Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 22 : Hari yang tak terlupakan


__ADS_3

"Maksudnya?" tanya Arjana bingung.


"Orang tua Qaisya tidak tau di mana, dia juga tidak tau di mana kedua orang tuanya berada." Ucap Alva terus terang. Arjana terdiam sejenak, ia melihat ke arah sang putra.


"Selama wanita itu bisa membuat mu bahagia, ayah akan setuju." Ucap Arjana dengan lembut. Alva tersenyum saat mendengar perkataan ayahnya itu. Entah kenapa hati Alva terasa tenang dengan jawaban ayahnya itu. Setelah berbincang hal itu, arjana pun kembali ke dalam kamarnya.


Alva tersenyum ke arah langit, entah kenapa hari ini adalah hari yang tak akan pernah ia lupakan, hatinya terasa sangat senang, andai ibunya kini berada di sini pasti ia akan menceritakan semuanya pada sang ibu.


"Mah, entah kenapa hari ini aku sangat senang sekali. Aku sudah mendapatkan gadis cantik lagi ma, dia sangat sederhana dan cantik. Semoga saja dia bisa menjadi pasangan yang terbaik untuk ku." Ucap Alva yang terus-terusan tersenyum ke arah langit malam.


________________________


Qaisya memandangi langit kamarnya, sesekali ia senyum sendiri mengingat kejadian tadi, entah kenapa ia masih tak menyangka bisa menjadi pacar Alva, kali ini tidak ada lagi hubungan kontrak tapi hubungan yang serius. Qaisya tersenyum lagi, ia masih mengingat bagaimana raut wajah Alva saat menyatakan cinta padanya, tatapan itu selalu membuat Qaisya tersipu malu.


"Apa benar dia mencintai ku? kalau benar aku sangat beruntung sekali." Ucap Qaisya tersenyum lagi. Hari ini hanya ada senyuman di bibir Qaisya, ia sangat berharap untuk kedepannya ia juga selalu tersenyum seperti hari ini, begitu pun dengan alva. Qaisya ingin Alva bisa bahagia saat bersamanya.


Tiba-tiba perut Qaisya terasa lapar, ia pun langsung bangkit dari tidurnya langsung ke Arab dapur, Qaisya melihat nenek yang tengah menikmati secangkir teh di dapur.


"Nenek belum tidur?" tanya Qaisya mendekati nenek.


"Belum, kamu belum tidur juga nak?" tanya nenek balik.


"Qaisya lapar nek, Qaisya mau masak Indomie." Ucap Qaisya yang langsung mengambil bahan yang ia perlukan.


"Nenek juga mau." Ucap nenek. Qaisya pun langsung mengangguk. Setelah masak, mereka pun langsung makan bersama di dapur.


"Tadi main kemana sama Alva?" tanya nenek.


"Ke pantai nek." Ucap Qaisya sambil makan.


"Bagaimana caranya nak Alva bisa suka sama kamu?" tanya nenek penasaran.


"Nenek kok nanya gitu?" ucap Qaisya menatap serius ke arah nenek.


"Kita orang miskin nak, tidak akan ada orang yang mau dekat sama kita. Eh tiba-tiba kamu pacaran sama anak orang kaya, sebenarnya nenek sangat terkejut." Ucap nenek yang terkadang kurang percaya dengan Alva.


"Entah lah nek, Qaisya pun tidak tau." Ucap Qaisya menutupi bagaimana caranya ia bertemu dengan Alva.


"Yang jelas Qaisya harus jaga diri ya, nenek gak mau kamu kenapa-napa. Jika dia berani merendahkan mu bahkan berani berprilaku kasar padamu, putus kan saja, yang jelas nenek tidak mau kamu kenapa-napa." Ucap nenek yang selalu mengkhawatirkan Qaisya.


"Iya nek, itu pasti." Ucap Qaisya. Setelah makan mie, mereka pun langsung kembali ke kamar masing-masing. Qaisya merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia mulai menutup matanya berhadap dunia mimpi segera ia jelajahi.

__ADS_1


_____________________


"Hai, apakah hari mu baik?" tanya Alva saat Qaisya keluar dari kelasnya. Qaisya pun langsung tersenyum.


"Baik, bagaimana dengan kakak?" tanya Qaisya.


"Baik juga." Ucap Alva membuka pintu mobil untuk Qaisya.


