
Alva menunggu Qaisya lagi di depan gerbang sekolah, kali ini Qaisya sengaja keluar cepat dari kelas, sebelum siswa yang lain keluar ia langsung lari menuju mobil Alva.
"Ayo kak ayo kak." Ucap Qaisya yang langsung masuk ke dalam mobil tanpa izin Alva.
"Kenapa lari-lari?" Alva heran, ia pun langsung masuk ke dalam mobil.
"Kenapa lari-lari?" tanya Alva menghidupkan mesin mobil itu, ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Takut di lihat siswa lain." Ucap Qaisya jujur saja.
"Emangnya kenapa kalau mereka liat?" tanya Alva lagi.
"Aku tidak suka." Ucapnya.
"Kenapa?" tanya nya lagi.
"Udah deh kak gak usah banyak tanya." Ucap Qaisya tak ingin memperpanjang lagi, alva pun hanya mengangguk saja.
Mereka pun sampai di rumah Aja, aja siap membantu Qaisya untuk berdandan yang rapi hari ini, karena Qaisya jujur saja ia tak terlalu paham dengan make up yang tak pernah ia pakai sama sekali. Hanya butuh 1 jam untuk membuat Qaisya berubah seratus persen.
"Pak sudah siap." Ucap Aja keluar dari dalam kamar, ia membawa Qaisya yang sudah siap ia dandani. Saat menatap gadis itu Alva terkejut, ternyata Qaisya begitu cantik dan manis di mata Alva.
"Baik terima kasih." Ucap Alva yang juga sudah siap sedari tadi. Alva dan Qaisya pun pamit pada Aja, mereka langsung masuk ke dalam mobil. Di dalam perjalanan hening tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah hotel yang sangat mewah, banyak orang yang sudah berdatangan, sepertinya Alva dan Qaisya datang terlambat. Acara yang sangat besar nan mewah membuat Qaisya takut untuk masuk ke dalam.
"Kak aku takut masuk ke dalam." Ucap Qaisya canggung.
"Tidak masalah, kita hanya sebentar saja di sana." Ucap Alva yang langsung menggenggam tangan Qaisya.
"Jangan di lepas ya." Ucapnya lagi. Jantung Qaisya pun berdetak lebih kencang dari biasanya, ini pertama kalinya tangannya di pegang oleh seorang lelaki yaitu Alva. Qaisya sangat deg-degan, bagaimana tidak tangan mungilnya itu di genggam erat oleh pria tampan. Mereka pun masuk ke dalam, Qaisya kembali canggung saat melihat banyak sekali orang di sana.
Alva pun menuntun Qaisya untuk makan terlebih dahulu, Qaisya hanya mengikuti langkah Alva saja.
"Hai Alva." Sapa seseorang saat Alva dan Qaisya tengah makan di sana. Alva pun langsung bangkit dan bersalaman dengan orang yang sudah pasti ia kenal.
"Wah. . . kamu sudah punya pacar baru Alva?" Ucap ayah Rinja.
__ADS_1
"Iya pak, lagian juga saya dan Rinja tidak berjodoh." Ucap Alva melihat ke arah pelaminan.
"Betul yang di katakan Rinja kau laki-laki yang tidak baik." Ucap ayah Rinja tersenyum sinis ke arah Alva.
"Maksudnya?" tanya Alva dengan raut wajah yang heran.
"Tidak ada. Silahkan nikmati hidangan yang ada di sini." Ucap ayah Rinja tersenyum, setelah itu ia pun pergi dari sana. Alva masih menatap heran ke arah pria paruh baya yang baru saja berbicara dengannya tadi.
"Kak kenapa?" tanya Qaisya canggung.
"Ah . . . tidak ada. Silahkan makan." Ucapnya. Mereka pun melanjutkan makan bersama. Qaisya dan Alva menikmati beberapa pertunjukan yang ada di sana, qaisya sangat terhibur pastinya, sedangkan Alva yang hanya diam saja sedari tadi, sesekali ia melirik ke arah pelaminan, wajahnya datar tanpa ekspresi membuat Qaisya sangat penasaran dengan isi hati pria tampan yang ada di sebelahnya saat ini.
"Kita berfoto dulu, setelah itu kita pulang." Ucap Alva tanpa melihat ke arah Qaisya, ia pun langsung mengangguk.
Alva langsung menarik tangan Qaisya, ia menggenggam erat tangan wanita itu, jantung Qaisya semakin berdebar tak karuan.
"Hai Alva, terima kasih sudah hadir di acara pernikahan ku." Ucap Rinja dengan senyuman tulusnya.
"Oh ya, kamu bareng siapa?" tanya Rinja sedikit menyelidik.
"Dia pacar ku." Ucap Alva tersenyum sinis ke arah Rinja. Rinja sontak kaget melihat Alva datang dengan seorang wanita, tapi Rinja yakin pasti Alva belum bisa melupakannya. Setelah berfoto bareng mereka pun langsung keluar dari hotel itu.
