Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 29 : Kak Alva kemana?


__ADS_3

Hari yang sangat cerah, Qaisya menunggu Alva di depan rumah lesnya, ia keheranan saat tidak mendapati Alva di sana, biasanya Alva selalu lebih awal menjemputnya dan jika Alva tak sempat pria itu pasti akan mengabarkan Qaisya saat itu.


"Kak Alva kemana?" Qaisya bertanya-tanya. Qaisya berpikir mungkin Alva terkena macet atau ada hal yang mendadak. Qaisya pun memutuskan untuk meninggalkan Alva sebentar di sana.


Setengah jam pun berlalu, Alva tak kunjung datang, Qaisya berpikir mungkin Alva sedang sibuk, tapi kenapa dia tak memberi tahu Qaisya? akhirnya Qaisya memilih memesan ojek untuk pergi ke restoran.


_________________________


"Ayah Alva mana?" ucap Rinja pada ayahnya.


"Kenapa lagi sayang?" tanya ayah Rinja balik.


"Alva mana, kenapa dia tidak mengangkat telepon ku, aku sangat merindukannya." Ucap Rinja dari semalam menunggu Alva.


"Mungkin dia sedang sibuk." Tebak ayah Rinja.


"Biasanya dia selalu punya waktu untuk ku walaupun dia sibuk." Ucap Rinja yang merasa Alva sudah mulai berubah.


"Sudah lah." Ucap ayah Rinja.


"Pasti ini semua gara-gara gadis kotor itu, berani-beraninya dia merebut Alva dari ku." Ucap Rinja.


"Kamu harus sembuh dulu, setelah itu baru rebut kembali Alva dari wanita tak tahu diri itu." Ucap ayah Rinja yang selalu mendukung Rinja. Rinja pun langsung mengangguk dan tersenyum.


______________________


Sampai sore hari Alva belum muncul juga, banyak pertanyaan yang muncul di pikiran Qaisya, apa Alva sakit? tapi kenapa dia tak menghubungi Qaisya?


Malam itu Qaisya pun pulang mengendarai taksi, ia masih saja melamun memikirkan Alva tadi, tidak biasanya pria itu seperti ini. Tak lama kemudian Qaisya pun sampai di rumah, nenek sudah menunggunya di depan rumah.


Qaisya langsung mencium punggung nenek, nenek agak keheranan saat melihat Qaisya pulang sendirian.


"Kok sendiri? Alva mana?" tanya nenek. Pertanyaan yang sama dalam otak Qaisya.


"Kak Alva lagi sibuk nek." Ucap Qaisya yang sebenarnya tak tau akan keberadaan Alva.

__ADS_1


"Padahal nenek sudah masak banyak." Ucap nenek kurang semangat.


"Oh ya? kebetulan Qaisya sangat lapar nek." Ucap Qaisya semangat, padahal ia sudah makan tadi tapi demi kesenangan nenek ia pun akan makan lagi.


"Benarkah? ayuk-ayuk nenek masak banyak ni." Ucap nenek kembali semangat, Qaisya pun langsung tersenyum lebar.


Setelah makan bersama nenek, Qaisya pun kembali ke dalam kamarnya, ia melihat ponselnya tidak ada pesan atau panggilan dari Alva. Karena merasa khawatir dan penasaran Qaisya pun langsung menghubungi Alva saat itu.


"Kenapa gak di angkat?" ucap Qaisya heran. Qaisya mencoba menghubungi Alva lagi, tetap saja tidak di angkat oleh Alva.


"Apa dia benar-benar sibuk?" ucap Qaisya bertanya-tanya. Qaisya mencoba menghubungi lagi, tapi hasilnya tetap sama tidak di angkat, akhirnya Qaisya pun memutuskan untuk istirahat malam itu.


_________________________


Hari itu kunjungan pengusaha-pengusaha besar ke rumah les lukis, Qaisya sudah mempersiapkan beberapa karya lukisan miliknya, ada 3 karyanya yang di kerjakan selama sebulan kebelakang, ia belum pernah mengatakan hal itu pada Alva, sebenarnya ia ingin memberitahu Alva kemarin tapi entah kenapa pria itu tak muncul, Qaisya sangat berharap pengunjung itu termasuk Alva, karena Alva adalah seorang pengusaha.