"Ini untuk mu sayang." Ucap Alva memberikan bunga mawar untuk Qaisya saat berada di dalam mobil.


"Untuk ku?" tanya Qaisya kaget. Alva pun langsung mengangguk sambil tersenyum.


"Terima kasih kak." Ucap Qaisya terlihat senang.


Alva pun mengantarkan Qaisya ke restoran setelah itu ia pun kembali ke kantor, siang itu Alva tak bisa menemani Qaisya makan siang hari ini.


"Hai tuan muda." Ucap Aldo menyambut kedatangan Alva di dalam ruangannya.


"Ada apa?" tanya Alva dingin.


"Gak ada sih, Lo tau kabar gak?" ucap Aldo mulai membuka cerita.


"Kabar apa?" tanya Alva membuka ponselnya.


"Kenapa emang?" ucap Alva dingin.


"Suaminya ke tangkep pengedar tit. . . . " ucap Aldo dengan berbisik. Alva pun langsung melihat ke arah Aldo, ia mengangkat satu alisnya heran.


"Trus apa hubungannya dengan ku?" tanya Alva serius.


"Buset dah, gak seru banget lo di ajak cerita." Ucap Aldo kesal.


"Lagian juga itu kan bukan urusan gue, mau dia kaya dengan uang haram pun gak saya peduli." Ucap Alva benar-benar ingin menghilangkan jejak Rinja dari kehidupannya.


"Sepertinya lo udah move on ya?" tebak Aldo. Alva pun langsung mengangguk pelan.


"Wis. . . hebat banget loh." Ucap Aldo memujinya. Alva pun hanya tersenyum tipis.


"Kan lo juga yang nyuruh gue move on." Ucap Alva mengingat kejadian beberapa bulan lalu.


"Iya juga yah."

__ADS_1


___________________________


"Kita jalan dulu?" tanya Alva saat mereka berada di dalam mobil. Qaisya pun langsung mengangguk antusias. Setelah menjemput Qaisya, Alva ingin mengajak Qaisya jalan malam itu.


"Kak." Ucap Qaisya.


"Hmmm. . . " Alva menoleh ke arah Qaisya.


"Besok nenek ulang tahun, apa kakak mau menemani Qaisya membeli kado?" ucap Qaisya ingin memberikan hadiah pada nenek.


"Wow nenek ultah? kalau boleh tau berapa umur nenek?" tanya Alva sangat penasaran.


"58 tahun kak." Ucap Qaisya.


"Oooooo. . . ya sudah ayo kita beli kado, oh ya kamu mau beli apa?" tanya Alva.


"Mukena sama pakaian aja kak." Ucap Qaisya hanya mampu membeli itu. Alva pun langsung mengangguk.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di mall, mereka sedang memilih mukena yang cocok untuk nenek.


"Ini aja deh kak." Ucap Qaisya sudah menemukan mukena yang sangat ia sukai.


"Baiklah, sini aku yang bayar." Ucqp Alva ingin membayar ke kasir.


"Jangan kak, aku saja yang membelinya. Aku ingin nenek bisa menikmati gaji mu selama ini, aku ingin menunjukkan pada nenek kalau aku sudah bisa mandiri kak." Ucap Qaisya tak ingin selalu merepotkan Alva. Alva pun akhirnya terdiam, ia tau bagaimana perjuangan Qaisya mengumpulkan uang untuk membeli kado ini.


"Ya sudah." Ucap Alva pun mengalah. Setelah berbelanja, mereka pun duduk di taman kota, malam itu taman sangat ramai sekali.


Mereka duduk sambil makan makanan pinggir jalan, malam ini tampak cerah sekali, bintang dan bulan setia menemani langit malam. Mereka makan sambil memandang indahnya malam.


"Malam yang sangat menyenangkan bukan?" ucap Alva. Qaisya pun langsung mengangguk, bagaimana tidak senang, ada Alva di sana yang menemaninya.


"Besok pekerjaan ku padat, maaf jika aku tidak bisa menjemput mu." Ucap Alva sibuk bekerja.


"Tidak masalah kak, malah Qaisya sangat berterima kasih pada kakak." Ucap Qaisya yang selalu merepotkan Alva.


"Jaga diri baik-baik ya." Ucap Alva. Qaisya pun langsung mengangguk.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2