Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 43 : kalung


__ADS_3

Alva menceritakan kejadian dua tahun lalu, ia bercerita juga terakhir kali ia menghubungi Qaisya, jelas Alva tak meninggalkan Qaisya tanpa alasan yang pasti.


"Ya Allah nak, mana mungkin kami tak menganggap mu hanya karena kaki mu sakit." Ucap nenek sangat terharu.


"Mungkin aku yang terlalu so uzon nek, mohon maaf." Ucap Alva pun merasa bersalah.


"Kamu tau? Qaisya sangat merasa kehilangan saat kamu pergi." Ucap nenek.


"Iya nek, jujur Alva sangat merasa bersalah, oh ya nek, Qaisya nya mana?" tanya Alva yang sedari tadi tak melihat Qaisya.


"Bentar ya nenek panggilkan." Ucap nenek, Alva pun mengangguk. Tak lama kemudian Qaisya keluar dari kamar sendirian, sedangkan nenek memilih tetap di kamar, agar Qaisya dan Alva lebih leluasa untuk berbincang.


"Kak Alva ngapain malam-malam kemari?" tanya Qaisya duduk di sofa.


"Aku sangat merindukanmu." Ucap Alva sambil tersenyum, ia terus menatapi Qaisya membuat Qaisya salah tingkah.


"Ih kan masih ada hari esok untuk bertemu, lagian bisa telpon saja kalau perlu." Ucap Qaisya.


"Tidak puas, aku ingin langsung melihat mu." Ucap Alva tersenyum lagi. Jelas hal itu membuat Qaisya salah tingkah lagi.


"Oh ya, ada sesuatu untuk mu." Ucap Alva memberikan paper bag untuk Qaisya.


"Apa ini?" tanya Qaisya penasaran.


"Hadiah untuk mu, oh ya aku langsung pamit pulang ya. Sudah malam." Ucap Alva langsung ingin pamit. Qaisya pun langsung mengangguk. Ia mengantar Alva sampai depan pintu rumahnya.


Qaisya kembali ke kamar dengan perasaan bahagia, ia langsung membuka paper bag yang di berikan Alva, Qaisya kaget saat melihat isinya, ternyata kalung berlian, qaisya langsung loncat-loncat bahagia, ia sangat menyukai kalung itu.


Qaisya langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Alva yang mungkin masih dalam perjalanan pulang.


"Halo kak." Ucap Qaisya.


"Ini yang rindu siapa sih? padahal baru 5 menit yang lalu kita bertemu." Ucap Alva yang tengah menyetir mobilnya.


"Eeeee. . . . siapa yang rindu. Malah Qaisya mau bilang makasih banyak kalung nya cantik." Ucap Qaisya kegirangan.


"Kamu suka?" tanya Alva memastikan.


"Suka banget kak." Ucap Qaisya senang.


"Bagus lah, sudah tidur sana ya." Ucap Alva.

__ADS_1


"Siap kak." Ucapnya.


"Selamat malam, semoga mimpi indah sayangku." Ucap Alva sambil tersenyum.


"Se. . .. selamat malam juga sa-ya-ng-ku." Ucap Qaisya yang langsung mematikan ponselnya, antara malu dan salting sudah bercampur menjadi satu, Alva pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah Qaisya.


Qaisya merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia melihat langit-langit kamarnya yang indah. Ia masih memikirkan Alva, apakah lelaki itu bisa meluluhkan hati ayahnya untuk menerima Qaisya? yang jelas Qaisya sangat berharap akan hal itu, bagaimana pun ia sangat mencintai Alva begitu pun sebaliknya.


_______________________


"Ini undangan pernikahan ku Alva." Ucap Afatar yang menemui Alva, Afatar mendapat kabar bahwa Alva sudah kembali ke kantornya, yang jelas Afatar belum tau penyebab Alva hilang selama 2 tahun ini.


"Wah. . . wah. . . selamat bro." Ucap Alva ikut senang.


"Iya bro. Oh ya kamu kemana aja sih selama ini?" tanya Afatar penasaran. Alva pun langsung menceritakan kejadian 2 tahun silam, yang jelas Afatar sangat terkejut mendengarnya.


"Kenapa kau malah merahasiakan kabar mu itu?" tanya Afatar penasaran.


"Aku merahasiakannya karena aku takut pacar ku tidak menerima ku karena kaki ku yang mungkin tidak bisa berfungsi seperti semula." Ucap Alva.


