Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 6 : Kontrak 3 bulan


__ADS_3

"Apa kamu bilang?" alva menatap Qaisya dengan tatapan yang tajam, qaisya pun menelan saliva nya, sepertinya ia sudah salah ngomong.


"Hehehe maaf pak, maksud saya gini, saya kan orang miskin dan masih sekolah saya tak bisa membayar uang itu dalam satu tahap." Ucap Qaisya deg-degan.


"Kan sudah saya katakan saya tak peduli." Ucap Alva lagi. Qaisya pun langsung cemberut, ia tak tau harus bagaimana membujuk pria tampan itu agar di berikan keringanan untuk membayar hutang itu.


Menit berikutnya Qaisya hanya diam, ia sedang memikirkan dari mana ia harus membawa uang sebanyak itu, kalau nenek tau pasti nenek akan marah padanya.


"Saya akan memberikan kamu pilihan." Ucap Alva.


Qaisya yang asik melamun pun langsung melihat ke arah Alva yang tak menatapnya.


"Apa itu pak?" tanya Qaisya dengan penuh harap.


"Kamu tak perlu bayar sedikit pun kalau kamu mau menjadi pacar kontrak saya, selama tiga bulan." Ucap Alva melihat ke arah Qaisya.


"Hah!!" qaisya kaget.


"Hah heh hoh, apa kamu setuju?" tanya Alva serius.


"Saya? jadi pacar bapak? masak sih? monyet saja tak mau sama saya kok malah bapak ngajak saya jadi pacar kontrak?" qaisya masih tak percaya.


"Hai kamu hanya jadi pacar kontrak artinya tak ada perasaan apa pun di antara kita, kau membayar hutang mu dengan cara berpura-pura jadi pacar kontrak saya." Ucap Alva yang tak ingin ke bawa emosi.


Qaisya berpikir sejenak, ini mungkin kesempatan emas bagi dia, selain hutangnya lunas ia juga bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki pacar yang tampan walaupun Alva tak akan suka padanya.


"Aku pastikan lagi, berarti kalau saya jadi pacar kontrak bapak saya tidak ganti rugi kan?" tanya Qaisya dengan serius.


"Iya kamu tak usah membayar sepeserpun. Uang 13 juta yang kamu pinjam kembalikan saja orangnya." Ucap Alva.


"Hore. . . . " Qaisya langsung loncat-loncat bahagia, dari semalam ia tak tidur karena memikirkan hal ini, tapi syukurnya Alva memberikan ia kemudahan.


"Terima kasih banyak pak." Qaisya membungkukkan badannya ke arah Alva.


"Iya, mana nomor ponsel kamu?" tanya Alva.


"Ini pak cari saja di ponsel saya, yuhu saya sangat senang hari ini." Ucap Qaisya memberikan ponsel titut-titutnya pada Alva.

__ADS_1


Alva membolak-balik ponsel itu, ia tak pernah memakai ponsel seperti itu, ia melihat ke arah Qaisya yang kesenangan loncat-loncat.


"Hei, jangan loncat-loncat, mana nomor ponsel mu aku tak paham dengan ponsel ini." Ucap Alva sedikit kesal.


"Hah? bapak gak bisa pakai ponsel ini? jadi dulu bapak masa Bocil pakek ponsel apa?" qaisya kaget dengan pengakuan Alva, ia pun langsung duduk di samping Alva.


"Ponsel yang lebih besar, yang jelas aku tak pernah memakai ponsel itu." Ucap Alva lagi.


"Oh gitu ya,"


Qaisya pun langsung memberikan nomor ponsel pada Alva, menit berikutnya mereka kembali diam. Qaisya hanya mengotak-atik ponsel titutnya. Sedangkan pada juga fokus pada ponselnya.


"Oh ya satu lagi jangan panggil aku dengan sebutan bapak, saya bukan bapak-bapak." Ucap Alva.


"Jadi saya harus panggil apa?" tanya Qaisya.


"Terserah kamu." Ucap Alva tak ambil pusing.


"Panggil kakak? Abang? atau om?" ucap Qaisya bingung.