Orang-orang pun mulai berdatangan, Qaisya memperhatikan setiap orang yang masuk berharap ada Alva di sana, ia sangat semangat saat mencari sosok Alva.


"Hai nona." Ucap seseorang membuat Qaisya menoleh ke arahnya.


"Ini lukisan mu?" tanya orang itu. Qaisya pun langsung mengangguk.


"Wow. . . Amazing, lukisan yang sangat indah." Pujinya.


"Terima kasih." Ucap Qaisya sambil tersenyum.


"Siapa nama mu?" tanya nya lagi.


"Qaisya." Ucapnya.


"Baiklah Qaisya, lukisan mu sangat indah, bagaimana kalau lukisan ini kita lelang?" ucap pria itu sangat tertarik dengan lukisan Qaisya.


"Di lelang?" ucap Qaisya memastikan. Pria itu pun mengangguk.


"Bisa pak, terima kasih banyak sebelumnya." Ucap Qaisya ikut senang.

__ADS_1


"Pak? apa wajah ku setua itu?" ucap pria itu aneh.


"Eh. . maaf . . . ."


"Panggil mas saja.


"Maaf mas. . . " Ucap Qaisya tersenyum kaku.


"Baiklah berikan nomor ponsel mu padaku." Ucapnya. Qaisya pun langsung mengambil ponselnya, karena jujur saja Qaisya tak hafal dengan nomornya.


"Waw . . . kamu masih memakai ponsel itu nona?" ucap pria itu sangat sederhana.


"Selama masih bisa hidup, menurut ku tidak terlalu buruk memakainya." Ucap Qaisya.


"Yeah . . .benar itu." Ucap pria itu tersenyum. Qaisya pun langsung memberikan nomor ponselnya pada pria itu. Satu lukisan yang paling indah itu pun akan di lelang besok hari. Sedangkan dua lukisan lagi di beli oleh oleh sepasang keluarga pengusaha, jujur Qaisya sangat kaget saat mereka menawarkan lukisannya sebesar 20 juta, Qaisya mendapatkan uang sebanyak 40 juta hari ini, jujur rezeki yang tak pernah Qaisya duga. Di balik rasa senangnya Qaisya sangat sedih ternyata tidak ada Alva di antara pengusaha itu, ia masih bertanya-tanya kemana pria itu.


Hari pun berlalu, Qaisya tak ke restoran hari ini karena sibuk di acara rumah lukis, ia sangat kelelahan, saat keluar ia berharap ada Alva di sana tapi ternyata Alva tak menjemputnya hari ini. Qaisya melihat ke sana kemari mungkin Alva sedang bersembunyi memberikan surprise untuknya, tapi tetap saja Alva memang tak ada di sana.


"Kak Alva kemana? kenapa tidak menjemput ku? kenapa tidak menghubungi ku?" Qaisya merasa sedih. Dengan terpaksa Qaisya pun pulang dengan ojek, lagi-lagi nenek heran saat melihat Qaisya pulang sendirian.


"Pulang sendiri lagi?" tanya nenek. Qaisya pun mengangguk.


"Sepertinya kak Alva sibuknya lama nek." Ucap Qaisya dengan senyuman.


"Oh ya, nenek tau tidak?" ucap Qaisya dengan semangat. Nenek pun langsung menggeleng. Dengan semangat Qaisya pun menggandeng tangan nenek untuk masuk ke dalam rumah, di sana ia menceritakan kejadian hari ini, ia mendapatkan uang yang banyak, bahkan besok satu lukisannya akan di lelang di acara besar, jujur Qaisya sangat senang sekali. Berbeda dengan nenek yang agak terkejut mendengar nominal uangnya.


"40 Juta nak?" nenek masih tak percaya. Qaisya pun langsung mengangguk.


"Mana uangnya? nenek pengen lihat sebanyak apa uang 40 juta." Ucap nenek sangat penasaran.


"Belum nek, karena Qaisya belum punya ATM jadi uangnya masih di tempat buk rara." Ucap Qaisya mempercayakan uangnya berada di buk rara, guru les Qaisya. Nenek pun hanya mengangguk, ekspresi nenek masih tampak bingung dan kaget, bagaimana tidak seumur hidup nenek tak pernah punya uang sebanyak itu, bahkan nenek juga tak pernah menduga akan bisa melihat uang sebanyak itu, yang nenek sangat bangga pada Qaisya. Qaisya memang anak yang hebat.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2