"Pacar? trus kamu gak kasih kabar ke dia juga?" Afatar semakin penasaran. Alva pun langsung mengangguk.


"What? kamu terlalu bodoh bro. Trus sekarang apa dia akan menerima mu kembali?" tanya Afatar.


"Pikiran mu sama dengan ku bro, dulu juga aku berpikir dia gak akan menerima ku lagi karena aku meninggalkannya tanpa kabar, tapi nyatanya dia masih menunggu ku bro." Ucap Alva sangat bangga.


"Wow. . . dapet cewe tu di mana?" tanya Afatar sedikit terkekeh.


"Di jalanan bro." Ucap Alva tertawa.


"Serius?" Afatar.


"Iya, dia seorang gadis yang sangat sederhana, ia sangat suka bermain bersama anak jalanan, yang jelas dia masih bocil bro, tapi aku sangat menyayanginya. Dan satu lagi dia punya bakat melukis, dia gadis yang hebat." Ucap Alva selalu bangga menceritakan Qaisya kepada siapa pun.


"Melukis?" Afatar kaget. Alva pun langsung mengangguk.


"Kalau boleh tau siapa namanya?" tanya Afatar sangat penasaran.


"Qaisya." Ucap Alva.


Deg. . . .

__ADS_1


Nama yang pernah singgah di hati Afatar, nama yang selalu Afatar bangga-banggakan di hadapan siapa pun. Nama yang selalu membuat harinya berwarna, tapi semua itu berakhir kala Qaisya menolak cinta afatar, jujur saat itu Afatar merasa patah hati, tapi ia tak menunjukkan hal itu, walaupun di tolak ia tetap menemui Qaisya, cukup sulit kala itu Afatar untuk melupakan sosok Qaisya, sungguh gadis itu adalah gadis idaman bagi Afatar. Tapi, dengan berjalannya waktu akhirnya Afatar bisa melupakan Qaisya sedikit demi sedikit, hingga akhirnya Afatar menemukan seseorang yang benar-benar ia cintai.


"Selamat ya bro." Ucap Afatar kepada Alva.


"Selamat kenapa? kan gue belum nikah." Ucap Alva heran.


"Selamat, ternyata dia nungguin lo, dia gadis yang perlu lo jaga, jangan sia-sia kan dia. Dia gadis yang hebat." Ucap Afatar memuji Qaisya. Alva mengerutkan keningnya, ia merasa heran.


"Bentar-bentar lo kenal Qaisya?" tanya Alva penasaran.


"Gus gak mau sembunyi in apa pun dari lo, aku pernah dekat dengannya selama kau sakit, memang dia tak pernah menceritakan tentang mu kepada ku, bahkan cinta ku di tolak dengannya, aku yakin dia menolak ku karena dia sedang menunggu mu." Ucap Afatar tersenyum. Jelas hal itu membuat Alva kaget, seorang Afatar di tolak seorang gadis? bahkan gadis itu adalah Qaisya.


"Sejak kapan lo kenal pacar gue?" tanya Alva.


"Sudah sangat lama, tak perlu ku jelaskan padamu karena itu masa lalu ku, sekarang aku sudah menemukan teman hidup ku, jadi kau jaga Qaisya, dia sangat cocok dengan mu." Ucap Afatar lagi. Alva pun langsung mengangguk, walaupun di hati kecilnya, ia merasa cemburu mendengar Afatar pernah dekat dengan Qaisya, apalagi mereka dekat selama Alva di Singapura.


________________


"Ngapain Afatar kemari?" tanya Aldo saat Afatar telah kembali.


"Ngasih undangan." Ucap Alva.


"Wih. . . wih . . . hebat-hebat." Puji Aldo.


"Do, menurut lo Qaisya pernah nyari ini gue gak sih? selama gue di Singapura." Ucap Alva.


"Jelas lah, bahkan dia nyari in Lo kemari, trus gue usir." Ucap Aldo jujur.


"Hah?" Alva kaget.


"Kan lo yang bilang jangan sampai Qaisya mencari lo, jadi gue bilang sama dia gitu, tapi dia ngotot pengen jumpa lo, ya udah gue usir aja." Ucap Aldo. Alva pun langsung melayangkan satu pukulan untuk Aldo.


"Ya gak di usir juga begok." Alva kesal.


"Sekali doang, kapan lagi coba gue jahilin pacar Lo."Ucapnya merasa tak bersalah. Alva pun langsung ingin memukul Aldo lagi, tapi dengan cepat Aldo langsung lari dari ruangan alva.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2