
Qaisya sangat kelelahan hari itu, ia masih di restoran sebentar lagi ia akan pulang karena sudah malam.
"Kak, kakak tau gak pak Alva kemana?" tanya Qaisya pada Kirana, Kirana juga karyawan di sana.
"Kamu tanya ke aku? hai hai kan dia itu pacar kamu." Ucap Kirana heran.
"Jujur kak, sudah seminggu lebih kak Alva gak keliatan." Ucap Qaisya curhat.
"What? kok bisa gitu?" Kirana kaget.
"Itu yang gak tau kak, di hubungi juga tidak di angkat." Ucap Qaisya merasa kecewa.
"Gimana kalau kamu ke rumahnya?" Kirana memberi ide.
"Tapi. . . "
"Ya udah gini, aku antar ke sana sekarang gimana?" ucap Kirana ingin menemani Qaisya.
"Ya udah yuk." Ucap Qaisya kembali semangat. Setelah selesai bekerja, mereka pun langsung berangkat mengendarai motor milik Kirana, tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah itu, anehnya rumah itu seperti tidak ada penghuni.
"Ini betul rumahnya? kok sepi?" ucap Kirana merasa aneh.
"Ini betul rumahnya kak." Ucap Qaisya tak mungkin lupa dengan rumah itu, Qaisya mendekati gerbang itu, ternyata di kunci.
"Di kunci kak." Ucap Qaisya.
"Apa tidak ada satu orang pun di rumah?" tanya Kirana.
"Sepertinya tidak ada, ya udah kita pulang aja kak." Ucap Qaisya tak ingin berlama-lama merepotkan Kirana. Kirana pun mengangguk, mereka langsung pulang saat itu.
______________
__ADS_1
Hari berganti hari, sebulan sudah berlalu kehidupan Qaisya mulai membaik, ia juga sudah bisa mengendarai motor, walaupun pun terkadang Qaisya masih takut, seperti janji Afatar, ia membelikan motor Qaisya dan mengajarinya setiap hari weekend. Tapi Qaisya belum berani mengendarai motor ke rumah les atau pun ke restoran, ia masih mengendarai motor di dekat rumahnya saja. Yang jelas Qaisya sangat berterima kasih kepada Afatar yang sudah banyak membantunya.
Hari ini tiba-tiba bos restoran mengadakan rapat untuk semua karyawan, yang jelas kami bertanya-tanya ada apa sebenarnya ini.
Mereka pun rapat di ruangan yang ada di restoran itu, semua sudah berkumpul di sana, ini haru pertama kalinya Qaisya mengikuti rapat di sana, karena biasanya tidak pernah rapat di sini.
"Maaf menganggu waktu kalian." Ucap bosnya.
"Sebelumnya saya mau tanya, apa kalian pernah melihat pak Alva? atau Qaisya apakah kamu pernah berjumpa pak Alva beberapa Minggu ini?" tanyanya. Sontak semua mata yang ada di sana langsung menoleh ke arah Qaisya.
"Tidak pak, saya tidak pernah mendapat kabar darinya." Ucap Qaisya yang selalu menunggu kehadiran alva lagi. Semua orang di sana keheranan, padahal Qaisya adalah pacarnya, semua karyawan di sana tau jika Qaisya dan Alva punya hubungan khusus, karena mereka selalu melihat kedekatan antara keduanya.
"Kamu juga tidak mendengar kabarnya? aneh sekali, selama sebulan ini aku memantau rumah pak alva dan rumah itu tidak ada penghuni, setiap aku menghubunginya juga tidak pernah di angkat, bahkan beberapa hari lalu sudah tidak aktif." Ucap bos itu. Qaisya pun terkejut, ia pikir Alva tidak menemui Qaisya lagi lantaran Alva tak cinta lagu ke Qaisya, tapi ternyata bos restoran pun tak mendapatkan kabar Alva, kemana sebenarnya Alva pergi? Qaisya semakin khawatir akan keadaan Alva, ini bukan sesuatu lelucon konyol.
"Hanya itu saja isi rapat kita pak?" tanya salah satu dari mereka.
