Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 40 : Alva kembali


__ADS_3

Qaisya kaget saat melihat pria itu, tubuhnya lemas seketika, antara percaya tak percaya dengan penglihatannya saat ini, apa mungkin ia sedang bermimpi? atau ini adalah kenyataan.


Qaisya diam terpaku, matanya tak berkedip sedikit pun saat melihat pria yang ada di hadapannya, rasa kecewa, marah, rindu sudah tercampur menjadi satu, ia berharap ini bukan lah mimpi.


"Qaisya kan?" pria itu memastikan. Saat mendengar suara itu, air mata Qaisya pun terjatuh, matanya masih tak berkedip melihat pria itu. Mulutnya terasa kebas, tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun.


"Qaisya?" ucapnya lagi. Qaisya masih terdiam, memori kenangan indah mulai terputar kembali di dalam pikirannya, seakan-akan kenangan itu baru terjadi semalam.


"K. . . . kak. . . . . . Alva." Ucap Qaisya terbata-bata.


Alva pun langsung menatap mata Qaisya dengan berkaca-kaca, rasa rindu yang tak terpendam lagi, setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat sosok wanita yang sangat ia cintai.


Alva mendekati Qaisya, menegang kedua tangan mungil milik Qaisya, ia menatap mata Qaisya yang tengah menatap dirinya, Alva sangat merasa bersalah terhadap Qaisya.


"Qaisya kan?" Alva memastikan lagi. Qaisya pun langsung mengangguk, air matanya tak henti-hentinya mengalir.


Alva mengusap lembut pipi Qaisya yang di basahi air mata, hatinya terasa sakit saat melihat wanita kesayangannya menangis akibat dirinya.


"Ma. . . . ma. . . . maafkan aku." Ucap Alva pun menangis.


"Maaf kan aku." Ucap Alva mencium kedua tangan milik Qaisya, rasa bersalah yang Alva rasakan kini. Rasa rindu yang tak terbendung lagi, alva langsung memeluk Qaisya, seketika tangis Qaisya pun semakin kencang, ia menangis sesenggukan di dalam dekapan Alva. Antara percaya dan tak percaya kini ia berada dalam dekapan Alva.


Qaisya memukuli dada Alva, ia merasa kesal dengan lelaki yang ada di hadapannya ini, bagaimana tidak pria itu menghilang selama 2 tahun, bukan waktu yang singkat bagi Qaisya.


"Kenapa kakak ninggalin Qaisya, kenapa?" ucap Qaisya yang masih menangis sesenggukan. Tangannya tak henti-hentinya memukuli dada Alva, alva hanya pasrah, ia tau bagaimana rasa hati Qaisya saat ini.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucap Alva, tak ada kata lain selain kata maaf untuk Qaisya.


"Aku salah. . . aku salah. . . . maafkan aku." Ucap Alva menangis. Qaisya melepaskan pelukannya, ia menatap tajam ke arah Alva.


"Kenapa kakak ninggalin Qaisya? kenapa hah? apa kakak sudah menemukan wanita yang lebih kaya dan cantik? kakak janji gak akan ninggalin Qaisya, tapi buktinya apa kakak pergi tanpa kabar kan?" ucap Qaisya meluapkan semua emosinya.


"Iya aku salah, aku minta maaf." Ucap Alva lagi, ia ingin memeluk Qaisya lagi tapi Qaisya menolaknya.


"Maafkan aku. . . maafkan aku." Alva tak henti-hentinya meminta maaf. Qaisya yang kesal pun memilih untuk duduk di sofa, ia masih marah pada lelaki itu.


Qaisya menghapus air matanya, ia tak ingin terlihat terlalu lemah di hadapan Alva, bagaimana pun dia adalah wanita yang sangat kuat. Alva duduk di samping Qaisya, ia mendekati Qaisya secara perlahan. Hening, tak ada percakapan di antara mereka dalam beberapa menit.


"Aku minta maaf, bukan maksud aku meninggalkan mu, tapi ada satu dan lain hal membuat ku pergi dari mu, maafkan aku." Ucap Alva lagi. Qaisya langsung melihat ke arah Alva Yanga ada di sebelahnya, moodnya sudah mulai membaik, ia ingin tau apa yang terjadi pada pria itu.