"Enggak ah, aku mau panggil kakak saja." Ucap Qaisya lebih suka memanggil Alva dengan sebutan kakak.


"Ya sudah terserah padamu." Ucap Alva. Menit berikutnya mereka kembali diam seperti tadi, qaisya tak tau lagi ingin berbicara apa, yang jelas tiba-tiba perasaan yang tadinya takut dan deg-degan kini malah hilang seketika.


"Kak? kakak gak mau ngusir aku?" tanya Qaisya tiba-tiba.


"Hah? ngusir?" Alva kaget.


"Iya, di usir kaya teman saya tadi." Ucap Qaisya tersenyum kecut.


"Kalau kamu ingin pulang ya silahkan, kenapa. harus di usir." Ucap Alva merasa Qaisya gadis yang aneh.


"Alhamdulillah, kalau gitu saya pulang kak." Ucap Qaisya, Alva pun hanya mengangguk.


Dengan semangat Qaisya pun pulang sambil membawa tasnya, ia sangat merasa lega bisa mengembalikan uang milik Bagas sebanyak 19 juta sedangkan 3 juta lagi tabungan miliknya.


Qaisya sudah sampai di depan gerbang milik Alva, ia tak tau harus pulang lewat mana, ia juga tidak hafal dengan jalan yang ada di sana.

__ADS_1


"Waduh, gimana cara pulangnya." Ucap Qaisya mulai bingung. Tiba-tiba sebuah mobil keluar dari pekarangan rumah Alva, qaisya pun langsung bergeser ke arah samping, mobil itu berhenti tepat di hadapan Qaisya, kaca mobil itu pun mulai terbuka.


"Mba ayo naik, saya di suruh pak Alva untuk mengantar mbak pulang." Ucap pria paruh baya itu.


"Saya?" qaisya tak percaya.


"Iya, ayo naik." Ucapnya. Dengan perasaan yang takut ia pun naik ke dalam mobil itu, ia duduk tepat di samping sopir itu. Tapi kalau ia tak naik mobil itu ia tak tau harus pulang dengan siapa.


"Mba siapanya pak Alva?" tanya pria itu penasaran.


"Bukan siapa-siapanya." Ucap Qaisya. Qaisya tak akan memberitahu siapa pun tentang perjanjian kontraknya dengan Alva.


"Oooooo tapi tadi kata pak Alva mba ini pacarnya." Ucap pria paruh baya itu.


"Hah? kak Alva bilang gitu?" tanya Qaisya tak percaya. Pria itu pun langsung mengangguk.


"Sudah mba gak usah di tutup-tutupi." Ucap pria itu. Qaisya hanya terdiam, ia masih tak percaya dengan perjanjian itu, di balik perjanjian itu juga sebenarnya banyak pertanyaan yang melayang di pikiran Qaisya, tapi yang jelas Qaisya tak berani bertanya jauh tentang perjanjian yang di buat oleh Alva.


"Pak saya berhenti di sini saja." Ucap Qaisya tak ingin di antar sampai depan rumahnya.


"Kenapa gitu?" tanya pria itu.


"Nanti nenek saya marah." Ucap Qaisya. sopir itu pun langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Terima kasih ya pak, saya pamit dulu." Ucap Qaisya sopan.


"Iya hati-hati mbak." Ucap sopir itu. Sopir itu tetap memperhatikan Qaisya dari jauh, ia pun turun dari mobil ingin mengikuti Qaisya pulang.


sopir itu membuntuti Qaisya dari kejauhan, ia ingin tau di mana rumah qaisya, yang jelas ini semua perintah dari Alva. Tak lama kemudian Qaisya pun masuk ke dalam rumah yang sederhana, kini sopir itu tau di mana rumah qaisya sekarang.


"Semoga saja gadis itu bisa meluluhkan hati pak Alva, semoga saja kontrak yang di berikan pak Alva berubah menjadi pasangan yang nyata." Ucap pria itu. Sopir itu tau semua tentang Alva, bahkan kontrak yang di buat oleh Alva juga di ketahui olehnya tapi tidak di ketahui oleh Arjana.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2