"Kak kenapa hanya diam saja?" tanya Qaisya saat Alva tidak menghidupkan mesin mobil itu. Alva menatap sekilas ke arah Qaisya setelah itu suara mobil pun mulai terdengar. Qaisya tak berani berbicara banyak saat perjalanan pulang, melihat raut wajah Alva yang begitu datar, ia takut jika Alva akan marah.
Tiba-tiba Alva menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah danau yang kecil, danau itu berdekatan dengan jalan raya. Alva mematikan mesin mobilnya, ia hanya menatap kosong ke arah danau itu. Hal tersebut jelas membuat Qaisya bingung, ada apa sebenarnya dengan Alva? banyak pertanyaan yang mulai muncul di pikiran Qaisya, mulai dari seorang lelaki yang mereka temui saat di hotel tadi, diam-diam Qaisya mendengar percakapan keduanya.
Mereka hanya terdiam di sana, qaisya pun tak berani bertanya atau pun bersuara, ia takut Alva akan marah padanya.
Alva menatap kosong ke arah danau yang tenang itu, hatinya terasa hancur saat melihat orang yang ia cintai bersanding dengan lelaki pilihannya. Air mata pun terjatuh tanpa permisi ke anggota tubuh yang lain, qaisya terkejut melihat Alva yang menangis tapi ia tak berani bertanya sama sekali.
Suasana yang sepi dan adem sangat cocok bagi Alva menangis di dalam mobil, ia tak menghiraukan Qaisya yang keheranan di sana. Air mata itu terus menetes tanpa henti sampai suara ingus Alva pun mulai terdengar ke telinga Qaisya.
Qaisya yang baik hati mendekatkan tisu ke arah Alva.
"Kak. . . kakak kenapa?" tanya Qaisya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Alva tak menjawab, ia hanya sibuk menangis dan mengelap ingusnya. Karena pertanyaan tak kunjung ada jawaban akhirnya Qaisya pun memilih untuk diam saja.
Setengah jam mereka sudah di sana, qaisya mulai bosan tidak dengan Alva yang masih menangis sampai matanya sembab.
__ADS_1
"Sudah siap nangisnya?" qaisya sudah sangat bosan, ia sangat kesal dengan Alva saat ini.
"Belum, aku masih menghayati nangis ku." Ucap Alva mulai bersuara.
"Idih lama banget nangisnya." Ucap Qaisya kesal.
Ide pun mulai muncul di pikirannya, qaisya mengambil ponsel Alva yang tergeletak di sana, ia pun langsung memutar lagu dengan judul "Tak segampang itu".
"Hiks. . . hiks. . . hiks. . ." tangis Alva mulai bersuara saat Qaisya memutar lagu itu, sontak Qaisya langsung terkejut lagi, bagaimana bisa seorang pria yang tampan malah menangis seperti anak kecil. Hal itu membuat Qaisya senyum-senyum sendiri, ia ingin tertawa lepas tapi takut Alva akan marah.
Lagu itu pun habis tapi tudak dengan tangisan Alva yang semakin deras.
"Tak segampang itu, ku mencari pengganti mu. . . " qaisya mulai mengulangi lagu yang baru ia putar.
"Tak segampang itu ku menemukan sosok seperti dirimu. . . "
Alva langsung melihat ke arah Qaisya dengan tatapan yang tajam, qaisya pun langsung menatap Alva dengan tatapan menyelidik. Tangis Alva berhenti sekejap saat melihat Qaisya, tiba-tiba ingus pun keluar lagi dari hidung Alva. Qaisya yang melihat itu pun langsung tertawa lepas. Qaisya tak bisa lagi menahan tawanya, alva menangis lagi saat melihat Qaisya tertawa bukan sedih tapi malu akibat ulah ingusnya yang keluar tanpa permisi.
"Jangan tertawa!!" ucap Alva dengan suara yang tegas. Seketika Qaisya pun berhenti tertawa, ia melihat ke arah luar jendela untuk menghentikan tawanya.
Satu jam pun berlalu, alva tak menangis lagi. Masih dengan raut wajah yang sama seperti tadi datar dan hanya diam saja.
"Kak plis lah, aku sangat bosan di sini." Qaisya sudah tak tahan lagi menunggu di sana.
"Kenapa kau menertawai aku?" tanya Alva dingin.
"Ingus kakak keluar, siapa coba yang gak tertawa." Ucap Qaisya yang langsung terkekeh lagi.
"Tidak sopan." Ucap Alva.
"Biarin, lagian juga ngapain kakak nangis-nangis gak jelas." Ucap Qaisya menatap sekilas ke arah Alva.
"Kamu masih Bocil, mana tau tentang cinta." Ucap Alva.
"Idih. . . ya memang gitu sih hanya kakak saja yang tau cinta." Ucap Qaisya dengan ekspresi mengejek Alva.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading