
Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan, sebulan kemudian, qaisya tetap berusaha untuk melakukan yang terbaik, ia sudah mulai mahir melukis, ia sangat bahagia bisa belajar di sana. Walaupun terasa lelah ia akan tetap semangat untuk belajar dan bekerja. Ia belajar setengah hari, setengah hari lagi Qaisya menghabiskan waktu di restoran milik Alva.
Pukul 12 siang, orang pun mulai pulang satu per satu. Qaisya juga mengemasi barangnya dan ingin pulang saat itu. Saat berjalan keluar Qaisya kaget saat melihat seorang pria yang tengah berdiri menghadap ke arahnya.
"Hai Qaisya cantik." Ucap Alva dengan senyuman.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Qaisya mendekati Qaisya yang ada di sana.
"Ingin menjemput mu." Ucap Alva. Qaisya pun hanya tersenyum tipis.
"Silahkan masuk." Ucap Alva membuka pintu mobil itu, Qaisya pun langsung masuk ke dalam mobil.
Selama sebulan kebelakang Qaisya dan Alva semakin dekat, bahkan Alva tak segan-segan memanggil Qaisya dengan sebutan sayang, berbeda dengan Qaisya walaupun ia menyukai Alva tapi ia tetap menggunakan akal logikanya, mana mungkin ia bersama Alva seorang lelaki tampan dan kaya, lagian mereka juga hanya pacar kontrak saja.
"Besok libur, mau jalan?" tanya Alva saat mereka berada di dalam mobil.
"Jalan kemana?" tanya Qaisya tak melihat ke arah Alva.
"Ya kemana saja, aku yakin pasti kamu lelah." Ucap Alva ingin membawa Qaisya pergi berlibur.
"Gak perlu kak, Qaisya gak ngerasa capek kok." Ucap Qaisya bohong, padahal ia merasa sangat kelelahan.
"Kenapa? kenapa setiap aku ajak jalan kamu tidak mau?" tanya Alva heran, sudah beberapa kali Alva mengajak Qaisya berlibur setiap hari libur, tapi Qaisya selalu menolak. Qaisya terdiam sejenak, ia tau besok tanggal berapa, dan ia masih ingat dengan tanggal itu.
"Ya udah deh kak." Ucap Qaisya akhirnya setuju dengan ajakan Alva.
"Nah gitu dong." Ucap Alva tersenyum. Mereka pun sampai di restoran, sebelum bekerja Qaisya dan Alva pun memutuskan untuk makan siang dulu. Hampir setiap hari Alva menjemput Qaisya dan mengantarnya untuk bekerja, tapi sudah dua hari kebelakang Alva sibuk tak bisa menemani Qaisya.
Awalnya Alva menganggapnya hanya sebagai adik, awalnya tak ada rasa sama sekali, kini mulai tumbuh benih-benih cinta di dalam hatinya, Alva pun tak menyangka ada seseorang yang bisa menggantikan posisi Rinja, tapi jujur saja sampai saat ini rinja masih saja menghantui pikirannya, tapi tidak dengan perasaan, hati Alva sudah mulai terukir nama Qaisya di sana. Qaisya mampu membuat dirinya terhibur selama tiga bulan kebelakang ini.
____________________
__ADS_1
"Duh duh sayangnya nenek pasti lelah ya." Ucap nenek menyambut kepulangan Qaisya, Qaisya pulang mengendarai taksi karena Alva sibuk sore itu. Qaisya kembali ke rumah pukul 8 malam.
"Iya nek lelah." Ucap Qaisya jujur. Nenek pun tersenyum, ia langsung membuatkan teh hangat untuk Qaisya.
"Nih di minum dulu." Ucap nenek memberikan teh itu pada Qaisya.
"Makasi nek." Ucap Qaisya sambil tersenyum.
"Cucu nenek sudah besar ya, sudah bisa cari uang sendiri, sudah kerja sampai malam. Cucu nenek hebat." Ucap nenek memuji Qaisya.
Qaisya pun langsung memeluk nenek yang ada di sampingnya, pelukan itu membuat rasa lelah Qaisya hilang seketika. Mata nenek pun berkaca-kaca.
