
Malam yang di penuhi bintang-bintang, Qaisya masih belum tidur pukul 2 malam, ia masih membuat hadiah untuk Alva malam itu. Alva tak tau kalau Qaisya belum tidur sampai tengah malam.
"Huh. . . akhirnya selesai juga." Ucap Qaisya merasa kelelahan, ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul 3 pagi, Qaisya terkejut karena ia tak sadar sudah mengerjakan lukisannya selama 7 jam lamanya. Tadi sore ia sengaja pergi ke toko terdekat untuk membeli alat yang ia butuhkan untuk melukis sesuatu, yang jelas lukisan itu hadiah untuk Alva.
Qaisya pun langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, badannya mulai pegel akibat kelamaan duduk, matanya juga sudah terasa panas. Ia menutup matanya secara perlahan tak butuh waktu lama untuk Qaisya tertidur lelap.
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, alva baru pulang dari kantor milik kawannya, tadi pagi ia tak sempat berpamitan dengan Qaisya ia juga tidak sempat sarapan pagi.
Alva melihat apartemen itu masih sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, di mana Qaisya? kenapa gadis itu tidak muncul saat Alva membuka pintu apartemen itu.
tok. . . . tok. . . tok. . .
Alva mencoba mengetuk pintu kamar Qaisya, tapi tak ada jawaban apa-apa. Alva mencari Qaisya ke dapur dulu, tidak ada siapa-siapa di sana.
"Qaisya." Panggil Alva dari depan pintu kamar Qaisya, sama seperti tadi tidak ada sautan dari dalam.
Alva pun langsung membuka pintu itu, ternyata tidak di kunci sama sekali. Alva kaget saat membuka pintu kamar itu, kamar yang sangat berantakan karena Qaisya tak sempat membereskan semua peralatannya tadi malam.
Alva juga melihat seorang gadis yang masih tertidur pulas di atas ranjang, Alva pun langsung mendekat ke arah ranjang itu. Alva di kaget kan lagi dengan sebuah lukisan yang amat indah, Alva langsung terpana melihat lukisan yang ada di kertas karton yang sangat besar itu.
Lukisan laut yang luas, di bawah terik matahari ada sepasang lelaki dan perempuan yang tengah kerjar-kejaran di pantai, bisa di bilang itu kejadian kemarin saat di pantai. Seketika Alva langsung tersenyum melihat lukisan itu, ia tak menyangka Qaisya memiliki bakat melukis. Alva mendekati lukisan itu, ada tulisan kecil di sana.
"Laut dan langit yang indah, kau lihat lelaki yang sedang mengejar ku ini sedang tidak baik-baik saja. Hatinya sedang hancur akibat cinta. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menemaninya di pantai yang indah ini. Untuk kak Alva jangan bersedih, aku yakin kakak adalah orang yang hebat." Ucap Alva membaca tulisan kecil itu.
Alva langsung tersenyum dan terharu, Qaisya sangat memperhatikan dirinya, Qaisya begitu perhatian pada Alva. Alva bisa menebak bahwa lukisan itu pasti hadiah untuk dirinya karena kemarin sudah menang membuat istana pasir.
"Loh kak Alva." Ucap Qaisya kaget saat terbangun dari tidurnya. Alva juga ikutan kaget, sontak ia langsung melihat ke arah Qaisya yang baru bangun.
__ADS_1
"Kakak ngapain di sini?" tanya Qaisya.
"Aku baru keluar tadi, lihat ini sudah jam 10 pagi, kenapa kamu belum bangun?" ucap Alva yang menatap ke arah Qaisya. Qaisya pun terdiam sejenak, ia melihat ke arah lukisan yang ada di belakang Alva.
"Yah, pasti kakak dah lihat lukisan itu." Ucap Qaisya dengan nada yang putus asa.
"Kenapa emang?" tanyanya.
"Tidak suprise lagi." Ucap Qaisya yang langsung cemberut. Alva pun hanya tersenyum, ia langsung duduk di atas ranjang tepat di samping Qaisya.