"Itu termasuk, saya yakin kalian tau sendiri, selama kebelakang ini restoran kita tidak ramai pembeli, bahkan modal yang ada pada saya sudah habis, pak Alva tidak bisa di hubungi, sepertinya restoran kita harus ditutup sementara." Ucap bos itu terlihat sedih. Semua yang ada di sana pun langsung kaget, kalau restoran itu di tutup kemana lagi mereka harus bekerja?
"Tidak, bahkan aku sudah mengeluarkan uang ku untuk modal, dan tetap uang saya juga tidak kembali sampai saat ini, jika pak Alva kembali aku akan kabari kalian." Ucap bos itu dengan ekspresi sedih.
Mau tidak mau mereka yang ada di sana harus berhenti sementara, semoga saja Alva cepat kembali agar semua berjalan dengan lancar lagi. Mulai hari itu juga restoran resmi di tutup, Qaisya pulang, ia tidak semangat lagu, kena ia harus mencari Alva dan apa yang telah terjadi dengan Alva?
________________
Keesokan harinya Afatar menyambut Qaisya dengan semangat di depan rumah lukis, sedangkan Qaisya tak bersemangat hari ini.
"Silahkan masuk nona." Ucap Afatar tersenyum, Qaisya pun langsung masuk ke dalam mobil itu.
"Kamu kenapa?" tanya Afatar saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku tidak bekerja lagi mas." Ucap Qaisya sedih.
__ADS_1
"Hah? tidak bekerja lagi, memangnya kenapa?" tanya Afatar heran.
"Kak Alva tidak ada kabar, restoran sudah tutup." Ucap Qaisya.
"Kak Alva?" afatar heran. Selama ini Afatar tau kalau Qaisya bekerja di restoran tapi ia tak tau bahwa Qaisya bekerja di restoran milik Alva. Qaisya pun langsung mengangguk.
"Jadi selama ini kamu bekerja di restoran Alva?" tanya Afatar, Qaisya pun mengangguk lagi.
"Dan alba tidak ada kabar, emang Alva kemana?" tanya Afatar semakin heran.
"Tak tau, emang mas kenal kak Alva?" tanya Qaisya.
"Sangat kenal." Ucap Afatar.
"Oh ya, mas tau keberadaan kak Alva saat ini?" tanya Qaisya dengan antusias.
"Aku memang kenal dia, tapi sudah lama aku tak berhubungan dengan dia." Ucap Afatar. Qaisya yang tadinya riang pun kini kembali tak bersemangat, tak ada petunjuk apapun yang bisa membawa ia bertemu Alva.
Afatar mengantarkan Qaisya sampai ke rumah, bahkan Afatar singgah sebentar berbincang dengan nenek, nenek cukup senang melihat Afatar yang baik dan sopan santun, setelah Afatar pulang tinggallah Qaisya dan nenek di ruang tamu.
"Afatar baik juga, apa kamu tidak mau buka hati untuknya? sepertinya dia juga menyukai mu." Ucap nenek merasakan hal itu.
"Nenek apa-apa an sih." Ucap Qaisya tak suka. Nenek pun langsung terkekeh, ia hanya bercanda, ia tau bagaimana rasa cinta cucunya itu terhadap Alva.
"Jadi gimana? Qaisya masih sedih juga? dari pada sedih terus gimana kalau Qaisya lanjut kuliah?" tawar nenek, Qaisya pun langsung menatap heran ke arah nenek.
"Insya Allah dengan usaha baru nenek, nenek sanggup untuk membiayai kuliah Qaisya." Ucap nenek serius. Selama sebulan sudah nenek membuka usaha, uang milik Qaisya ia serahkan semua pada nenek, tidak menyia-nyiakan kesempatan nenek pun langsung membuka warung nasi besar-besaran, bahkan ia juga sudah memiliki beberapa karyawan. Selama sebulan juga banyak pengunjung yang datang, karena masakan nenek tak bisa di ragunan lagi, sangat lezat pastinya dan masakan nenek sudah sangat terkenal di daerah itu. Qaisya hanya terdiam, ia belum memikirkan hal itu sebelumnya.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
__ADS_1
Happy Reading