"Tanpa nenek aku bukan lah siapa-siapa. Qaisya sangat berterima kasih pada nenek yang sudah mau membesarkan Qaisya dengan penuh kasih sayang." Ucap Qaisya yang masih memeluk nenek. Nenek pun mengelus lembut rambut Qaisya, tak ada sama sekali penyesalan telah membesarkan Qaisya, malah nenek sangat bersyukur akan kehadiran Qaisya.
"Kita harus bersyukur nak, nenek butuh Qaisya dan Qaisya pun butuh nenek. Kita sama-sama orang yang kehilangan." Ucap nenek meneteskan air mata. Qaisya langsung kembali duduk seperti semula, ia menatap nenek yang tengah menangis.
"Nenek hebat." Ucap Qaisya menghapus air mata nenek, air mata yang membuat Qaisya sedih setiap menatapnya.
"Qaisya akan selalu ada untuk nenek, seperti dulu nenek selalu ada setiap Qaisya menangis karena kelaparan." Ucap Qaisya pun ikutan menangis. Nenek langsung memeluk Qaisya lagi, tak ingin rasanya berpisah dengan Qaisya sampai kapak pun.
Qaisya mengajak nenek liburan juga pagi itu, tapi nenek menolak, karena nenek ingin menghadiri acara majlisan di masjid di kampung itu. Nenek pun melambaikan tangan saat mobil Alva mulai menjauh dari pekarangan rumahnya.
"Kita jalan kemana?" tanya Alva.
"Terserah." Ucap Qaisya singkat.
"Hmmmmm. . . . terserah bagaimana? atau kita ke pantai lagi?" Alva sangat merindukan pantai.
"Boleh boleh." Ucap Qaisya sangat semangat.
Mereka pun sampai di pantai, Qaisya menghirup udara yang sangat segar di sana, ia sangat merindukan pantai begitu pun dengan Alva.
__ADS_1
"Wah. . . kak Qaisya ingin bermain air laut." Ucap Qaisya tak sabaran. Alva pun langsung menarik tangan Qaisya dengan lembut, berlari kecil di pinggir pantai mengingatkan Alva pada sebuah lagu yang sangat di sukai oleh ayahnya.
Mereka pun duduk di pasir menghadap ke arah pantai, tak lupa Qaisya memakai topi pantainya agar tidak kepanasan.
"Jadi pengen nyanyi." Ucap Alva.
"Kak Alva bisa nyanyi, wah Qaisya kok gak tau. Nyanyi lah kak." Ucap Qaisya tak tau kalau Alva bisa menyanyi.
"Asal kamu tau, dulu saat aku masih SMA aku bercita-cita ingin menjadi artis, tapi ayah ku tak mengizinkannya karena tak ada pewaris untuk bisnisnya. Dengan terpaksa aku meninggalkan cita-cita ku itu." Ucap Alva menceritakan masa dulunya.
"Apa kakak juga suka seni?" tanya Qaisya penasaran.
"Aku suka menyanyi, aku juga suka musik seperti gitar, piano, drum. Dulu aku juga sama seperti mu osis di sekolah, dulu aku juga sering memenangkan perlombaan." Ucap Alva bercerita dengan bangga.
"Wah. . . berarti kakak idaman banyak wanita dong." Tebak Qaisya. Alva pun langsung mengangguk.
"Tapi dari dulu kakak gak ada pacaran, karena tidak ada yang cocok, mereka hanya melihat kelebihan ku saja tanpa melihat kekurangan ku. Aku tak suka orang yang seperti itu." Ucap Alva yang selalu serius jika memilih pasangan.
"Berarti selama hidup kakak, kakak hanya berpacaran dengan kak Rinja?" tanya Qaisya lagi. Alva pun langsung mengangguk.
"Setahun kebelakang memang dia bisa mewarnai setiap hari ku, bahkan ketika putus aku tak yakin bisa mendapatkan penggantinya. Terkadang aku juga heran ternyata dugaan ku dulu salah, ternyata masih ada wanita yang bisa menggantikan rinja dalam hati ku." Ucap Alva tersenyum ke arah Qaisya.
"Siapa dia kak?" tanya Qaisya penasaran.
"Kamu." Ucap Alva dengan senyuman.
Deg. . .
Hampir saja jantung Qaisya copot saat mendengar pernyataan itu, bagaimana bisa seorang Qaisya bisa menggantikan posisi Rinja?
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading