Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 45 : "Cepat nikahi Qaisya!!"


__ADS_3

Hari berganti hari, hari itu tepat di mana Afatar akan menikah. Alva dan Qaisya hadis di acara itu, tak lupa mereka membawa kado untuk pengantin baru itu.


Mereka menghadiri cara itu dari awal hingga selesai, Afatar sudah banyak membantu Qaisya, jadi ia ingin melihat Afatar di hari bahagianya, Alva sudah mengetahui semua tentang Afatar dan juga Qaisya. Qaisya menceritakan bagaimana awalnya ia bertemu dengan Afatar, di dalam hati Alva jelas hal itu membuatnya cemburu, tapi bagaimana pun ia sangat ber terima kasih kepada Afatar yang sudah menjaga Qaisya dan juga membantu Qaisya, seharusnya Alva lah yang membantunya tapi apalah daya ia tak punya kesempatan untuk itu.


Pelemparan bunga dari kedua pengantin baru itu, tanpa di duga bunga itu jatuh ke arah Qaisya, Qaisya yang melihat itu pun spontan menangkap bunga itu, semua orang bertepuk tangan, Qaisya masih tak sadar bahwa bunga itu berada di tangannya.


"Ehemmm. . . mau pengen di nikahin langsung nih." Ucap Alva merayu Qaisya. Dengan spontan Qaisya melempar bunga itu dengan asal, membuat banyak orang tertawa melihat tingkah Qaisya, ia sangat malu saat mendengar suara Alva tadi, ia pun langsung berlari dari sana.


Alva yang tersenyum pun, langsung mengikuti Qaisya, ia duduk di pojok yang tak banyak orang, Alva pun langsung duduk di sebelahnya.


"Kenapa kabur?" tanya Alva.


"Aku malu kak." Ucapnya sangat menyesal menangkap bunga tersebut.


"Malu? ngapain malu." Ucap Alva heran, Qaisya pun hanya menatap tajam ke arah Alva.


_____________________


"Apa yang telah kamu lakukan kepada Anna?" tanya Arjana malam itu.


"Maksud ayah?" tanya Alva heran.

__ADS_1


"Anna tidak pernah datang lagi ke sini, dia juga tidak bisa di hubungi lagi, apa yang kamu lakukan padanya?" tanya arjana dengan tatapan yang tajam.


"Aku tidak melakukan apa pun padanya, mungkin dia yang ingin pergi sendiri." Ucap Alva tak suka dengan tuduhan ayahnya. Selama Alva kembali ke Indonesia, ia dan ayah tidak pernah akur lagi karena Alva tak mau meninggalkan Qaisya dan menolak pilihan ayahnya yaitu Anna.


"Aku yakin kau telah mengusirnya bukan?" ucap Arjana menyelidik.


"Mengusirnya? ayah apa-apaan sih, mana mungkin aku mengusir dia. Kalau memang ayah ingin tau tentang dia, ya ayah cari aja ke rumahnya." Ucap Alva yang langsung pergi dari sana, entah kenapa sekarang perkataan ayahnya banyak membuat Alva emosi, ia lebih memilih meninggalkan ayahnya dari pada ayahnya tersakiti hanya karena ia tak bisa menahan emosinya.


Arjana juga ikut kesal dengan putranya yang tak pernah nurut lagu kepadanya, ia ingin Alva seperti dulu yang selalu menuruti kemauannya. Setiap berjumpa dengan Alva yang ada hanya ada perselisihan di antara keduanya.


Saat di kamar Alva berusaha menghubungi Anna, ia benar-benar tak pernah mengusir wanita itu, Alva hanya ingin Anna sadar bahwa tempat yang tinggali tak layak untuknya, ia bertemu dengan Anna terakhir kali ketika malam itu.


Sesampainya di sana, Alva mengetuk rumah itu, pintu itu di buka oleh seorang wanita yang sangat Alva kenal, ia kaget saat melihat Alva mengetuk rumah itu.


"Kenapa kamu tidak pernah ke rumah lagi?" tanya Alva saat mereka duduk berdua di depan rumah Anna.


"Benar yang di katakan mas, rumah itu tidak cocok untuk ku, maaf kan aku mas yang terlalu menganggu mu." Ucap Anna minta maaf. Alva hanya diam.


"Kalau pun pak Arjana mencari ku, katakan saja padanya aku baik-baik saja, dan . . . . . aku tidak ingin berharap lagi kepada mas." Ucap Anna terus terang. Alva hanya diam lagi, ia ingin membiarkan wanita itu berbicara dulu.


"Mungkin hanya itu saja mas, sudah malam aku ingin istirahat." Ucap Anna ingin pamit.

__ADS_1


"Maaf menganggu waktu mu, dan terima kasih sudah merawat ku selama sakit." Ucap Alva tulus. Anna pun tersenyum, ia langsung masuk kembali ke dalam rumah.


Alva pulang saat itu, ia menemui sang ayah yang tengah duduk santai di samping kolam berenang.


"Dari mana kamu?" tanya arjana, karena tadi ia mendengar suara mobil Alva.


"Dari rumah Anna." Ucap Alva duduk di sana.


"Kenapa kamu ke sana?" tanya Arjana.


"Ingin memastikan kenapa dia pergi, dan jelas dia pergi bukan karena aku mengusirnya, tapi memang karena ia tak ingin berharap pada ku." Ucap Alva. Arjana terdiam, ia hanya menatap ke arah kolam.


"Dia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja."Ucap Alva lagi.


"Cepat nikahi Qaisya!!" ucap Arjana tiba-tiba.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2