pelan, tapi suara itu masih terdengar di kuping Celine.

__ADS_1


"Sudah ah jangan di pikirin lagi." Ucap Celine yang langsung menyusul Qaisya di belakang.


____________________


"Jadi lo bakal pacaran sama bocil itu?" tanya Aldo tak percaya.


"Hmmm. . . iya, lagian juga cuma tiga bulan." Ucap Alva.


"Iya sih, tapi kan dia masih bocil banget, beda jauh banget sama umur lo." Ucap Aldo yang masih heran.


"Tidak masalah, aku malas mencari pacar pura-pura. Tapi kalau dia aku yakin langsung mau, dari pada dia bayar mahal." Ucap Alva yang tak mau ribet.


"Ya udah terserah lo aja deh." Ucap Aldo setuju dengan rencana Alva.


"Oke, gue pulang dulu ya bay." Ucap Alva pamit, Aldo pun hanya mengangguk saja.


______________


Qaisya sedang asik bercanda dengan teman sekelasnya saat pulang sekolah, hari yang sangat melelahkan, pelajaran matematika yang menguras otak di saat panas terik matahari. Qaisya kaget saat melihat sebuah mobil terparkir di depan gerbang sekolahnya, karena biasanya tidak ada yang berani memarkirkan mobil di sana.


"Mobil siapa tu?" tanya Reisa heran.


"Langsung samperin deh sana, gue mau ke parkiran dulu jemput motor gue." Ucap Reisa.


"Tenang aja, gua luan ya." Ucap Qaisya pamit, reisa pun hanya mengangguk saja.


"Assalamualaikum pak." Ucap Qaisya mendekati mobil itu, kaca mobil itu di tutup sehingga Qaisya tak tau bagaimana bentu wajah di pengendara mobil tersebut, saat mengucapkan salam tidak ada yang menjawab salam itu.


"Pak? pak tolong di geser mobilnya dari sini, teman saya yang bawa motor susah untuk keluar." Ucap Qaisya memperingati si pemilik mobil. Sama seperti tadi tidak ada respon apa-apa dari dalam mobil.


"Pak? saya mohon pindahkan mobil bapak!!" dengan suara tegas Qaisya memperingati orang itu, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari dalam mobil.


"Pak!! tolong hargai saya di sini, tolong geser mobil bapak!!" ucap Qaisya dengan suara yang sedikit lantang, ia mulai kesal dengan pemilik mobil itu, sedari tadi qaisya berbicara tapi tak di respon oleh siapa pun, siswa dan siswi yang ada di sana pun langsung menoleh ke arah Qaisya.


"Pak!!" Qaisya kesal.


"Ada apa? di mobil itu tidak ada orangnya, kenapa kamu marah-marah?" ucap pak Agus mendekati Qaisya. Seketika Qaisya pun langsung menoleh ke arah sumber suara, betapa terkejutnya Qaisya saat melihat pak Agus dan seorang pria yang sangat ia kenali berada di belakangnya.


"Pa. . . . pa. . . pak Agus." Qaisya kaget.


"Kenapa kamu marah-marah?" tanya pak Agus.

__ADS_1


"Anu pak, mobil ini di parkir di sini, saya tak tau kalau di dalam itu tidak ada orang, karena teman-teman saya yang bawa motor susah keluar pak." Ucap Qaisya dengan jujur.


"Bagus, lihat Alva dia gadis yang sangat tegas bukan? dia OSIS di sekolah ini. " Ucap pak Agus yang sangat bangga pada Qaisya. Qaisya hanya menunduk karena malu di liat oleh Alva.


"Benar pak dia sangat tegas. Oh ya, maaf saya parkir sembarangan, sebentar saya pindah kan." Ucap Alva yang langsung menuju mobilnya, ternyata mobil itu milik Alva.


Apa yang di lakukan Alva di sekolah Qaisya dan kenapa dia begitu akrab dengan pak Agus? pertanyaan itulah yang sekarang muncul di pikiran Qaisya.


"Ya sudah Qaisya kamu sudah bisa pulang, saya mau balik ke kantor." Ucap pak Agus.


"Baik pak." Ucap Qaisya. Siswa dan siswinya mulai pulang satu-persatu, berbeda dengan Qaisya yang masih kaget dengan kehadiran Alva.


"Qaisya." Panggil seseorang. Qaisya pun langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Visa ke sini sebentar?" tanya Alva, tanpa berpikir panjang Qaisya pun langsung menghampiri Alva.


"Naik ke mobil ku." Ucap Alva.


"Mau kemana?" tanya Qaisya.


"Ingat kamu adalah pacar kontrak ku, jadi ikut saja." Ucap Alva mengingatkan kembali perjanjian mereka. Tanpa berpikir panjang Qaisya pun langsung naik ke dalam mobil tepat di samping Alva. Alva melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Bagaimana sekolah mu hari ini?" tanya Alva basa-basi.


"Melelahkan, pelajaran matematika." Ucap Qaisya jujur saja.


"Kau tak suka matematika?" tanya Alva lagi.


"Kurang suka." Ucapnya.


"Ngapain kak Alva berada di sekolah ku?" tanya Qaisya langsung to the poin.


"Tadinya aku ingin menemui om Agus, guru mu atas nama pan Agus adalah om ku. Dan aku baru tau kau sekolah di sana, bahkan kau seorang OSIS." Ucap Alva melihat sekilas ke arah Qaisya.


"Oooooo gitu." Ucap Qaisya singkat.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2