"Kau tau, aku sangat terkejut saat melihat lukisan itu, lukisan yang sangat indah. Aku tak pernah menyangka kau akan membuat itu untuk ku. Jadi, kamu semalam mengerjakan itu?" tanya Alva dengan serius. Qaisya pun langsung mengangguk pelan.
"Aku mengerjakannya sampai pukul 3 pagi, mangkanya aku telat bangun kak." Ucap Qaisya jujur. Tiba-tiba Alva langsung menarik hidung Qaisya dengan pelan.
"Aw. . . . " Qaisya kaget.
"Kenapa sampe begadang gitu? bagaimana kalau nanti kamu sakit? bagaimana kalau mata kamu juga sakit? kita berlomba kan hanya untuk kesenangan semata, kenapa harus memberikan hadiah yang bisa membuat dirimu sakit haaa." ucap Alva memarahi Qaisya. Seketika jantung Qaisya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, marah yang membuat Qaisya terpaku, sebegitu perhatian kah Alva padanya? sungguh Qaisya sangat bahagia.
"Jangan ulangi lagi, tidak baik melukis sampai tengah malam, nanti mata kamu jadi sakit. Dan aku ucapkan terima kasih banyak, terima kasih sudah memberikan hadiah yang sangat luar biasa." Ucap Alva tersenyum ke arah Qaisya. Senyuman yang sangat tulus, senyuman yang ingin selalu Qaisya lihat tiap harinya.
"Iya kak." Ucap Qaisya pun tersenyum.
"Ya sudah kamu mandi dulu deh, sebentar lagi kita cari makan di luar." Ucap Alva yang sebenarnya sudah lapar. Qaisya pun langsung mengangguk antusias. Alva pun langsung keluar dari kamar itu.
Alva duduk di balkon apartemen itu sambil menikmati secangkir teh yang baru ia buat, sembari menunggu Qaisya mandi ia pun duduk bersantai terlebih dahulu.
Entah kenapa hati Alva hari ini sangat senang, hadiah yang di berikan Qaisya mampu membuat dirinya senyum-senyum sedari tadi. Bahkan Alva juga mengingat kejadian yang kemarin, bercanda tawa bersama Qaisya di pantai.
__ADS_1
"Hmmm. . . dia mampu membuat ku tersenyum gak jelas kayak gini." Ucap Alva terkekeh sendiri.
Tak lama kemudian Qaisya pun keluar dari dalam kamar, ia sudah siap mandi dan mendekati Alva yang tengah duduk bersantai di balkon.
"Sudah siap kak." Ucap Qaisya dengan penampilan yang sederhana. Alva pun langsung bangkit dari duduknya, ia tersenyum ke arah Qaisya.
"Ayuk." Ucapnya. Qaisya pun langsung mengangguk.
Selama di perjalanan mereka hanya mendengarkan musik yang di putar oleh Alva, lagi-lagi lagu yang ia putar mampu membuat hatinya terasa tenang dan bahagia. Mereka pun sampai di tempat makan yang sangat populer di kota itu, mereka langsung makan sepuasnya di sana.
"Kapan kita pulang kak?" tanya Qaisya setelah mereka selesai makan.
"Besok." Ucap Alva singkat.
"Oh ya, kakak betulan sudah ke tempat kerja ku?" tanya Qaisya lagi.
"Iya, aku katakan padanya kau tak kerja lagi di sana. Jadi kamu berkerja sama bersama ku." Ucap Alva tak ingin Qaisya bekerja dengan orang lain.
"Kerja apa?" tanya Qaisya lagi.
"Kau bis kerja di kantor ku atau pun di restoran ku." Ucap Alva.
"Restoran?" ucap Qaisya.
"Iya, nanti deh kita bahas lagi okey." Ucap Alva tersenyum ke arah Qaisya. Qaisya pun hanya mengangguk saja. Setelah makan bersama mereka pun langsung berkeliling kota sambil mencari tempat yang cocok untuk duduk di sore nanti.
Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴
Happy Reading