"Kenapa kakak meninggalkan ku?" tanya Qaisya dengan serius.


"Sembuh? emang kakak kenapa?" tanya Qaisya semakin penasaran.


"Kecelakaan." Ucap Alva, sontak Qaisya pun langsung kaget.


______________________


2 tahun yang lalu.


Mata Alva mulai rabun, banyak darah yang ia lihat di hadapannya, suara orang teriak masih terdengar di telinga, banyak orang berteriak minta tolong untuk menyelamatkannya, menit berikutnya ia pun tak sadarkan diri.

__ADS_1


Saat sadar Alva terkejut saat melihat banyak alat Yang ada di tubuhnya, tubuhnya terasa sakit dan lemas, bahkan kini tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali.


"Ayah? ayah?" panggil Alva, ia langsung ingat ayahnya yang sedang sakit, ia melarikan ayah ke rumah sakit tapi sayangnya mereka kecelakaan, tak ada orang di ruangan itu membuat Alva meneteskan air mata, ia sangat khawatir akan keadaan sang ayah.


"Ayah?" ucapnya lagi. Sama saja tak ada orang yang datang ke sana.


"Qaisya." panggilnya, ia yakin pasti Qaisya akan mengkhawatirkan dirinya jika Qaisya tak mendapatkan kabar darinya. Menit berikutnya, seorang perawat pun datang ke ruangan itu.


"Aku di mana?" tanya Alva pada perawat itu.


"Alhamdulillah bapak sudah sadar, pak kita sudah berada di Singapura, bapak tidak sadarkan diri selama 5 hari, saya perawat dari Indonesia, yang di suruh untuk mendampingi bapak di sini." Ucap perawat itu, sontak Alva pun kaget mendengarnya, bagaimana bisa ia tak sadarkan diri selama 5 hari?


"Ayah ku mana?" tanya Alva.


"Pak Arjana juga sedang di rawat di sini, tapi ia sudah sadarkan diri dua hari yang lalu, pak Arjana banyak kehilangan darah di bagian kepala, begitu juga dengan bapak yang banyak kehilangan darah, bahkan kaki bapak juga patah tulang." Ucap perawat itu, tangis Alva pun langsung pecah, ia sangat kesal dengan dirinya sendiri, gara-gara dirinya ayahnya terluka bahkan ia juga ikut terluka. Perawat itu berusaha untuk menenangkan Alva saat itu.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti tahun. Penyembuhan Alva di lakukan di Singapura, selama dua tahun ini ia tinggal di sana bersama sang ayah, yang jelas biaya di sana tidak sedikit, Alva mengorbankan beberapa usahanya untuk biaya berobat, salah satunya restoran. Bahkan ponsel Alva pun tertinggal di kamar, ia tak bisa menghubungi Qaisya, selama setahun lamanya Alva masih merasa bersalah, ia tak mau bertemu Qaisya lantaran ia belum bisa berjalan, ia yakin jika Qaisya tau keadaannya pasti Qaisya akan meninggalkan dirinya.


Ia tak mau kehilangan Qaisya, ia mengatakan pada Aldo untuk tidak memberitahu Qaisya di mana dirinya, kantor juga Alva serahkan ke aldo karena dirinya yang belum bisa beraktivitas.


Selama penyembuhan di sana, alva merasa tersiksa, rasa rindu dan khawatir akan keadaan Qaisya, ia takut jika Qaisya akan pergi karena tak ada kabar darinya, tapi Alva juga takut jika jujur pada Qaisya bahwa dirinya sedang sakit tulang, bahkan tak bisa berjalan, ia yakin Qaisya pasti meninggalkannya. Alva terus berusaha untuk bisa sembuh, ia yakin ia akan bis bertemu dengan Qaisya di suatu hari nanti, ia selalu berdoa agar Qaisya tak di miliki orang lain selama ia penyembuhan, bahkan Arjana juga mengalami patah tulang, bedanya Arjana tidak bisa di sembuhkan lagi, berbeda dengan alva yang masih punya kesempatan untuk sembuh.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2